Malam itu, angin musim hujan menderu pelan di luar kaca jendela rumah tua peninggalan keluarga besar Hartono. Suhu udara di luar sana terasa menusuk tulang, membuat siapa pun yang merasakannya lebih memilih bergelung di bawah selimut tebal yang hangat. Namun, di dalam kamarnya yang terletak di lantai dua, Zahra justru terbangun secara mendadak dari tidurnya yang lelap. Bukan karena mimpi buruk yang kerap menghantuinya atau deru angin yang menghantam kaca, melainkan karena sebuah suara samar yang menggelitik indra pendengarannya dengan begitu kuat. Suara itu begitu asing sekaligus terasa sangat akrab di saat yang bersamaan—sebuah alunan melodi piano tua yang mengalun lembut, teramat syahdu, dari arah loteng rumah yang gelap.
Loteng rumah tersebut telah bertahun-tahun tertutup rapat dari dunia luar. Pintu akses utamanya digembok mati menggunakan gembok besi besar sejak hari tragis kematian sang ibu, dan kunci kayunya disimpan entah di mana oleh sang ayah. Tidak seorang pun di rumah itu pernah berani menginjakkan kaki ke atas sana selama satu dekade terakhir, menganggap tempat tersebut sebagai sebuah monumen kesedihan dan duka yang abadi, sebuah ruang terlarang yang harus dibiarkan tertutup selamanya agar ketenangan semu tetap terjaga di dalam rumah.
Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih melayang di tengah temaram kamar tidur. Alunan melodi itu semakin jelas tertangkap oleh telinganya. Nada-nadanya teratur, ritmenya begitu lambat dan penuh perasaan, seolah ada sepasang jemari tak kasat mata yang sedang menari dengan lembut di atas tuts-tuts gading yang sudah uzur. Bulu kuduk Zahra meremang seketika, menciptakan sensasi dingin yang merambat cepat dari tengkuk hingga ke ujung jemarinya, membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Siapa di sana? Apakah ada tikus besar atau angin yang masuk?" gumam Zahra pelan pada dirinya sendiri, mencoba menepis rasa takut yang mulai merayap di dadanya yang sesak.
Ia bangkit dari tempat tidur secara perlahan, mengenakan mantel rajut tebal berwarna abu-abu untuk menghalau hawa dingin malam, lalu melangkah keluar kamar menuju lorong gelap. Lorong rumah terasa begitu lengang, hanya diterangi cahaya lampu tidur pijar yang berkedip lemah. Suara decitan lantai kayu di bawah tapak kakinya berpadu dengan alunan musik misterius dari langit-langit rumah. Semakin ia mendekati tangga kayu menuju loteng, suara piano itu terdengar semakin nyata, seolah memanggilnya untuk datang dan membuka rahasia masa lalu.
Pikiran Zahra melayang pada berbagai kemungkinan logis maupun irasional. Apakah ada orang asing yang menyusup ke dalam rumah mereka? Ataukah ini hanya tipu daya dari angin malam yang bersiul melalui celah-celah atap tua? Namun, tidak ada keraguan sedikit pun di dalam hatinya bahwa melodi itu memiliki emosi yang teramat kuat, seolah membawa pesan tersembunyi yang mendesak untuk segera didengar. Rasa penasaran itu mengalahkan rasa takut yang sedari tadi mencengkeram dadanya.
❖ ❖ ❖
Sesampainya di ujung lorong lantai atas, Zahra berdiri tepat di bawah tangga kayu menuju loteng yang curam. Udara di sekitar tangga terasa jauh lebih dingin dibanding bagian rumah lainnya, seolah ada sekat tak kasat mata yang memisahkan dunia nyata dengan ruangan terlarang di atas sana. Melodi piano itu berhenti secara mendadak, menyisakan kesunyian yang mencekam dan membuat jantung Zahra berdegup semakin kencang, menuntut sebuah kepastian.
Zahra menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia sadar betul bahwa ia tidak boleh naik sendirian ke tempat menyeramkan itu, rasa penasarannya berbenturan keras dengan akal sehat dan rasa takut yang mulai mendominasi pikirannya. Tanpa buang waktu lebih lama lagi, ia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar Yassir, kakaknya, yang berada di ujung lorong seberang dengan pintu kayu tertutup rapat.
Ia mengetuk pintu kamar Yassir beberapa kali dengan tidak sabar, menciptakan suara berderit di tengah keheningan malam yang pekat. "Yassir! Yassir, bangunlah!" bisiknya setengah berteriak, menahan kepanikan yang luar biasa di dalam suaranya.
Pintu terbuka setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang dan menyiksa. Yassir muncul dengan mata setengah terpejam, mengenakan kaus oblong putih kusut dan celana piyama tidur. Wajahnya menyiratkan kekesalan yang mendalam karena waktu istirahatnya yang berharga terganggu oleh ketukan brutal di tengah malam.
"Ada apa sebenarnya, Zahra? Ini sudah pukul dua malam," gerutu Yassir dengan suara parau sambil mengucek matanya, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu lorong yang temaram.
"Kau dengar itu?" potong Zahra cepat, mencengkeram lengan Yassir dengan erat, menyalurkan rasa takut yang dirasakannya pada sang kakak. "Dengar suara dari loteng?"
Yassir terdiam sejenak, mencoba menangkap suara di sekeliling dengan pendengarannya yang masih dipenuhi rasa kantuk yang pekat. "Suara apa? Tidak ada apa-apa di sini. Kau pasti bermimpi buruk, kembalilah tidur dan jangan ganggu istirahatku."
"Bukan mimpi buruk! Ada suara piano berbunyi dari dalam loteng!" desak Zahra, matanya membelalak serius, menatap tajam ke dalam mata kakaknya untuk meyakinkan. "Ayo ikut aku naik ke atas sekarang juga. Kita harus periksa sebelum terlambat."
Yassir mengernyitkan dahi, menepis tangan adiknya pelan dengan gestur tidak sabar. "Jangan mengada-ada, Zahra. Gembok loteng itu sudah dikunci mati sejak sepuluh tahun lalu. Mana mungkin ada piano berbunyi di sana. Itu pasti hanya suara angin malam atau pipa air tua yang berkarat."
"Kalau hanya angin, kenapa nadanya teratur seperti sebuah lagu yang indah?" tantang Zahra, tidak mau mengalah begitu saja. "Temani aku naik. Aku tidak berani pergi sendiri ke sana dalam kegelapan malam ini."