Jarum jam dinding di ruang tengah baru saja merayap menunjuk pukul empat lewat lima menit pagi. Suasana rumah terasa begitu sunyi, menyisakan desau angin malam yang perlahan-lahan mulai digantikan oleh dinginnya embun subuh. Di dalam kamar tidur utama yang sempit, Azalia membuka matanya perlahan. Napasnya terasa berat, bukan karena kelelahan fisik semata, melainkan karena beban pikiran yang tidak pernah benar-benar libur bahkan ketika ia tidur. Bayangan tumpukan tagihan, desas-desus tetangga, dan masa depan kelima saudaranya berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak yang terus berulang.
Azalia bangkit dari pembaringannya dengan sangat hati-hati, berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikit pun yang bisa membangunkan saudara-saudaranya. Ia tahu betul betapa lelahnya mereka hari-hari ini. Beban hidup telah merenggut ketenangan tidur dari rumah ini sejak beberapa bulan terakhir. Dengan langkah senyap, ia mengenakan jaket rajut usang miliknya dan berjalan menuju dapur.
Di dapur yang remang-remang, Azalia menyalakan lampu kecil di atas meja makan. Ia mengambil sebuah panci kecil, mengisinya dengan air bersih, lalu meletakkannya di atas kompor gas. Sembari menunggu air tersebut mendidih, tangannya meraih botol kaca kedap udara yang berisi biji kopi Robusta pilihan—peninggalan terakhir sang ayah yang masih tersimpan rapi. Aroma khas biji kopi yang pekat langsung menyeruak begitu tutup botol dibuka, membawa serta memori masa lalu ketika hidup mereka masih berada dalam garis kestabilan.
Azalia mengambil penggiling kopi manual berbahan besi tua. Ia memasukkan beberapa sendok biji kopi ke dalamnya, lalu mulai memutar tuas besi tersebut secara perlahan. Suara gesekan biji kopi yang pecah berderak pelan memecah keheningan pagi. Bagi Azalia, ritme putaran tangan ini adalah sebuah bentuk meditasi. Setiap gerakan memutar seolah meredakan denyut di pelipisnya, melarutkan sebagian kecil stres yang menumpuk di dadanya.
"Sudah lama sekali aku tidak mendengar suara ini," bisik Azalia pada dirinya sendiri.
Ia teringat bagaimana ayahnya dulu selalu melakukan ritual ini setiap kali ada masalah besar yang mendera keluarga. Kopi bagi keluarga mereka bukan sekadar minuman penghilang kantuk, melainkan sebuah medium penenang jiwa, sebuah cara untuk duduk bersama dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sekecil apapun harapan yang tersisa.
Air di dalam panci mulai mengeluarkan gelembung-gelembung kecil, menandakan titik didih segera tercapai. Azalia mematikan kompor, lalu menyiapkan enam cangkir keramik tua di atas nampan kayu. Satu cangkir untuk dirinya, dan lima cangkir lainnya untuk kelima saudaranya: Samaira, Bima, Candra, Dimas, dan si bungsu Elang. Ia tahu betul kebiasaan masing-masing dari mereka ketika menghadapi tekanan hidup. Ada yang memilih diam, ada yang marah-marah, dan ada pula yang pura-pura tegar. Namun, Azalia percaya, aroma kopi hangat yang diseduh dengan ketulusan mampu menembus pertahanan terkeras sekalipun.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki ringan namun tergesa terdengar dari arah koridor gelap menuju dapur. Azalia yang tengah menuangkan air panas ke dalam saringan kopi menoleh sekilas. Ia menduga itu adalah Bima yang biasanya suka terbangun pagi untuk merokok di jendela. Namun dugaannya meleset. Sosok yang muncul di ambang pintu dapur bukanlah Bima, melainkan Samaira.
Samaira berdiri dengan balutan selimut tebal yang melingkari tubuh kurusnya. Rambut panjangnya tergerai berantakan, dan matanya tampak sayu, menyiratkan malam panjang tanpa tidur yang baru saja ia lewati. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Samaira melangkah mendekat, menarik kursi kayu di dekat meja makan, lalu duduk termenung menatap cangkir-cangkir kosong yang tertata rapi di atas nampan.
"Belum tidur, Mar?" tanya Azalia dengan suara lembut, memecah keheningan pagi yang terasa begitu padat.
Samaira menggeleng pelan. "Tidak bisa tidur, Kak. Pikiranku terlalu bising."
Azalia menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia menuangkan seduhan kopi hitam pekat tanpa gula ke dalam dua cangkir keramik, lalu mendorong salah satunya ke hadapan Samaira. Uap panas mengepul tipis, membawa serta aroma pahit yang menenangkan.
"Minumlah. Ini bisa sedikit melonggarkan dadamu," ucap Azalia seraya menarik kursi di sebelah adiknya dan ikut duduk.
Samaira memandangi cangkir itu selama beberapa detik, seolah sedang menimbang apakah ia sanggup meneguk kepahitan di dalamnya. Dengan jemari lentiknya yang sedikit gemetar, ia mengangkat cangkir tersebut dan menyesapnya pelan. Wajahnya sedikit berkerut karena rasa pahit yang pekat, namun sedetik kemudian ia menghela napas panjang, membiarkan kehangatan cairan itu merambat turun ke kerongkongannya.
"Kita tidak pernah merencanakan hidup jadi serumit ini, kan, Kak?" suara Samaira terdengar parau, nyaris berbisik.
"Hidup tidak pernah meminta izin kita untuk menjadi rumit, Mar. Ia datang begitu saja membawa ujiannya sendiri," jawab Azalia tenang, menatap lurus ke luar jendela kaca dapur yang mulai memperlihatkan semburat kemerahan fajar di ufuk timur.