Matahari sore menyinari halaman depan rumah warisan keluarga dengan bias keemasan yang hangat, seolah ikut merayakan ketenangan yang baru saja singgah setelah sekian lama diliputi kecemasan. Di ruang tamu yang kini tampak jauh lebih bersih dan tertata rapi dibandingkan beberapa bulan lalu, Arka berdiri kaku di samping meja kayu. Tangannya memegang selembar kertas resmi berstampel basah dari pengadilan negeri setempat yang baru saja diantarkan oleh petugas pos. Kertas itu tampak sederhana, tetapi bagi Arka dan saudara-saudaranya, selembar kertas tersebut bernilai setara dengan kebebasan mutlak dari belenggu yang mencekik leher mereka.
Arka menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi setiap baris kalimat hukum yang tercetak rapi di atas kertas tersebut. Matanya tertuju pada paragraf kesimpulan yang menyatakan secara tegas bahwa gugatan perdata yang diajukan oleh Paman Haris atas kepemilikan sah tanah dan bangunan rumah warisan itu ditolak sepenuhnya oleh majelis hakim demi hukum. Alasan penolakan itu sangat telak: ketiadaan bukti otentik, cacat administrasi pada dokumen yang diajukan pihak penggugat, serta kesaksian palsu yang berhasil dipatahkan oleh tim penasihat hukum bentukan Yassir.
"Bagaimana, Arka? Apa isi surat itu?" suara Fathan terdengar dari ambang pintu dapur, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Langkah kaki sulung itu mendekat dengan cangkir kopi di tangannya, sementara sorot matanya menyiratkan rasa penasaran yang teramat besar.
Arka tidak langsung menjawab. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Fathan dengan senyum tipis yang perlahan mengembang di bibirnya. Sebuah senyuman tulus yang sudah sangat jarang terlihat di wajahnya selama berbulan-bulan terakhir. "Gugatan Paman Haris... ditolak sepenuhnya oleh pengadilan, Fathan," ucap Arka dengan suara yang sedikit bergetar karena luapan emosi yang tertahan. "Kita menang. Paman Haris tidak punya hak lagi atas rumah ini."
Mendengar berita tersebut, Fathan tertegun sejenak. Cangkir kopi yang ada di genggamannya hampir terlepas dari tangan sebelum ia berhasil meletakkannya kembali di atas meja terdekat dengan hati-hati. Kabar itu menyebar ke seluruh penjuru rumah dalam hitungan detik, memancing langkah kaki yang lain untuk bergegas berkumpul di ruang tengah. Yassir, Samaira, Azalia, dan Zahra, yang sedang sibuk membereskan perlengkapan renovasi di bagian belakang, langsung berlari kecil menghampiri Arka dengan napas tersengal-sengal dan ekspresi penuh harap.
"Benarkah itu, Arka? Kau tidak sedang salah baca, kan?" tanya Yassir dengan nada tidak percaya, merebut surat dari tangan Arka dan membaca sendiri setiap kata yang tertera di sana. Begitu ia melihat stempel resmi pengadilan dan tanda tangan hakim ketua, bibir Yassir membentuk lengkungan senyum lebar yang jarang sekali diperlihatkannya. "Luar biasa... Sialan, trik kotor Paman Haris benar-benar mentah di pengadilan!"
Zahra langsung memeluk Samaira erat-erat sambil melompat kegirangan, sementara Azalia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan air mata kelegaan menetes membasahi pipinya. Beban berat yang selama ini menghimpit dada mereka seolah lenyap seketika, terbawa oleh angin sore yang berhembus lembut melalui jendela rumah yang terbuka lebar.
❖ ❖ ❖
Sorak-sorai kemenangan yang begitu meriah seketika menggema, memenuhi setiap jengkal dinding rumah tua itu hingga memantul ke sudut-sudut ruangan. Selama berbulan-bulan, bangunan bersejarah ini hanya akrab dengan suara perdebatan tegang, isak tangis ketakutan, dan suara bising mesin renovasi. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian dekade, rumah tersebut bergetar oleh gelak tawa bahagia dan pelukan hangat antar-saudara yang kini semakin erat menyatu.
"Kita berhasil! Kita benar-benar berhasil mengusir ancaman itu!" seru Samaira dengan suara melengking penuh kemenangan, berputar-putar di tengah ruangan sambil merentangkan tangan. "Paman Haris tidak akan pernah bisa mengusik tempat ini lagi!"
"Sudah kubilang, hukum yang adil tidak akan memihak pada orang serakah seperti dia," timpal Yassir dengan nada bangga, menepuk-nepuk bahu Arka berkali-kali. Sikap sinis dan dingin yang dulu melekat pada diri Yassir kini telah sepenuhnya luntur, digantikan oleh kebanggaan mendalam terhadap perjuangan bersama yang telah mereka lalui sebagai satu keluarga utuh.
Fathan tersenyum lebar sambil merangkul pundak Zahra dan Azalia. "Ini adalah buah dari kerja keras kita semua. Tidak ada yang bisa meruntuhkan rumah ini selama kita berdiri di barisan yang sama."
Zahra mengangguk antusias, menyeka sisa air mata di sudut matanya. "Rasanya seperti mimpi buruk yang panjang akhirnya berakhir, Kak. Aku tidak menyangka kita bisa melewati masa-masa sulit itu."
"Ini bukan mimpi, Zahra. Ini kenyataan yang kita bayar dengan keringat dan air mata kita sendiri," balas Arka lembut, menatap satu per satu wajah saudaranya dengan penuh rasa syukur yang meluap-luap. Suasana di ruang tengah itu terasa begitu hangat, menghapus segala kepedihan masa lalu dan menyatukan kembali kepingan hati mereka yang sempat berserakan.
Kegembiraan itu terus berlanjut tanpa ada niat sedikit pun dari mereka untuk menghentikannya dalam waktu dekat. Setiap sudut rumah tua itu kini seolah bernapas kembali, ikut bersukacita merayakan kemenangan keadilan atas keserakahan keluarga besar mereka sendiri.