Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Malam Bintang dan Cerita Lama

Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah seusai badai yang baru saja mereda beberapa jam lalu. Udara di luar terasa sejuk, menyapu sisa-sisa kepenatan yang sempat mendera isi rumah. Untuk meredakan ketegangan yang masih menyisakan sisa-sisa canggung di antara mereka pasca malam pengakuan yang penuh air mata, Arka berinisiatif mengajak semuanya keluar.

"Kita butuh udara segar," ucap Arka seraya membentangkan sebuah tikar pandan usang berwarna hijau di atas rumput halaman belakang yang basah.

Satu per satu, keenam orang itu melangkah keluar melalui pintu belakang. Langit malam ini tampak begitu bersih, seolah alam sedang meminta maaf atas amuknya semalam. Ribuan bintang bertaburan di atas sana, berkilauan bagai taburan berlian di atas kain hitam raksasa yang membentang tanpa batas. Di tengah halaman yang luas itu, mereka duduk melingkar di atas tikar, merapatkan jaket masing-masing untuk menghalau dingin yang mulai merayap.

"Wah, luar biasa," gumam Azalia pelan, mendongakkan kepala tinggi-tinggi hingga lehernya terasa agak kaku. "Sudah lama sekali kita tidak benar-benar duduk di luar dan melihat langit seperti ini. Terlalu sibuk memikirkan tagihan dan perut lapar."

"Betul juga," timpal Fathan sambil merangkul lututnya sendiri. "Terkadang kita lupa kalau di atas sana ada dunia yang jauh lebih luas daripada sekadar masalah rekening koran dan cicilan yang menumpuk."

Suasana malam itu terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi sekat-sekat tebal yang saling menjaga jarak atau topeng kepura-puraan. Kegelapan dan badai yang telah dilewati seolah menjadi saringan yang menyaring segala kepalsuan, meninggalkan kejujuran yang menenangkan. Lilin-lilin kecil di dalam rumah yang kini sudah terang oleh aliran listrik yang kembali menyala, memancarkan cahaya hangat dari jendela dapur, menciptakan latar belakang visual yang menenteramkan jiwa.

Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati suara jangkrik yang bersahutan di balik semak-semak pagar rumah. Secangkir teh hangat beruap yang disiapkan Zahra diedarkan dari tangan ke tangan. Rasa hangat dari cangkir keramik itu menjalar ke telapak tangan, memberikan kenyamanan fisik yang selaras dengan kedamaian batin yang mulai merayap masuk ke dalam dada masing-masing.

"Langit malam selalu punya cara sendiri untuk membuat kita merasa sangat kecil, sekaligus sangat tenang," bisik Zahra lirih, matanya berbinar memantulkan cahaya bintang.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang menenangkan itu perlahan mencair ketika Zahra mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telunjuknya ke arah sekelompok bintang yang membentuk pola tertentu di angkasa luas. Matanya menyipit, menerawang jauh menembus batas atmosfer bumi, seolah sedang membaca sebuah peta kuno yang hanya bisa dipahami oleh hatinya sendiri.

"Lihat rasi bintang itu," kata Zahra penuh antusias, menunjuk formasi bintang pari di ufuk selatan. "Dulu, waktu aku masih kecil, ayahku sering membawaku duduk di sini dan bercerita tentang bintang-bintang navigasi."

Yang lain mendengarkan dalam diam, membiarkan suara lembut Zahra meresap ke dalam keheningan malam.

"Ayah bilang, rasi bintang itu adalah penunjuk arah bagi para pelaut yang tersesat di tengah samudera gelap," lanjut Zahra, senyum tipis terukir di bibirnya, meski ada nada rindu yang kentara dalam setiap penggalan katanya. "Dan sejak saat itu, impian masa kecilku terpahat begitu kuat di dalam dada: aku ingin keliling dunia. Aku ingin melihat lautan luas, berdiri di pelabuhan-pelabuhan asing, dan merasakan angin dari benua yang berbeda."

Ia menurunkan tangannya, menunduk menatap cangkir teh di pangkuannya. Senyum di wajahnya perlahan meredup, menyisakan bayang-bayang kenyataan pahit yang selama ini mengurungnya.

"Tapi impian itu tertimbun begitu saja seiring berjalannya waktu," lanjut Zahra dengan suara yang mulai parau. "Terjebak di rumah ini, merawat dinding-dinding yang lapuk, dan berjuang sekadar untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Kadang, aku merasa impian itu sudah mati tertelan usia."

"Impian tidak pernah benar-benar mati, Zahra," sahut Fathan pelan, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh dukungan. "Ia hanya sedang beristirahat, menunggu waktu yang tepat untuk bangun kembali."

"Benar kata Fathan," tambah Azalia menimpali. "Kita semua punya impian masa kecil yang terpaksa dikubur hidup-hidup karena tuntutan hidup. Tapi bukan berarti kita tidak berhak merajutnya kembali, sekecil apapun bentuknya nanti."

Lihat selengkapnya