Matahari pagi menyapa kawasan perumahan padat penduduk dengan pijar keemasannya yang lembut, merayap perlahan menembus rimbunnya pohon mangga di halaman depan sebuah rumah kos yang telah lama menjadi saksi bisu perjalanan hidup keempat penghuninya. Hari itu adalah hari yang sudah lama dipersiapkan dengan penuh antusiasme oleh Samaira dan Azalia. Di teras depan rumah, di atas hamparan ubin keramik yang bersih dari debu, berdiri sebuah meja kayu tua berukuran sedang yang permukaannya telah dipoles mengkilap. Di atas meja tersebut, tersusun rapi berbagai macam karya seni rupa—mulai dari lukisan cat air berukuran kecil dengan bingkai kayu minimalis, sketsa wajah bertekstur arang, hingga beberapa kerajinan tangan dari tanah liat hasil kreasi tangan mereka berdua selama berbulan-bulan.
Samaira merapikan letak sebuah lukisan pemandangan senja di kanvas kecil dengan jari-jarinya yang sedikit bergetar karena rasa gugup yang bercampur aduk dengan kegembiraan. Di sebelah kanannya, Azalia tampak sibuk menata brosur promosi yang dilipat rapi di samping vas bunga liar sederhana. Papan nama kecil bertuliskan "Galeri Senja Teras Kita" yang digantung di tiang teras berayun pelan ditiup angin sepoi-sepoi pagi, menyambut siapa saja yang lewat di depan rumah mereka.
"Bagaimana, Za? Apakah letak lukisan ini sudah cukup menarik perhatian orang yang lewat dari jalan utama?" tanya Samaira, menatap Azalia dengan sorot mata penuh harap sekaligus cemas. Ia mengenakan apron kain berwarna hijau lumut yang dipenuhi noda cat air di bagian depannya—bukti nyata dari malam-malam panjang yang dihabiskannya di depan kanvas.
Azalia menghentikan kegiatannya menata brosur, lalu menegakkan tubuhnya untuk melihat keseluruhan susunan meja pameran tersebut secara saksama. Gadis itu tersenyum hangat, mencoba menularkan ketenangan kepada sahabatnya. "Sudah sangat bagus, Mai. Penataannya rapi, pencahayaan dari matahari pagi ini juga pas banget menyinari permukaan kanvas kalian. Jangan terlalu cemas begitu, galeri mini kita ini konsepnya unik. Belum pernah ada tetangga kita yang bikin pameran seni terbuka langsung di teras rumah seperti ini."
"Aku hanya takut tidak ada seorang pun yang peduli, Za," aku Samaira pelan, suaranya terdengar sedikit parau karena kurang tidur semalam. "Kamu tahu sendiri kan, mayoritas warga di gang ini adalah pekerja harian atau ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan dapur dan pasar. Seni mungkin bukan prioritas utama bagi mereka."
"Hei, jangan berpikiran negatif dulu," Azalia melangkah mendekat, lalu merangkul pundak Samaira dengan penuh kelembutan. "Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya. Yang terpenting kita sudah berani memulai. Menampilkan karya ke ruang publik itu langkah besar buat seniman sepertimu."
Di ambang pintu depan, Arka dan Zahra muncul dengan membawa dua cangkir kopi panas serta sepiring pisang goreng hangat yang baru saja diangkat dari wajan penggorengan. Aroma manis pisang goreng berpadu dengan wangi kopi mengepul di udara pagi, menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Arka meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil yang berada di sudut teras, dekat kursi rotan tempat mereka biasa bersantai.
"Wah, hebat sekali galeri dadakan kita ini," puji Arka sambil tersenyum lebar, menatap meja kayu tua yang kini tampak artistik dipenuhi warna-warni karya seni. "Kalau galeri ini sukses besar, jangan lupa traktir kami bakso urat di ujung jalan malam nanti ya."
"Tentu saja, asal karyanya laku terjual dulu, Arka," balas Samaira sambil tertawa kecil, sedikit ketegangannya mulai mencair mendengar candaan ringan dari pemuda itu.
Zahra ikut tersenyum sambil menyerahkan segelas teh hangat kepada Samaira. "Semangat ya, Mai. Kami semua mendoakan yang terbaik untuk pameran pertamamu ini. Apapun hasilnya nanti, kamu sudah hebat karena berani menunjukkan karya-karyamu ke dunia luar."
Samaira menerima gelas teh tersebut dengan kedua tangannya, merasa hangat bukan hanya karena air di dalam gelas, tetapi juga karena dukungan tulus yang diberikan oleh rekan-rekan serumahnya. Dengan bismillah di dalam hati, Samaira duduk di kursi kayunya, siap menyambut hari pertama pembukaan galeri seni mini di teras depan.
❖ ❖ ❖
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, harapan besar yang sempat membuncah di dada Samaira perlahan-lahan mulai menemui ujian berat. Jarum jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang berarti galeri mini tersebut sudah dibuka selama lebih dari tiga jam. Jalanan di depan gang perumahan terlihat cukup ramai oleh lalu-lalang warga yang berbelanja ke warung kelontong atau anak-anak sekolah yang berlarian pulang, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menghentikan langkah di depan teras rumah kos tersebut.
Beberapa orang tetangga memang sempat melirik ke arah teras saat mereka berjalan lewat. Ada Pak RT yang berjalan sambil memegang kantong plastik sayuran, sempat menoleh sekilas ke arah papan nama galeri, lalu melanjutkan perjalanannya tanpa menunjukkan ketertarikan lebih jauh. Ada pula sekelompok ibu-ibu yang berbisik-bisik sambil melihat dari kejauhan, menganggap pajangan di meja kayu itu mungkin hanya barang-barang jualan biasa atau hasil kerajinan anak sekolah.
Samaira terus duduk terpaku di kursi kayunya. Setiap kali ada suara langkah kaki mendekat di depan pagar rumah, matanya langsung berbinar penuh harap dan tubuhnya menegak otomatis. Namun, begitu bayangan orang tersebut berlalu melewati pagar tanpa singgah, pundaknya kembali merosot lemas. Rasa kecewa dan hampa merayap perlahan ke dalam relung hatinya.
Azalia yang duduk di kursi seberang ikut merasakan kesunyian yang mencekam tersebut. Ia mencoba menghibur dengan mengajak Samaira mengobrol ringan, membicarakan hal-hal lain di luar pameran, namun pikiran mereka berdua tetap terpaku pada meja kayu tua di hadapan mereka yang masih bersih dari transaksi jual beli.
"Mungkin memang belum waktunya, Mai," ucap Azalia mencoba menenangkan saat melihat Samaira menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.
"Sepanjang pagi ini tidak ada satu pun orang yang mampir, Za," kata Samaira dengan nada suara yang terdengar putus asa. Ia menatap deretan lukisan cat air buatannya yang tersusun rapi. "Bahkan sekadar bertanya harga atau memegang bingkainya pun tidak ada. Apakah karyaku seburuk itu sampai orang-orang bahkan enggan meliriknya lebih lama?"
"Jangan bicara begitu, karyamu sangat indah dan penuh makna," sanggah Azalia cepat. "Masalahnya bukan pada kualitas lukisanmu, tapi mungkin karena warga sekitar belum terbiasa dengan konsep galeri seni terbuka seperti ini. Mereka mungkin merasa sungkan atau mengira harganya terlalu mahal."