Malam itu, jarum jam dinding baru saja menunjuk pukul delapan lewat sepuluh menit. Suara rintik hujan yang sesekali menghantam genteng menciptakan suasana monoton di dalam rumah yang mulai terasa semakin sempit bagi keluarga kecil tersebut. Zahra berdiri di dekat jendela ruang tengah, tangannya sibuk melipat kain lap kering, sementara matanya menerawang menembus kaca jendela yang buram karena uap air dari luar.
Tiba-tiba, gerakan tangan Zahra terhenti. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Di balik pagar bambu yang membatasi halaman depan dengan jalan setapak perkampungan, sebuah siluet berdiri tegak. Sosok itu mengenakan jaket gelap berkerudung tinggi, hampir menutupi separuh wajahnya. Yang membuat bulu kuduk Zahra meremang bukan hanya kehadirannya yang mendadak di tengah malam gerimis, melainkan arah pandangan sosok tersebut. Pria asing itu berdiri tanpa bergerak sedikit pun, seolah tengah mengawasi setiap gerak-gerik yang terjadi di dalam ruang tamu rumah mereka melalui celah-celah kaca jendela.
"Fathan... Fathan, kemarilah sebentar," panggil Zahra dengan suara tertahan, setengah berbisik, namun sarat akan kepanikan yang sulit disembunyikan.
Fathan yang sedang duduk di sofa sudut sambil memeriksa beberapa berkas pekerjaan mendongak. Ia mengerutkan kening melihat ekspresi pucat di wajah istrinya.
"Ada apa, Ra? Kamu seperti melihat hantu saja," tanya Fathan santai sambil meletakkan pulpen di atas meja kayu.
"Jangan bercanda, Fathan. Lihat ke sana. Di balik pagar bambu dekat pohon mangga," bisik Zahra semakin panik, tangannya menunjuk gemetar ke arah jendela. "Sudah dari tadi orang itu berdiri di sana, mengawasi rumah kita tanpa berkedip."
Fathan beranjak dari duduknya dengan langkah malas, mengira istrinya hanya terlalu lelah akibat pekerjaan rumah tangga seharian penuh. Namun, begitu ia mengarahkan pandangannya ke titik yang ditunjuk, senyum kecil di bibirnya seketika lenyap. Siluet itu nyata. Di bawah temaram lampu jalanan kampung yang berkedip-kedip redup, sosok berjaket gelap itu masih berdiri kaku, seolah sengaja menunggu sesuatu.
"Siapa di sana?!" seru Fathan spontan, suaranya meninggi memecah kesunyian malam. Ia melangkah cepat mendekati jendela, berniat membuka tirai lebih lebar.
Namun, begitu suara Fathan terdengar, sosok di balik pagar bambu itu langsung berbalik badan dengan gerakan cepat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria tersebut melangkah mundur, lalu berlari kecil menghilang ditelan kegelapan gang sempit di sisi kiri rumah mereka. Yang tersisa hanyalah cipratan air dari genangan jalan akibat langkah kaki yang terburu-buru.
Zahra langsung merosot ke sofa terdekat, kedua tangannya memegang erat ujung bajunya yang basah oleh keringat dingin. "Dia mengawasi kita, Fathan. Aku yakin itu. Ini bukan yang pertama kali. Kemarin lusa aku juga sempat melihat bayangan serupa melintas di samping sumur belakang."
Fathan terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak langsung menjawab, tetapi matanya menatap tajam ke arah luar jendela yang kini kosong. Suasana rumah yang tadinya hangat mendadak berubah dingin, diliputi ketidakpastian yang mencengkeram.
❖ ❖ ❖
Kepanikan seketika menjalar ke seluruh penjuru rumah begitu Fathan menceritakan apa yang dilihatnya kepada anggota keluarga yang lain. Yassir, yang sedang menyiapkan secangkir kopi di dapur, langsung meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga setengah isinya tumpah membasahi meja. Arka, anak sulung mereka yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di leher, menghentikan langkahnya di ambang pintu dapur.
"Apa maksudnya ada orang asing mengawasi rumah kita malam-malam begini?" tanya Yassir dengan nada suara tinggi, matanya menatap Fathan dan Zahra bergantian. "Jangan bilang kalian sedang memancing masalah dengan tetangga atau rentenir lagi?"
"Jaga bicara, Kak! Aku tidak pernah berurusan dengan rentenir seperti yang Kakak tuduhkan," balas Zahra sengit, suaranya bergetar karena emosi bercampur takut. "Aku hanya bilang ada orang asing yang mencurigakan di luar. Kenapa Kakak langsung menuduh yang bukan-bukan?"
"Sudah, jangan malah bertengkar di saat seperti ini," potong Arka tegas, menengahi ketegangan antara paman dan bibinya. Wajah pemuda itu menyiratkan ketegangan yang sama. "Yang penting sekarang keselamatan kita. Rumah ini terlalu terbuka. Siapa pun bisa masuk kalau hanya mengandalkan gembok pagar bambu yang sudah berkarat itu."
Tanpa menunggu persetujuan dari yang lain, Arka langsung bergerak cepat. Ia mengambil kunci inggris dan obeng dari kotak perkakas di bawah tangga. Dengan cekatan, pemuda itu memeriksa setiap gerendel pintu depan, memastikan kunci selot besi menancap dengan sempurna di tempatnya. Suara besi beradu nyaring di setiap sudut ruangan, menciptakan ritme ketegangan yang kian mencekam.
"Fathan, bantu aku mengunci jendela-jendela kecil di kamar belakang," perintah Arka tanpa menoleh.
Fathan mengangguk cepat. Ia meninggalkan Zahra yang masih terduduk lemas di ruang tengah. Bersama Arka, mereka menutup seluruh tirai rapat-rapat, memastikan tidak ada satupun celah yang bisa digunakan oleh mata-mata luar untuk mengintip aktivitas di dalam rumah. Suasana rumah mendadak terasa seperti benteng pertahanan terakhir yang sedang dikepung musuh tak kasat mata.
Yassir mendengus pelan sambil melipat tangan di dada. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah kesal. "Kalian semua terlalu paranoid. Bisa jadi itu hanya tukang rondalah, atau orang linglung yang salah alamat. Kenapa harus dibesar-besarkan sampai membuat seisi rumah panik begini?"