Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Rapat Darurat di Tengah Malam

Jarum pendek jam dinding antik di sudut ruang tengah menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Suasana rumah tua itu terasa semakin dingin, seolah ikut merasakan ketegangan yang merayap di setiap jengkal ruangan. Keenam saudara—Arka, Zahra, Fathan, Samaira, dan dua adik bungsu mereka—duduk berlingkar di atas karpet tipis ruang tengah tanpa ada yang bersuara. Di tengah lingkaran itu, terbentang selembar surat somasi berlogo kantor hukum yang baru saja dilempar oleh Paman Haris sore tadi, membawa ancaman nyata atas kepemilikan rumah warisan keluarga yang selama ini mereka tempati.

Udara di dalam ruangan terasa berat, diisi oleh napas yang tertahan dan kecemasan yang menggantung di udara. Lampu gantung kuning temaram memberikan bayangan panjang di dinding, mempertegas wajah-wajah lelah yang belum sempat memejamkan mata. Ancaman dari Paman Haris bukan lagi sekadar gertakan kosong; itu adalah sinyal bahaya yang siap meruntuhkan tempat perlindungan terakhir mereka.

Arka, sebagai anak tertua, menatap lembaran kertas putih berisikan tuntutan hukum tersebut dengan rahang mengeras. Tangannya yang diletakkan di atas lutut mengepal erat, menahan gejolak emosi yang hampir meledak. Ia tahu betul watak Paman Haris yang serakah dan menghalalkan segala cara untuk merebut tanah peninggalan kakek mereka.

"Kita tidak bisa membiarkan Paman Haris terus menekan kita seperti ini," ucap Arka memulai pembicaraan, suaranya terdengar parau namun sarat akan ketegasan yang dipaksakan. "Surat ini jelas-jelas mencantumkan batas waktu tujuh hari. Kalau kita tidak mengosongkan rumah ini atau menyerahkan sertifikatnya, dia akan membawa masalah ini ke jalur pengadilan dengan klaim palsu."

Zahra, yang duduk di samping Arka, meremas ujung selimut yang dipangkunya erat-erat. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa frustrasi yang mendalam. "Tapi bagaimana bisa dia mengklaim rumah ini milik keluarganya? Sertifikat aslinya kan ada di tangan Ayah dulu sebelum beliau meninggal. Apakah Paman Haris memalsukan dokumen?"

"Bukan hal yang tidak mungkin bagi orang licik seperti dia," sahut Fathan dengan nada dingin. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah kertas somasi tersebut. "Paman Haris punya banyak kenalan di kalangan birokrasi bawah. Dia bisa saja merekayasa surat-surat lama seolah-olah tanah ini dijaminkan oleh Kakek dulu."

Suasana kembali mendadak hening. Masing-masing dari mereka meresapi beratnya situasi yang sedang dihadapi. Rumah ini bukan sekadar bangunan tua tempat mereka berteduh dari panas dan hujan; rumah ini adalah saksi bisu perjuangan hidup orang tua mereka, tempat di mana kenangan masa kecil tertanam kuat di setiap sudut ruangannya. Kehilangan rumah ini sama saja dengan kehilangan akar keluarga mereka.

Adik bungsu mereka yang duduk di pojok mulai terisak pelan, ketakutan membayangkan mereka harus terusir di tengah jalan tanpa tempat tinggal. Zahra segera merangkul pundak adiknya, mencoba menenangkan meskipun ia sendiri sebenarnya merasa sama rapuhnya di dalam.

"Kita harus segera mengambil keputusan malam ini juga," lanjut Arka, memandang satu per satu wajah saudaranya dengan tatapan penuh harap. "Kita tidak boleh tinggal diam dan menunggu badai itu menghantam kita tanpa persiapan."

❖ ❖ ❖

Perdebatan sengit langsung pecah begitu Arka membuka ruang diskusi lebih lebar. Pendapat di antara keenam saudara tersebut langsung terpecah menjadi dua kubu yang saling mempertahankan argumen masing-masing, menciptakan suasana yang semakin panas di tengah malam yang sunyi.

Di satu sisi, ada kubu yang menginginkan jalan damai demi menghindari keributan yang lebih panjang, meskipun itu berarti harus berkompromi dengan syarat-syarat yang diajukan Paman Haris. Salah satu adik mereka, yang sudah kelelahan mental akibat teror bertubi-tubi, mengajukan usul untuk menyerah saja secara administratif.

"Kenapa kita tidak coba bernegosiasi ulang saja dengan Paman Haris?" ujar salah satu dari mereka dengan suara bergetar ragu. "Mungkin... mungkin kalau kita mau membayar sejumlah uang kompensasi atau membagi sebagian kecil hasil penjualan jika rumah ini nantinya dipasangkan harga kompromi, dia mau menarik somasi itu."

"Membayar uang kompensasi?" potong Fathan dengan nada tinggi, menolak mentah-mentah usulan tersebut. "Kamu sadar tidak, apa yang kamu katakan? Kalau kita mulai menuruti kemauannya dan membayar, itu sama saja dengan mengakui klaim palsu mereka! Paman Haris tidak akan pernah berhenti menuntut sampai seluruh harta kita habis tak bersisa!"

"Tapi kita tidak punya cukup uang untuk membiayai pengacara, Fathan!" balas adiknya tidak kalah sengit, emosinya ikut terpancing. "Menghadapinya secara hukum di pengadilan butuh waktu berbulan-bulan, biaya yang besar, dan belum tentu kita menang melawan koneksi luasnya. Apakah kamu mau kita semua terseret dalam proses hukum yang panjang dan melelahkan?"

Zahra menatap kedua saudaranya bergantian dengan rasa pening yang mulai menyerang kepalanya. Perdebatan mengenai jalur hukum versus jalan damai yang merugikan ini terus berputar tanpa menemukan titik temu. Sebagian dari mereka takut akan ancaman penjara dan denda administratif, sementara sebagian lainnya, seperti Arka dan Fathan, menjunjung tinggi prinsip harga diri keluarga yang tidak boleh diinjak-injak begitu saja.

"Jalan damai yang merugikan sama artinya dengan bunuh diri secara perlahan," Arka menyela dengan suara berat yang langsung meredam perdebatan sesaat. Ia menatap tajam ke arah adiknya yang tadi mengusulkan kompromi. "Kalau kita memilih menyerah sekarang, besok lusa kita akan diusir dari tanah kelahiran kita sendiri. Aku lebih baik berjuang sampai titik darah penghabisan daripada harus menyerahkan rumah ini kepada orang yang tidak punya hak moral sedikit pun."

Lihat selengkapnya