Matahari sore menyusup melalui celah-celah genting yang rapuh, memantulkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai ruang tengah yang penuh dengan debu. Di ruangan yang dulu menjadi saksi bisu kehangatan keluarga itu, kini enam orang duduk melingkar dalam keheningan yang sarat beban. Pertemuan keluarga dadakan ini tidak disengaja melalui undangan resmi, melainkan dipicu oleh desakan waktu yang kian menipis. Tenggat waktu dari bank tinggal menghitung hari, dan keputusan bulat harus segera diambil sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Arka berdiri di dekat jendela, menatap keluar ke arah halaman yang dipenuhi semak belukar. Hatinya bergemuruh hebat, merasakan beban masa lalu dan masa depan keluarga yang bertumpu di pundaknya. Ia berbalik, memandang satu per satu saudaranya—Fathan, Yassir, Samaira, Azalia, dan Zahra—yang wajahnya menyiratkan kelelahan fisik sekaligus mental yang luar biasa. Tidak ada lagi sela untuk saling menyalahkan atau menghindar dari kenyataan pahit ini.
"Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan," ucap Arka memecah kesunyian, suaranya terdengar berat namun tegas. "Surat peringatan terakhir dari pihak berwenang sudah ada di tangan saya. Hari ini, kita harus menentukan ke mana arah rumah ini akan dibawa."
Fathan mengangguk pelan, merapikan letak kacamatanya yang bergeser. "Kau benar, Arka. Waktu kita sudah habis untuk berdebat tentang siapa yang paling tersakiti di masa lalu. Sekarang saatnya melihat realitas."
Yassir, yang sejak tadi melipat tangan di dada dengan pandangan sinis, menghela napas panjang. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur, digantikan oleh rasa pasrah yang bercampur penasaran. Ruangan itu mendadak terasa semakin sempit, seolah dinding-dindingnya ikut mendesak mereka untuk segera mengeluarkan keputusan final.
❖ ❖ ❖
"Kalau begitu, mari kita letakkan semua kartu di atas meja," kata Arka, melangkah mendekat dan ikut duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin di tengah-tengah lingkaran mereka.
Suasana kembali menegang saat Arka memberikan opsi terakhir yang sangat menentukan nasib mereka ke depan. Pilihan itu sangat ekstrem, hitam atau putih, tanpa ada ruang abu-abu di tengahnya.
"Opsi pertama," ujar Arka sambil menatap tajam saudaranya satu persatu, "kita biarkan rumah ini disita oleh negara, dilelang secara terbuka, dan masing-masing dari kita pergi membawa sisa kenangan masa kecil yang hancur. Kita lepaskan sepenuhnya ikatan tempat ini."
Beberapa dari mereka langsung terkesiap mendengar pilihan tersebut. Zahra, si bungsu, spontan menggelengkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Dan opsi kedua?" tanya Yassir cepat, suaranya sedikit meninggi, memecah keterkejutan yang sempat melanda ruangan. "Jangan bilang kau masih ingin kita mempertahankan tempat ini dengan cara bodoh?"
"Opsi kedua adalah kita berjuang bersama," jawab Arka tanpa ragu sedikit pun. "Kita hadapi utang-utang itu sebagai satu kesatuan tim. Kita pertahankan rumah ini, merenovasinya, dan membuktikan bahwa keluarga kita belum sepenuhnya runtuh."
"Berjuang bersama dengan modal apa, Arka?" sergah Samaira dengan nada frustrasi, meski matanya menyiratkan secercah harapan yang ingin diselamatkan. "Kau tahu sendiri kondisi keuangan kita masing-masing sedang di ambang kehancuran. Utang almarhum ayah bukan nominal yang kecil!"