Lorong rumah pada siang hari itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dindingnya menyerap setiap suara yang mencoba melintas. Udara di lantai dua terasa pengap, mandek di antara bingkai-bingkai foto keluarga yang tergantung lurus tanpa cela. Namun, ada satu titik di ujung lorong yang menarik perhatian siapa saja dengan keheningan yang berbeda—sebuah keheningan yang pekat dan mencurigakan.
Kamar tidur Yassir terkunci seharian penuh sejak matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya di balik cakrawala. Tidak ada suara geseran kaki, tidak ada batuk kecil, tidak pula derit ranjang besi yang biasanya menjadi penanda keberadaannya di dalam. Rumah ini terbiasa dengan ritme yang disiplin, tetapi ketertutupan pintu itu hari ini melampaui batas kewajaran.
Arka berdiri di dekat tangga, menatap pintu bercat putih pudar itu dengan kening berkerut. Tangannya yang memegang cangkir kopi mulai mendingin, sementara pikirannya melayang pada kebiasaan Yassir yang jarang sekali mengunci kamar, bahkan ketika ia tidur lelap di malam hari.
"Yassir?" panggil Arka pelan, suaranya mengambang di udara koridor yang sepi.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan mutlak yang menyambut, membuat bulu kuduk meremang seketika.
Zahra muncul dari arah dapur, membawa keranjang kecil berisi pakaian lipat yang baru saja diangkatnya dari jemuran. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Arka berdiri mematung di depan kamar Yassir. Wajah Zahra menyiratkan kebingungan yang bercampur dengan rasa penasaran yang mengganggu.
"Ada apa, Ka? Kenapa kamu berdiri di situ seperti patung?" tanya Zahra, mendekat perlahan sambil meletakkan keranjang di atas meja konsol dekat tangga.
"Kamar Yassir dikunci dari dalam sejak subuh tadi," jawab Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari gagang pintu besi bercat hitam itu. "Aku belum mendengar suaranya sama sekali hari ini. Biasanya jam segini dia sudah sibuk merapikan meja kerjanya atau setidaknya keluar untuk mengambil air minum."
Zahra tertegun. Alisnya yang tipis bertaut, mencerna informasi tersebut dengan perasaan yang mulai tidak enak. "Mungkin dia tidur sangat nyenyak? Semalam aku melihat lampu kamarnya baru padam sekitar pukul tiga pagi."
"Tidur nyenyak sampai siang bolong dan mengabaikan semua panggilan? Itu bukan kebiasaan Yassir, Zahra. Kamu tahu sendiri bagaimana disiplinnya anak itu soal waktu," bantah Arka dengan nada yang menyiratkan kekhawatiran terselubung.
Mereka berdua lantas terdiam, menatap pintu tertutup itu seolah-olah benda mati tersebut menyimpan sebuah rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari dunia luar. Suara detak jam dinding di lantai bawah terdengar begitu nyaring, menghitung detik-detik ketegangan yang merayap pelan di antara mereka berdua.
"Coba panggil lagi," bisik Zahra, suaranya hampir tak terdengar di atas keheningan lorong. "Mungkin tidurnya terlalu pulas karena kelelahan."
Arka mengangguk pelan. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke permukaan daun pintu, lalu mengetuknya tiga kali dengan buku jari.
"Yassir! Buka pintunya, ini aku!" teriaknya sedikit lebih keras, namun sekali lagi, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari balik dinding kayu tersebut. Suara ketukan itu justru memantul kembali, menciptakan gema kecil yang terasa hampa dan menakutkan.
❖ ❖ ❖
Ketukan pertama yang tidak berbalas itu segera disusul oleh ketukan-ketukan berikutnya yang lebih tegas. Arka mencoba mengetuk pintu berkali-kali, menggunakan telapak tangannya untuk menciptakan suara yang lebih besar agar dapat menembus kesunyian kamar tersebut.
"Yassir, jangan main-main! Buka pintunya sekarang!" seru Arka, nada suaranya kini mulai meninggi, diwarnai oleh kepanikan yang tidak lagi bisa disembunyikannya.
Namun, usaha itu tetap sia-sia. Tidak ada sahutan, tidak ada geseran benda, bahkan tidak ada suara napas berat yang biasanya bisa terdengar jika seseorang berada tepat di balik pintu tipis itu. Pintu itu seolah telah berubah menjadi gerbang menuju dimensi lain yang terisolasi sepenuhnya dari dunia luar.
Zahra meremas ujung roknya erat-erat. Jantungnya mulai berdegup kencang, memompa darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang tidak wajar. Perasaan cemas yang tadinya hanya berupa titik kecil kini membesar, menguasai seluruh rongga dadanya.
"Arka, bagaimana ini? Kenapa dia sama sekali tidak merespons?" Zahra bersuara, napasnya mulai memburu. Ia melangkah maju mendekati Arka, tangannya mencengkeram lengan pria itu dengan kuat. "Apakah mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi padanya? Coba ketuk lagi, lebih keras!"
Arka tidak menjawab. Ia kembali menghantamkan kepalan tangannya ke kayu pintu, kali ini dengan tenaga yang jauh lebih besar hingga buku jarinya terasa nyeri. "Yassir! Buka! Kalau kamu tidak buka sekarang, aku panggil Fathan untuk mendobrak pintu ini!" ancam Arka, berharap gertakan itu mampu memancing reaksi dari dalam.
Hasilnya tetap nihil. Keheningan yang menyelimuti kamar itu terasa begitu menindih, seolah menegaskan bahwa tidak ada lagi orang yang sadar di dalam sana.