Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Krisis Dompet Kas

Malam itu, lampu meja di ruang tengah memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, memperlihatkan wajah-wajah lelah yang berkumpul melingkar di atas karpet usang. Suasana rumah tinggal bersama itu terasa begitu sunyi, jauh lebih sunyi dari biasanya. Di hadapan mereka berenam, sebuah brankas besi kecil berwarna hitam legam terbuka lebar. Arka, yang bertugas memegang kendali keuangan rumah tangga kolektif tersebut, menghela napas panjang dengan berat. Jemarinya dengan ragu merogoh bagian dalam brankas yang tampak kosong melompong, menyisakan satu lembar uang kertas pecahan kecil yang tampak lecek di sudut dasar besi.

Arka mengangkat lembar uang kertas terakhir itu tinggi-tinggi, menunjukkannya ke hadapan semua orang agar terlihat jelas di bawah sorotan lampu.

"Teman-teman, mari kita hadapi kenyataan malam ini," ucap Arka dengan suara parau, mencoba menjaga nada bicaranya tetap tenang meski kecemasan terpancar jelas di matanya. "Saldo kas rumah kita saat ini... resmi menyisakan lembar uang kertas terakhir ini di dalam brankas."

Seketika, ruangan itu menjadi senyap. Tidak ada yang bersuara. Semua mata terpaku pada selembar uang kertas yang melambai lemah di antara jemari Arka. Lembaran itu bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol tipis yang memisahkan mereka dari jurang kebangkrutan total. Selama beberapa bulan terakhir, mereka berenam berjuang bersama menyatukan hidup di bawah satu atap, menghadapi berbagai badai kecil dan besar. Namun, hantaman krisis finansial kali ini datang tanpa diduga, menguji ketahanan mental dan kebersamaan mereka di titik paling rentan.

"Bagaimana bisa sampai separah ini, Arka?" tanya Dimas pelan, memecah keheningan dengan nada tidak percaya sambil melipat kedua tangannya di dada. "Bukankah bulan lalu kita masih memiliki cadangan untuk biaya utilitas dan belanja mingguan?"

"Biaya perbaikan pipa air yang bocor minggu lalu dan lonjakan tarif listrik menghabiskan sebagian besar cadangan kita," jawab Arka lugas, meletakkan kembali lembar uang tersebut ke dalam brankas kosong. "Pendapatan dari proyek sampingan kita belum cair, sementara tagihan mendesak sudah menumpuk di depan mata."

Rian, yang duduk bersandar di sofa kayu, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Ini gila. Kalau begini caranya, kita bahkan tidak akan bisa membeli bahan makanan untuk tiga hari ke depan, apalagi membayar cicilan rumah."

Kecemasan merayap masuk ke dalam dada setiap orang yang duduk di sana. Udara di dalam ruangan terasa semakin menipis, seolah dinding-dinding rumah ikut merapat menghimpit napas mereka. Dompet kas yang biasanya menjadi sumber ketenangan kini berubah menjadi ancaman nyata yang siap memorak-porandakan kedamaian yang sudah susah payah mereka bangun bersama.

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tengah mendadak hening seketika mendengar laporan keuangan tersebut. Keheningan itu terasa begitu pekat dan menyesakkan, seolah seluruh oksigen di dalam ruangan tersedot habis oleh keputusasaan. Tidak ada yang berani membuka suara atau sekadar menghela napas terlalu keras. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikiran berkecamuk di dalam kepala, menerka-nerka masa depan suram yang mungkin akan segera menghantam kehidupan bersama mereka.

Maya, yang duduk di sudut sofa, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya saling meremas erat di atas pangkuan roknya. "Apakah... apakah kita harus membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing?" bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam di dalam keheningan malam.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, namun dampaknya terasa seperti hantaman palu besar di tengah ruangan. Semua orang sontak menoleh ke arah Maya dengan tatapan terkejut. Gagasan untuk membubarkan rumah tinggal bersama itu adalah hal tabu yang tidak pernah berani diucapkan oleh siapa pun sebelumnya. Tempat itu bukan sekadar bangunan fisik tempat mereka bernaung, melainkan tempat perlindungan terakhir bagi jiwa-jiwa yang lelah menghadapi kerasnya dunia luar.

"Jangan bicara bodoh, Maya," tukas Rian cepat, meskipun nada suaranya sendiri terdengar bergetar menahan cemas. "Kita tidak akan menyerah semudah itu hanya karena masalah uang."

"Lalu apa solusi kita, Rian?" tantang Dimas dengan nada getir. "Kenyataannya brankas itu kosong. Kita tidak punya uang tunai, tabungan pribadi kita sudah terkuras habis bulan lalu untuk keperluan darurat masing-masing. Mau tidak mau, kita harus realistis."

Arka menutup pintu brankas besi itu dengan bunyi klak yang tegas, menghentikan perdebatan kecil yang mulai memanas. "Aku tidak akan membiarkan rumah ini bubar," tegas Arka, menatap satu per satu wajah teman-tujuannya dengan sorot mata penuh tekad. "Pasti ada jalan keluar lain sebelum kita memutuskan hal ekstrim seperti itu. Kita hanya perlu mencari cara bersama."

"Cara apa lagi, Arka? Kita sudah memutar otak seharian penuh," timpal Maya dengan mata berkaca-kaca. "Pengeluaran kita jauh lebih besar daripada pemasukan saat ini."

Ketegangan di ruang tengah mencapai puncaknya. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, dibebani oleh rasa putus asa yang semakin menumpuk. Tidak ada yang tahu harus berbuat apa lagi untuk menyelamatkan kondisi finansial yang sudah berada di ujung tanduk tersebut.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya