Hujan lebat yang turun sejak siang hari tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Suara gemuruh guntur bergemuruh rendah di kejauhan, sementara angin kencang mendesing melalui celah-celah jendela ruang tengah rumah keluarga besar itu. Di sudut ruangan yang menghadap langsung ke taman belakang, Samaira berdiri terpaku dengan kuas di tangan kanannya. Di hadapannya terbentang sebuah karya besar yang telah ia kerjakan selama berbulan-bulan—sebuah lukisan dinding bertema hamparan lembah hijau dan langit senja yang penuh detail rumit.
Namun, ketenangan sore itu mendadak terusik oleh sebuah suara tetesan air yang janggal. Pluk... pluk... pluk...
Samaira mengerutkan keningnya. Ia menoleh ke atas, mengamati langit-langit plafon kayu yang mulai menunjukkan noda basah berwarna gelap. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Jangan..." bisik Samaira pelan, berharap ketakutannya tidak menjadi kenyataan.
Belum sempat ia melangkah untuk menjauhkan palet warnanya, sebuah tetesan air yang cukup besar jatuh tepat di atas permukaan kanvas dinding yang masih basah. Air hujan itu mengalir deras menuruni garis cakrawala, melarutkan pigmen warna biru tua dan jingga yang baru saja ia pulas dengan penuh ketelitian. Rembesan air itu semakin besar, berubah menjadi aliran kecil yang mengalir bebas di atas dinding putih tempat lukisan itu hidup.
Samaira menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menatap tetesan air yang terus berjatuhan secara konstan dari sela-sela sambungan atap.
"Fathan! Arka!" panggil Samaira dengan suara bergetar, mencoba mengatasi suara derasnya hujan di luar.
Tidak ada jawaban langsung dari lantai atas. Suara angin yang menderu seolah meredam teriakannya. Samaira melangkah mundur perlahan, matanya nanar memandangi karya seninya yang perlahan-lahan luntur, seolah-olah kanvas itu sedang menangis menanggung beban air hujan yang merusak keindahannya.
❖ ❖ ❖
"Tidak... tidak mungkin..." teriak Samaira frustrasi, suaranya pecah di antara deru air hujan.
Ia menjatuhkan kuas di tangannya ke lantai begitu saja. Dengan panik, ia menyambar sebuah kain lap kering dan mencoba menyerap genangan air yang mengalir di dinding. Namun, usahanya sia-sia. Kain itu justru menyerap pigmen basah dan mencoreng bagian tengah lukisan dengan noda abu-abu kotor yang merusak seluruh komposisi warna. Bagian tengah lukisan yang menggambarkan matahari terbenam kini tampak lebur, menyisakan coretan-coretan abstrak yang menyedihkan.
Air mata Samaira tumpah seketika, berkejaran dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Tangannya yang memegang kain lap gemetar hebat.
"Semua kerja kerjaku..." rintihnya pelan, terdengar begitu putus asa. "Berbulan-bulan... hancur begitu saja dalam waktu beberapa menit."
Ia mencengkeram rambutnya sendiri, menatap pantulan dirinya di genangan air kecil yang terbentuk di lantai kayu. Rasa marah, sedih, dan lelah bergemuruh di dadanya. Rumah tua peninggalan kakek mereka memang sering rewel, tetapi kebocoran kali ini terjadi tepat di titik terburuk yang bisa dibayangkan.
"Samaira! Ada apa?" seru sebuah suara berat dari arah tangga.
Samaira mendongak. Fathan dan Arka muncul dari lantai atas dengan langkah tergesa-gesa, napas mereka memburu. Wajah kedua pemuda itu langsung berubah tegang begitu melihat kondisi ruangan dan lukisan dinding yang basah kuyup.
"Atapnya jebol di atas sini," kata Samaira dengan suara parau, menunjuk ke arah langit-langit. "Dan airnya langsung menghantam lukisan dindingku!"