Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Saksi Bisu Gang Sempit

Sore itu, suasana di ruang keluarga rumah tua peninggalan kakek terasa sedikit lebih tenang setelah berhari-hari diselimuti ketegangan sidang keluarga yang melelahkan. Angin sepoi-sepoi berhembus melalui jendela yang dibiarkan terbuka setengah, membawa aroma tanah basah seusai hujan. Fathan baru saja duduk di sofa panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut, sementara Arka merapikan setumpuk berkas hukum di atas meja kayu. Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar nyaring, disusul oleh salam yang sudah sangat akrab di telinga mereka.

"Assalamualaikum, anak-anak muda!" panggil suara serak namun tegas dari luar teras.

Fathan langsung bangkit dari duduknya. "Waalaikumussalam. Eh, Kakek RT?" ucapnya terkejut saat membuka pintu utama dan melihat sosok lelaki sepuh berdiri di sana.

Pak Jais, pria berusia delapan puluh tahun yang telah menjabat sebagai ketua RT di perkampungan padat itu selama lebih dari tiga dekade, berdiri dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal di tangannya. Wajahnya yang berkerut dimakan usia tampak serius, namun sorot matanya menyiratkan ketulusan yang mendalam. Dengan langkah perlahan menggunakan tongkat kayu kayunya, beliau melangkah masuk ke teras rumah dipandu oleh Fathan.

"Silakan masuk, Kek. Mari duduk di sini," sambut Fathan dengan penuh takzim, membimbing sang kakek tua menuju kursi teras.

"Tidak usah repot-repot, Fathan. Kakek datang bukan untuk bertamu lama, tapi ada titipan penting yang harus kakek serahkan langsung kepada kalian," kata Pak Jais dengan suara bergetar pelan, meletakkan amplop cokelat kusam di atas meja kecil di hadapan mereka.

Arka yang mendengar percakapan itu segera mendekat, rasa penasarannya langsung membuncah melihat amplop tua yang tampak sudah menguning di beberapa bagian sisinya.

❖ ❖ ❖

"Ada apa ini, Kek?" tanya Arka hati-hati, menatap amplop cokelat berikat tali merah yang tergeletak di hadapan mereka.

Pak Jais menarik napas panjang sebelum menjawab, seolah sedang menimbang-nimbang memori masa lalu yang tersimpan rapat di kepalanya. "Ini adalah dokumen penting yang dititipkan almarhum kakek kalian sepuluh tahun lalu, tepat sebelum beliau jatuh sakit dan akhirnya berpuluh ke Rahmatullah. Dokumen yang selama ini disimpan di brankas arsip kelurahan lama."

Fathan dan Arka saling berpandangan dengan kening berkerut. Fathan lantas merapikan duduknya, bersiap mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari sang tetua kampung.

"Buka dan baca sendiri, Nak," perintah Pak Jais sambil menunjuk amplop tersebut.

Arka dengan jemari yang sedikit gemetar membuka simpul tali merah pada amplop itu. Ia mengeluarkan sehelai kertas folio bergaris yang dipenuhi tulisan tangan menggunakan tinta hitam pekat. Gaya tulisan tangan itu sangat khas—tulisan tangan kakek mereka yang terkenal rapi dan tegas. Di bagian bawah kertas tersebut, tertera sebuah meterai tua lengkap dengan tanda tangan beberapa saksi mata warga setempat, termasuk tanda tangan Pak Jais sendiri.

"Ini..." bisik Arka, matanya membelalak membaca baris demi baris kalimat di dalam surat itu. "Ini surat pernyataan pelepasan hak waris."

Lihat selengkapnya