Langit kota mendadak berubah gelap gulita seolah-olah malam datang jauh lebih cepat dari jadwalnya. Awan kumulonimbus yang pekat menggantung rendah, menutupi seluruh cakrawala dengan selimut kelabu yang menakutkan. Tanpa aba-aba, tiupan angin kencang berhembus kencang, menerbangkan debu dan ranting-ranting pohon di halaman, disusul oleh deru air hujan yang tumpah ruah dari langit tanpa ampun.
Hujan badai besar itu melanda kota selama dua hari berturut-turut tanpa henti. Suara gemuruh guntur beruntutan menyambar, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah tua yang baru saja direnovasi beberapa waktu lalu. Di dalam rumah, suasana terasa begitu mencekam. Deru angin yang menderu di luar terdengar seperti lolongan panjang yang menghantam dinding-dinding luar dengan kekuatan penuh.
Fathan berdiri di dekat jendela ruang tengah, menatap keluar dengan tatapan cemas. Air hujan turun begitu deras, membentuk tirai putih buram yang menyamarkan pemandangan halaman. Jerih payah mereka selama berminggu-minggu dalam merenovasi struktur dan memperkuat atap kini diuji secara langsung oleh alam.
"Hujannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, Arka," ucap Fathan setengah berteriak agar suaranya terdengar di tengah gemuruh air yang menghantam genting. "Intensitasnya malah semakin meningkat sejak jam dua siang tadi."
Arka, yang baru saja memeriksa kunci-kunci jendela di lantai bawah, berjalan mendekati Fathan dengan langkah sigap. Wajahnya tampak tegang, namun ia berusaha tetap tenang untuk menjaga moral anggota keluarga lainnya.
"Struktur utama yang baru kita perkuat seharusnya bisa menahan beban air ini, Fathan," jawab Arka, mencoba meyakinkan saudaranya sekaligus dirinya sendiri. "Tapi curah hujan ekstrem selama dua hari berturut-turut seperti ini memang di luar perkiraan normal."
Belum sempat Fathan membalas perkataan Arka, sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah lantai atas, disusul oleh kepanikan kecil dari arah koridor kamar tidur utama.
❖ ❖ ❖
"Kak Fathan! Kak Arka! Cepat ke sini!" suara Azalia melengking panik dari lantai atas, memecah konsentrasi kedua pria di ruang tengah.
Tanpa buang waktu, Fathan dan Arka langsung berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Begitu tiba di lantai atas, mereka mendapati Azalia dan Zahra berdiri di depan pintu kamar tidur utama dengan wajah pucat pasi. Air sudah mulai merembes masuk ke dalam ruangan, mengalir deras dari celah-celah langit-langit kamar.
"Ada apa, Zalia?" tanya Fathan dengan napas memburu, langsung menerobos masuk ke dalam kamar tidur utama.
Pemandangan di dalam kamar tersebut membuat jantung Fathan seolah copot. Titik kebocoran baru yang cukup besar muncul tepat di sudut langit-langit kamar utama. Air hujan tumpah melalui lubang tersebut, menetes deras dan menggenangi lantai kamar yang berlapis kayu. Genangan itu kini sudah merambah ke dekat lemari pakaian besar dan tumpahan airnya mengancam tumpukan buku serta dokumen penting yang tersimpan di rak bawah.
"Kebocorannya tepat di atas lemari kayu, Kak!" seru Zahra dengan suara bergetar, menunjuk ke arah air yang terus mengalir deras. "Tadi airnya tiba-tiba merembes lewat retakan kecil, lalu plesterannya rontok dan sekarang airnya tumpah makin besar!"
Fathan mendekati genangan air tersebut, wajahnya mengeras menahan kekecewaan dan amarah pada diri sendiri. "Bagaimana bisa? Padahal bagian ini sudah kita lapisi dengan bahan anti-bocor impor yang kemarin dikirim secara misterius!"