Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Gelap yang Jujur

Malam merayap masuk ke dalam rumah tua itu tanpa suara, membawa serta gulita yang pekat dan menyesakkan. Di luar, hujan deras mengguyur atap seng dengan suara gemuruh yang konstan, seolah berusaha merobohkan pertahanan bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun tersebut. Di dalam, ketegangan yang tak kasat mata sudah berhari-hari menggelayuti keenam penghuninya. Mereka adalah Arka, Yassir, Zahra, dan tiga orang lainnya yang terjebak dalam lingkaran kecemasan yang sama—hidup di ambang batas ketidakpastian ekonomi dan tekanan batin yang kian menumpuk.

Tiba-tiba, suara letupan kecil terdengar dari arah meteran listrik di dekat pintu depan, disusul oleh padamnya seluruh lampu rumah secara total. Kegelapan langsung menelan ruangan tanpa ampun. Tidak ada celah cahaya yang tersisa; malam di luar begitu mendung hingga bulan dan bintang pun seolah enggan menampakkan diri.

"Sial, korsleting lagi," gumam Arka dari sudut ruangan, suaranya terdengar berat dan lelah.

"Jangan bergerak sembarangan, nanti ada yang tersandung," sahut Zahra, suaranya bergetar tipis, mencerminkan rasa tidak nyaman yang mendadak menyerang.

Dalam kepanikan kecil itu, Yassir meraba meja di dekatnya dan berhasil menemukan sebuah lilin batang berwarna putih beserta korek api. Bunyi gesekan korek api memercikan cahaya jingga yang kecil, lalu perlahan membesar ketika api berhasil membakar sumbu lilin. Cahaya kuning temaram itu langsung mengusir sebagian gelap, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding ruang tengah. Keenam orang itu mau tidak mau harus berkumpul mendekat ke arah sumber cahaya kecil tersebut.

Mereka duduk bersila di atas permadani tipis di tengah ruangan. Lingkaran kecil terbentuk secara alami di sekeliling lilin yang apinya berkedip-kedip setiap kali angin malam menyelinap lewat celah jendela yang kurang rapat. Jarak yang sempit memaksa mereka untuk saling bertatapan, meski wajah satu sama lain hanya terlihat setengah berkat penerangan yang minim.

"Begini rasanya benar-benar terisolasi," kata salah seorang dari mereka, memecah keheningan yang sempat mencekam. "Di luar badai, di dalam kita terjebak."

"Dan di dalam kepala kita masing-masing, badainya bahkan lebih buruk," balas yang lain dengan nada sinis.

Suasana kembali senyap. Suara deru hujan mendominasi ruangan, menciptakan ritme monoton yang justru membuat pikiran semakin liar. Lilin terus meleleh, meneteskan air malam berwarna putih di atas piring kecil tempat ia diletakkan. Di bawah terangnya cahaya yang terbatas itu, bayangan wajah mereka tampak muram, menyimpan beban hidup yang selama ini dipendam rapat-rapat di balik senyuman palsu atau sikap dingin sehari-hari.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang terlalu lama itu mulai terasa menyiksa. Di tengah ruangan yang sempit dan remang-remang, batas antara privasi dan keterbukaan seolah melebur. Kegelapan total di luar jendela memberikan semacam anonimitas psikologis—mereka merasa tidak sedang saling menatap secara langsung, melainkan berbicara kepada kegelapan itu sendiri.

"Suasana seperti ini mengingatkanku pada permainan masa kecil," ujar salah satu dari mereka, mencoba mencairkan suasana dengan senyum hambar yang tidak sampai ke mata. "Permainan di mana kita dipaksa untuk jujur, tidak boleh ada kebohongan sama sekali."

"Permainan kejujuran?" Arka mendengus pelan, melipat tangan di dadanya. "Dalam situasi seperti sekarang, kejujuran adalah hal terakhir yang kita butuhkan. Yang ada justru saling menyakiti."

"Justru karena situasinya buruk, kita tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan," sanggah Zahra menimpali. Ia menatap lekat nyala lilin yang mulai mengecil. "Kita sudah berada di ujung tanduk. Apa lagi yang harus ditakutkan dari sebuah kejujuran?"

Perkataan itu menggantung di udara. Tidak ada yang langsung menjawab. Udara di ruangan terasa semakin tipis, dipenuhi oleh embusan napas mereka yang berat. Ide tentang permainan kejujuran itu, betapapun terdengar berbahaya, mulai merayap ke dalam benak masing-masing. Ada dorongan terpendam yang kuat untuk melepaskan beban yang selama ini menghimpit dada.

"Baiklah," ucap Yassir tiba-tiba, suaranya serak namun tegas. "Jika itu bisa membuat malam ini terasa lebih pendek, kita lakukan. Satu aturan: masing-masing dari kita harus mengaku satu rahasia terbesar yang selama ini disimpan rapat dari yang lain."

Jantung beberapa orang di ruangan itu berdegup lebih kencang. Saling lirik terjadi dalam keremangan cahaya lilin. Ada keraguan yang nyata di wajah mereka, sebuah ketakutan akan runtuhnya topeng yang selama ini digunakan untuk bertahan hidup di hadapan satu sama lain. Namun, tatapan mata yang terkunci dalam lingkaran itu memaksa mereka untuk tidak bisa lari.

"Siapa yang mulai?" tanya salah seorang dengan suara gemetar.

"Biar aku," kata Yassir tanpa ragu, meski tangannya yang diletakkan di atas lutut terlihat mengepal erat. Lilin di tengah mereka berkedip sekali, seolah memberikan tanda bahwa gerbang rahasia telah resmi dibuka.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya