Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Tamu Tak Diundang

Matahari baru saja naik sepenggalah, menghangatkan pelataran rumah warisan yang sudah lama kehilangan cat putih aslinya. Udara pagi yang tenang seketika terkoyak oleh suara decitan ban mobil sedan tua yang berhenti secara kasar tepat di depan gerbang besi berkarat. Suara pintu mobil dibanting dengan keras menggema ke seluruh sudut halaman, disusul oleh suara bentakan berat yang memanggil-manggil nama penghuni rumah dengan nada penuh amarah.

Arka yang sedang merapikan meja makan langsung menghentikan gerakannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul suara itu. Suara serak yang penuh ambisi dan kebencian yang sudah bertahun-tahun tidak pernah absen membawa petaka bagi keluarganya.

Di halaman depan, Paman Haris—kerabat jauh dari garis keturunan sang kakek yang selama ini mengincar tanah seluas lima ratus meter persegi ini—sudah berdiri berkacak pinggang. Mengenakan kemeja batik mencolok dan cincin batu akik besar di jemarinya, Paman Haris menghentakkan kaki ke lantai teras sambil berteriak-teriak memanggil Arka. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya menyalang liar menatap setiap sudut bangunan tua itu seolah ia sudah menjadi pemilik sahnya sejak detik pertama ia menginjakkan kaki di pekarangan tersebut.

"Keluar kalian anak-anak tidak tahu diuntung!" teriak Paman Haris menggelegar, membuat para tetangga yang tinggal di sekitar rumah langsung mengintip dari balik jendela rumah mereka masing-masing dengan rasa penasaran bercampur ngeri.

Arka segera melangkah cepat menuju pintu depan, sementara adik-adiknya menyusul di belakang dengan wajah pucat pasi. Yassir, adik laki-laki Arka yang berdarah panas, langsung mengepalkan kedua tangannya begitu melihat siapa yang membuat keributan sepagi ini.

"Tenang, Yassir. Jangan terpancing," bisik Arka tegas sambil menahan bahu adiknya sebelum mereka membuka pintu utama yang kini bergetar akibat guncangan tangan kasar Paman Haris dari luar.

❖ ❖ ❖

Pintu depan terbuka lebar, menampilkan sosok Arka yang berdiri tegak dengan tatapan tajam namun berusaha dikendalikan sebaik mungkin. Di belakangnya, Yassir, Naya, dan si bungsu berdiri rapat dengan napas tertahan. Paman Haris mendengus sinis, meludah ke lantai teras sebagai bentuk penghinaan terang-terangan sebelum melangkah masuk melewati ambang pintu tanpa diundang.

"Wah, rupanya kalian masih betah tinggal di sini, ya?" cibir Paman Haris dengan suara melengking yang sengaja ia keraskan agar didengar oleh seluruh tetangga yang mulai berkumpul di dekat pagar luar. "Kalian kira rumah ini rumah nenek moyang kalian yang bisa diwariskan sesuka hati? Sadar diri sedikit! Kalian ini cuma numpang!"

"Jaga mulut Anda, Paman," balas Arka dingin, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap datar meskipun dadanya sudah bergemuruh menahan amarah. "Ini rumah sah milik orang tua kami. Kakek yang menyerahkan sertifikatnya kepada ayah sebelum beliau meninggal."

Paman Haris tertawa meremehkan, suaranya terdengar melengking tinggi. "Sertifikat? Sertifikat apa yang kalian banggakan itu? Kertas kosong yang dibuat-buat semasa ayah kalian masih hidup dalam pengaruh utang? Jangan buat aku tertawa, Arka! Tanah ini, dari ujung timur sampai barat, adalah hak waris garis keturunan kakek buyut yang jatuh ke tanganku berdasarkan surat kesepakatan keluarga besar sepuluh tahun lalu!"

"Surat kesepakatan palsu macam apa yang Paman maksud?" Yassir tidak bisa lagi menahan diri. Ia menyembul dari belakang Arka, menatap tajam lelaki paruh baya di hadapannya. "Ayah tidak pernah menandatangani perjanjian bodoh seperti itu! Paman sendiri yang memalsukan tanda tangan kakek waktu beliau sedang sakit parah di rumah sakit!"

Lihat selengkapnya