Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Pagar yang Roboh

Malam sebelumnya, langit di atas kawasan perumahan padat penduduk sempat mengamuk tanpa ampun. Angin kencang berputar-putar membawa deru suara yang menakutkan, disusul oleh hantaman air hujan yang tumpah ruah seolah langit sedang menumpahkan seluruh isi lautan. Petir menyambar-nyambar dengan kilatan cahaya putih menyilaukan, membuat suasana rumah kos tempat keempat pemuda dan pemudi itu tinggal terasa semakin mencengkam. Di dalam kamar masing-masing, mereka hanya bisa berdoa agar badai tersebut lekas berlalu tanpa meninggalkan kerusakan yang berarti di sekitar tempat tinggal mereka.

Namun, harapan itu buyar seketika begitu matahari pagi memancarkan sinar pertamanya ke bumi. Ketika pintu depan rumah kos dibuka lebar-lebar oleh Azalia, pemandangan yang menyambut matanya sungguh di luar dugaan dan sukses membuat jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa. Pagar samping rumah yang terbuat dari batako dan semen tua tampak sudah ambruk total. Reruntuhan tembok batu bata berserakan di atas tanah, menimpa pot-pot bunga dan deretan tanaman hias kesayangan yang selama ini dirawat oleh Azalia dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang setiap hari.

"Ya Tuhan..." gumam Azalia pelan, suaranya tercekat di tenggorokan begitu melihat kondisi teras samping rumahnya yang kini tampak porak-poranda.

Ia segera berlari kecil menghampiri puing-puing reruntuhan tersebut. Langkah kakinya terhenti tepat di depan tumpukan batako yang berserakan. Tanpa memedulikan debu dan sisa lumpur basah yang mengotori sandal rumahnya, Azalia berjongkok perlahan. Pemandangan di hadapannya benar-benar membuat hatinya terasa perih. Pagar samping yang biasanya berdiri kokoh membatasi halaman rumah kos dengan jalan setapak kini tinggal kenangan, berubah menjadi hamparan puing abu-abu yang menimbun sudut halaman.

Tidak lama kemudian, Zahra dan Arka menyusul keluar rumah setelah mendengar suara seruan kaget dari Azalia. Mereka berdua terbelalak lebar menyaksikan kerusakan parah yang diakibatkan oleh terjangan badai semalam. Udara pagi yang biasanya terasa sejuk mendadak berubah menjadi kaku, dipenuhi oleh keheningan yang sarat akan rasa prihatin.

"Wah, kerusakannya parah sekali," ucap Arka sambil menggelengkan kepala perlahan, menatap tumpukan batako yang meratakan sisi samping halaman. "Badai semalam benar-benar luar biasa kekuatan anginnya. Tembok tua seperti ini pasti tidak sanggup menahan tekanan angin yang berputar kencang."

"Iya, Arka. Tapi bukan cuma masalah temboknya saja yang ambruk," kata Azalia dengan nada suara bergetar menahan tangis, menunjuk ke arah tumpukan reruntuhan di dekat sudut dinding. "Lihat tanaman-tanaman hias di sana. Semuanya hancur tertimpa reruntuhan batako."

Zahra ikut mendekat, lalu menepuk pundak Azalia pelan untuk memberikan ketenangan. "Yang sabar ya, Za. Ini musibah alam, tidak ada yang bisa menduga kapan bencana kecil seperti ini akan datang melanda rumah kita."

❖ ❖ ❖

Azalia bangkit berdiri secara perlahan, melangkah mendekati tumpukan reruntuhan batako yang menimbun sudut halaman samping. Dengan hati-hati, ia mencoba menyingkirkan pecahan batu bata kecil menggunakan kedua tangannya yang kini mulai dikotori debu semen. Hatinya semakin terasa sesak ketika ia mendapati kenyataan yang lebih menyedihkan di balik tumpukan puing-puing tersebut.

Di sana, di antara pecahan batako yang berat, pot-pot tanah liat kesayangannya pecah berkeping-keping. Dan yang paling membuat dadanya terasa nyeri adalah kondisi deretan bunga anggrek bulan ungu dan putih yang selama berbulan-bulan ia rawat dengan penuh dedikasi. Batang-batang utamanya tampak patah terkulai, helai-helai kelopak bunganya yang tadinya mekar indah kini terkoyak dan kotor tercampur lumpur basah sisa air hujan semalam. Anggrek-anggrek itu adalah hadiah istimewa dari ibunya saat pertama kali ia merantau ke kota ini, sehingga nilai emosionalnya sangat tinggi bagi Azalia.

"Anggrek-anggrekku..." bisik Azalia lirih, air mata hangat akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya yang pucat. Ia berlutut di atas tanah yang lembap, memungut salah satu tangkai bunga yang patah dengan jari-jarinya yang sedikit bergetar. "Padahal minggu lalu baru saja mulai keluar tunas bunganya yang baru. Kenapa harus rusak separah ini?"

Zahra segera berlutut di samping Azalia, merangkul pundak sahabatnya itu dengan erat. "Sabar ya, Za. Jangan sedih terus. Nanti kita coba cari cara untuk merawat sisa batangnya. Siapa tahu masih ada bagian akar yang bisa diselamatkan dan tumbuh kembali."

"Sulit, Zahra," jawab Azalia terisak pelan di sela isakannya. "Batangnya patah tepat di bagian pangkal utama. Tanaman ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Rasanya sedih sekali melihat kerja kerasku selama berbulan-bulan rusak dalam waktu semalam saja gara-gara badai."

Arka yang berdiri tidak jauh dari mereka menghela napas panjang, ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Azalia. Pemuda itu menyadari bahwa masalah pagi ini bukan sekadar urusan fisik tentang pagar rumah yang ambruk, melainkan juga menyangkut perasaan kehilangan barang-barang kesayangan yang memiliki kenangan tersendiri bagi para penghuni rumah kos. Namun, di tengah suasana duka kecil akibat tanaman yang rusak itu, masalah yang jauh lebih mendesak segera menuntut perhatian mereka semua: bagaimana cara membersihkan puing-puing reruntuhan dan membangun kembali pagar samping yang kini menganga tanpa perlindungan, sementara kas keuangan rumah kos sedang berada di titik nadir?

❖ ❖ ❖

Suasana di ruang tamu rumah kos terasa cukup senyap menjelang siang hari setelah sarapan sederhana selesai disantap dalam keheningan. Masing-masing penghuni memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah pagar yang ambruk tersebut. Di tengah kebingungan itu, Yassir yang sejak pagi tampak sibuk memeriksa sisa-sisa material di gudang belakang tiba-tiba melangkah masuk ke ruang tamu dengan membawa kabar yang cukup melegakan.

Yassir meletakkan sebuah gulungan kawat pengikat kecil dan beberapa potongan siku besi ke atas meja tamu dengan suara debuman ringan. Ia menatap rekan-rekan serumahnya satu per satu dengan senyuman percaya diri di wajahnya.

Lihat selengkapnya