Suasana kamar loteng di lantai atas terasa begitu senyap, hanya ditemani oleh deru angin malam yang berhembus pelan melalui celah-celah genting yang sudah tua. Di atas meja kayu jati yang permukaannya mulai mengelupas, sebuah buku berukuran sedang dengan sampul kulit imitasi berwarna cokelat tua tergeletak terbuka. Buku harian milik mendiang ibu itu memancarkan aura nostalgia yang pekat, seolah menyimpan serpihan jiwa seseorang yang telah lama berpulang. Arka duduk bersandar di kursi kayu reyot, kedua tangannya memegang lembaran kertas yang sudah menguning dimakan usia dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah kertas-kertas itu bisa hancur kapan saja jika tersentuh terlalu kasar.
Pandangan mata Arka menyusuri setiap baris tulisan tangan ibunya yang rapi namun menyiratkan kelelahan yang mendalam. Tinta hitam pena yang mulai memudar itu merekam jejak perjuangan masa lalu yang tidak pernah diceritakan kepada anak-anaknya secara langsung.
"Tanggal 12 Oktober..." gumam Arka pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah kesunyian malam.
Setiap kata yang terbaca di atas kertas itu bagaikan hantaman telak di dada Arka. Sebagai anak sulung yang selama ini merasa paling bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah peninggalan orang tua mereka, Arka tidak pernah benar-benar memahami betapa beratnya beban emosional dan finansial yang harus dipikul oleh sang ibu di masa lalu. Air mata hangat perlahan menggenang di pelupuk mata Arka, mengaburkan pandangannya pada baris-baris kalimat selanjutnya. Ada rasa sesak yang luar biasa menghimpit rongga dadanya, sebuah beban tak kasat mata yang mendadak berpindah pundak—dari tangan sang ibu yang telah tiada ke atas pundaknya yang kini terasa begitu rapuh.
"Ibu..." bisik Arka lirih, jemarinya meraba tepian halaman buku harian itu dengan gemetar.
Ia menyadari bahwa fondasi rumah tempat mereka bernaung saat ini tidak hanya dibangun dari kayu dan semen yang kokoh, melainkan disemen dengan air mata, keringat darah, dan pengorbanan sunyi yang tidak ternilai harganya. Rasanya baru sekarang Arka benar-benar mengerti arti di balik setiap sudut dinding rumah yang keropos itu—bahwa setiap kerusakan yang ada di rumah ini adalah cerminan dari retakan-retakan jiwa orang tua mereka yang berjuang hingga titik darah penghabisan demi mempertahankan keluarga agar tetap utuh di bawah satu atap yang sama.
❖ ❖ ❖
Pengaruh membaca buku harian itu bekerja begitu cepat dan telak pada kejiwaan Arka. Suasana hatinya yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi suram, dipenuhi oleh awan mendung kecemasan dan rasa bersalah yang teramat sangat. Bayang-bayang perjuangan sang ibu terus berputar di dalam kepalanya, menciptakan tekanan mental yang membuat Arka merasa seolah-olah ia tidak pernah berbuat cukup banyak untuk melindungi adik-adiknya dan menjaga warisan keluarga tersebut dari kehancuran total.
Ketika malam semakin larut, Arka memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari interaksi sosial di dalam rumah. Ia menutup buku harian itu perlahan, meletakkannya kembali ke dalam laci meja, lalu bangkit berdiri dengan langkah kaki yang terasa berat.
Saat ia menuruni tangga menuju lantai bawah untuk sekadar mencari segelas air putih, ia berpapasan dengan Fathan yang sedang membawa tumpukan koran bekas di ruang keluarga.
"Arka, kamu belum tidur? Besok pagi kita harus mengecek pipa air belakang yang mulai mampet lho," tegur Fathan ramah, mencoba mencairkan suasana dengan senyuman hangat khasnya.
Namun, Arka hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak kaku, pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong yang menyiratkan jarak emosional yang teramat jauh.
"Iya, nanti dipikirkan," jawab Arka singkat, suaranya terdengar datar dan dingin, jauh berbeda dari nada bicara sehari-harinya yang selalu sabar dan kebapakan.
Fathan menghentikan langkahnya, mengerutkan dahi keheranan melihat perubahan sikap kakaknya yang terjadi secara mendadak. "Kamu baik-baik saja, Mas? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Dari tadi sore kulihat kamu mengurung diri terus di kamar loteng."
"Aku nggak apa-apa, Fathan. Cuma sedikit lelah. Tolong biarkan aku sendiri dulu malam ini," sahut Arka tanpa menoleh sedikit pun, lalu mempercepat langkahnya menuju kamarnya sendiri dan langsung membanting pintu pelan namun tegas, mengunci diri dari dunia luar.
Fathan terpaku di tempatnya berdiri, menatap pintu kamar Arka yang kini tertutup rapat. Ada rasa janggal yang menusuk hatinya. Sikap Arka yang tiba-tiba menarik diri dan menolak komunikasi itu bukanlah hal yang biasa terjadi pada sosok kakak sulung yang selama ini selalu menjadi tempat mengadu bagi keluh kesah mereka bertiga. Fathan tahu pasti ada sesuatu yang sangat berat sedang berkecamuk di dalam kepala Arka, sesuatu yang sengaja disembunyikan rapat-rapat di balik dinding pertahanan diri yang kini ditegakkan kembali oleh kakaknya itu.
❖ ❖ ❖