Suara ritsleting ransel kain kanvas ditarik dengan kasar memecah kesunyian pagi hari di kamar Fathan yang sempit. Di atas tempat tidur kayunya yang beralaskan kasur busa tipis, Fathan berdiri tegak sambil melipat beberapa lembar pakaian kerja dan memasukkannya dengan rapi ke dalam tas ransel berwarna hijau lumut tersebut. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah kaca jendela yang berdebu, menyoroti butiran debu yang beterbangan bebas di udara kamar. Hari ini adalah hari keberangkatannya menuju sebuah proyek konstruksi di luar kota—sebuah keputusan mendesak yang terpaksa ia ambil demi menutupi tumpukan kebutuhan finansial rumah tua yang semakin menghimpit.
"Semuanya sudah masuk, tinggal charger ponsel dan jaket tebal ini," gumam Fathan pelan pada dirinya sendiri, memastikan tidak ada satu pun perlengkapan penting yang tertinggal di kamar kos-kosan sementara di rumah tua itu.
Ia menarik napas panjang, meresapi aroma kamar yang bercampur antara bau kayu tua dan minyak angin. Keberangkatan ini sebenarnya bukanlah hal yang ia inginkan. Meninggalkan saudara-saudaranya dan suasana rumah yang mulai hangat di tengah badai masalah selalu meninggalkan rasa tidak tenang di dalam dadanya. Namun, desakan ekonomi dan tagihan yang terus menumpuk di meja depan tidak memberikan banyak pilihan lain baginya selain pergi merantau sementara waktu.
"Fathan, apa semua barangmu sudah beres? Jangan sampai ada yang ketinggalan, terutama obat lambungmu," suara Arka terdengar dari ambang pintu kamar yang terbuka setengah. Kakak sulung itu berdiri sambil bersandar pada kusen pintu, wajahnya menyiratkan guratan kelelahan namun ada sorot kepedulian yang mendalam di matanya.
Fathan menoleh dan mengangguk pelan sambil tersenyum kecil untuk menenangkan kakaknya. "Sudah beres, Mas. Obat lambung sama vitamin juga udah kumasukkan ke kantong depan ransel. Tenang saja, aku tahu cara jaga diri di tempat orang."
Arka melangkah masuk mendekati tempat tidur, membantu Fathan merapikan tali ransel yang sedikit terpintal. "Hati-hati di sana, Fathan. Proyek di luar kota itu kabarnya cukup berat persyaratannya, dan cuacanya jarang bersahabat. Kalau ada apa-apa, langsung beri kabar kami secepat mungkin, jangan ditanggung sendiri."
"Pasti, Mas. Aku cuma pergi beberapa bulan untuk menyelesaikan kontrak ini, setelah itu aku pasti langsung pulang," balas Fathan meyakinkan, meski di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sendiri merasa berat melangkah keluar dari halaman rumah tersebut.
❖ ❖ ❖
Suasana di halaman depan rumah tua itu mendadak terasa begitu sunyi dan berat ketika Fathan melangkah keluar membawa ransel berat di punggungnya. Di teras depan, Azalia berdiri mematung dengan kedua tangan saling meremas di depan dada. Ekspresi wajah wanita itu menyiratkan beban berat yang sulit disembunyikan—campuran antara rasa cemas, enggan melepas, dan kerinduan dini yang mendadak mencengkeram hatinya.
"Kamu beneran harus berangkat pagi ini, Fathan?" tanya Azalia dengan suara tertahan begitu Fathan berdiri tepat di hadapannya. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, memantulkan bayangan Fathan yang berdiri siap dengan pakaian lapangan kasualnya.
Fathan menghentikan langkahnya sejenak, menatap Azalia lekat-lekat. Ada ketulusan yang luar biasa terpancar dari sorot mata wanita yang selama ini telah banyak membantunya melewati masa-masa sulit di rumah tersebut. "Iya, Zal. Tiket bus keberangkatanku sudah di tangan, dan rekan kerjanya sudah menunggu di terminal. Kalau aku tunda lagi, kontrak kerjanya bisa lepas ke orang lain."
"Aku tahu... tapi rasanya terlalu cepat," sahut Azalia lirih, kepalanya menunduk sejenak untuk menyembunyikan bulir air mata kecil yang nyaris tumpah ke pipinya. "Rumah ini baru saja mulai terasa utuh setelah sekian lama kacau, dan sekarang... kamu malah harus pergi jauh."
Fathan tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan emosional yang menggelayut di antara mereka berdua di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi. "Aku cuma pergi kerja, Zal, bukan merantau ke negeri seberang yang nggak bisa dijangkau. Aku pasti bakal sering-sering telepon kamu."
Azalia mendengus pelan, setengah tersenyum di tengah kesedihannya. "Telepon itu gampang diomongin, Fathan. Tapi sinyal di daerah proyek tempatmu bekerja itu terkenal buruk. Jangan beri aku janji manis kalau akhirnya nanti aku cuma bisa gigit jari nungguin pesanmu masuk."
"Janji, Dokter galak. Aku bakal usahakan cari sinyal paling tinggi di sana walau harus memanjat pohon kelapa," canda Fathan lembut, membuat sudut bibir Azalia akhirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tulus.
Meski berat hati melepas kepergian Fathan, Azalia tahu ia tidak boleh menahan pria itu lebih lama lagi. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman, sebuah gestur sederhana yang terasa sangat bermakna di detik-detik terakhir perpisahan sementara itu.
❖ ❖ ❖
Sebelum benar-benar melangkahkan kaki meninggalkan gerbang rumah tua, Fathan menarik Arka agak menjauh dari kerumunan anggota keluarga lainnya yang ikut mengantar ke teras. Wajah Fathan berubah serius, menunjukkan ada hal penting yang ingin ia sampaikan secara empat mata kepada sang kakak sulung.
"Ada apa, Fathan? Kenapa kelihatan serius banget mau ngomong?" tanya Arka heran sambil menatap adiknya dengan penuh perhatian.