Matahari sore menyusup perlahan melalui jendela kaca besar, meninggalkan bayangan panjang di atas permukaan meja makan kayu jati yang panjang dan kokoh di ruang tengah rumah tua itu. Suasana terasa senyap, hanya diwarnai oleh suara desir angin yang menghempas dedaunan kering di halaman luar. Di atas meja tersebut, Fathan berdiri tegak dengan napas tertahan, memegang ujung-ujung lembaran kertas besar yang baru saja ia keluarkan dari tabung silindernya.
Dengan gerakan hati-hati, Fathan membentangkan cetak biru rencana renovasi rumah itu selebar-lebarnya, menindih bagian pinggirnya dengan beberapa buku tebal agar kertas kalkir tersebut tidak kembali menggulung. Garis-garis tinta hitam tampak begitu presisi, menggambarkan detail rancangan struktur dinding baru, tata letak ruang dapur yang lebih lapang, serta penguatan fondasi yang sebelumnya sempat hampir merenggut rasa aman mereka.
"Ini dia," kata Fathan memecah keheningan, suaranya terdengar tegas namun menyimpan guratan kelelahan yang nyata di balik raut wajahnya. "Cetak biru final untuk perbaikan struktur dapur dan penguatan pilar utama rumah kita. Aku sudah menghitung beban sudut, kekuatan material beton, hingga estimasi waktu pengerjaan secara rinci."
Yassir, yang duduk di kursi seberang meja, menyandarkan punggungnya perlahan sambil melipat kedua tangan di dada. Matanya menyipit, mengamati garis-garis rancangan arsitektur itu dengan pandangan yang jauh dari kata terkesan. Ia menarik napas panjang, bersiap melontarkan kritik pedas yang sudah sejak tadi mengambang di ujung lidahnya.
"Rancanganmu bagus di atas kertas, Fathan," ujar Yassir membuka suara dengan nada dingin yang khas. "Strukturnya terlihat kokoh, tapi kamu sepertinya lupa melihat satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar estetika beton: isi dompet kita."
Fathan mengernyitkan dahi, menatap Yassir tajam. "Apa maksudmu? Ini demi keselamatan seluruh penghuni rumah. Keselamatan tidak bisa ditawar dengan angka-angka murah."
"Keselamatan memang nomor satu, tapi kalau kita bangkrut di tengah jalan gara-gara ambisi arsitekturalmu yang berlebihan ini, rumah ini tetap saja tidak akan bisa dihuni," balas Yassir tanpa gentar, menunjuk salah satu sudut pada lembaran cetak biru tersebut.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar meja makan mendadak menegang seketika. Fathan mengepalkan kedua tangannya di atas meja, menahan emosi yang mulai bergemuruh di dadanya.
"Berlebihan kamu bilang, Yassir?" suara Fathan mulai meninggi, mencerminkan ketidaksabaran. "Aku menggunakan material kelas satu karena kita sedang memperbaiki keretakan struktural yang parah! Kalau kita pakai bahan sembarangan, dalam dua tahun ke depan tembok itu akan ambruk lagi. Itu namanya menunda bencana, bukan menyelesaikan masalah!"
"Dan kalau kita memaksakan membeli material impor mahal itu sekarang, tabungan kita akan terkuras habis dalam hitungan minggu!" Yassir tidak kalah sengit, menegakkan tubuhnya dan mencondongkan badan ke depan. "Anggaran biaya yang kamu buat ini sama sekali tidak realistis untuk kondisi keuangan kita saat ini. Kamu hidup dalam teori teknik sipil, Fathan, bukan di dunia nyata di mana harga bahan pokok dan upah tukang terus melonjak!"
"Kamu hanya melihat dari sudut pandang pelitmu saja, Yassir!" hardik Fathan, suaranya menggelegar memantul di dinding ruangan. "Kamu selalu menghitung uang tanpa peduli risiko jangka panjang!"
"Aku realistis, bukan pelit!" Yassir membentak balik, memukul meja makan dengan telapak tangannya hingga buku-buku penindih kertas bergeser. "Kalau anggaran ini disetujui tanpa revisi, aku pastikan proyek ini akan mandek di tengah jalan karena kita tidak punya uang untuk bayar pekerja!"
Perdebatan itu kian memanas, berubah menjadi ajang adu gengsi dan lempar argumen tajam yang tidak ada ujungnya. Keduanya bersikeras pada pendirian masing-masing, menciptakan dinding tebal ketidakpahaman di antara mereka.