Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Dapur Baru, Semangat Baru

Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas genteng-genteng rumah warga ketika Fathan meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku. Butiran-butiran keringat masih tampak jelas di pelipisnya setelah seharian penuh bergelut dengan semen, cat, dan kayu bersama para tetangga sekitar. Hari itu, renovasi dapur kecil di bagian belakang rumah mereka resmi dinyatakan selesai—bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan awal yang sempat diperkirakan memakan waktu hingga sebulan penuh.

Semua itu tentu tidak lepas dari uluran tangan para tetangga yang dengan sukarela datang membantu tanpa diminta. Ada Pak RT yang membawa peralatan pertukangan lengkap, serta beberapa pemuda kampung yang bergantian mengangkut pasir dan batu bata sejak pagi buta. Rasa kekeluargaan yang erat seketika menghapus lelah yang mendarah daging di tubuh Fathan.

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga bagian kerangka utamanya, Fathan," ujar Pak RT sambil menepuk bahu Fathan pelan, menyodorkan segelas teh manis hangat yang sudah setengah mendingin. "Kalau bukan karena semangat gotong royong warga, mungkin dapur ini baru akan beres bulan depan."

"Terima kasih banyak, Pak RT. Saya benar-benar tidak menyangka warga sekitar mau repot-repot meluangkan waktu demi membantu keluarga kami," balas Fathan dengan senyum tulus terukir di wajahnya yang lelah namun berbinar lega.

Di dekat pintu belakang, Zahra dan Azalia sedang sibuk membersihkan sisa-sisa debu semen yang menempel di lantai keramik baru. Sapu ijuk bergesekan dengan permukaan lantai yang bersih, menghasilkan suara ritmis yang menenangkan. Zahra menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum menatap hasil kerja keras suaminya bersama warga kampung.

Suasana rumah yang beberapa waktu lalu sempat diliputi ketegangan akibat masalah utang bank dan teror bayangan misterius, kini perlahan-lahan mulai mencair. Kehadiran para tetangga yang bahu-membahu merenovasi dapur memberikan secercah harapan baru bahwa keluarga mereka tidak sendirian menghadapi badai kehidupan. Fathan menghela napas panjang, meresapi aroma tanah basah seusai gerimis sore yang berpadu dengan wangi cat dinding yang masih baru.

❖ ❖ ❖

Begitu para tetangga berpamitan pulang menjelang senja, Fathan dan Zahra mengajak Azalia masuk ke dalam untuk melihat hasil akhir renovasi dapur tersebut. Perubahan yang terjadi benar-benar drastis dan jauh melampaui bayangan mereka semula. Dinding bilik bambu yang dulu rapuh dan dipenuhi noda jelaga hitam kini telah berganti sepenuhnya dengan tembok bata putih yang kokoh dan rapi.

Di sudut ruangan, sebuah kompor tanam modern berteknologi tinggi tampak berkilau memantulkan cahaya lampu gantung. Tepat di sebelahnya, sebuah meja dapur berlapis marmer putih bersih membentang luas, memberikan kesan elegan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya oleh keluarga sederhana itu. Rak-rak gantung kayu jati berpelitur cokelat tua tertata rapi di dinding atas, siap menampung berbagai perabotan masak yang selama ini berserakan di sudut ruangan.

"Wah... ini benar-benar dapur kita, Yah?" tanya Azalia dengan nada takjub. Matanya berbinar-binar menatap setiap sudut ruangan baru itu, seolah ia sedang berada di dalam sebuah majalah arsitektur mewah alih-alih di rumahnya sendiri.

"Iya, Nak. Ini dapur baru kita," jawab Fathan lembut sambil merangkul pundak putrinya. "Berkat kerja keras semua orang, sekarang kita punya tempat memasak yang layak dan nyaman."

Zahra berjalan mendekati meja marmer putih tersebut, menyapukan jemarinya perlahan di atas permukaannya yang terasa dingin dan licin. Tidak ada lagi sisa-sisa kayu lapuk atau sarang laba-laba di sudut atap. Semuanya tampak bersih, steril, dan memancarkan energi positif yang menyegarkan pandangan mata.

Namun, di balik kekaguman yang terpancar dari mata mereka, terbesit pula rasa asing yang mendadak hadir. Dapur yang terlalu bersih dan modern itu seolah menciptakan jarak tersendiri bagi keluarga yang selama ini terbiasa hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Mereka berdiri terpaku di ambang pintu, seolah ragu untuk melangkah lebih jauh ke dalam karena takut merusak kesempurnaan kecil yang baru saja tercipta di tengah rumah mereka.

❖ ❖ ❖

Keraguan itu terlihat jelas dari gerak-gerik Azalia. Gadis remaja itu melangkah masuk dengan sangat hati-hati, ujung jemarinya mencengkeram erat ujung baju kaosnya sendiri. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan baru itu tanpa berani menyentuh apa pun, seolah merasa bahwa dirinya tidak pantas berada di tempat yang begitu mengkilap dan bersih.

Lihat selengkapnya