Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan bias warna jingga kemerahan yang memantul di kaca jendela rumah. Azalia berdiri di dekat meja dapur, tangannya memegang gagang telepon rumah yang kabelnya melilit erat di jarinya. Suasana rumah yang tadinya tenang mendadak terasa begitu sesak ketika suara dengung sambungan jarak jauh terdengar di telinganya.
Ayahnya, Fathan, sedang berada di luar kota untuk mengurus urusan pekerjaan penting terkait proyek konstruksi yang tengah mereka garap demi menyelamatkan keuangan keluarga. Sudah tiga hari Fathan meninggalkan rumah, dan setiap malam Azalia selalu menunggu dengan cemas dering telepon dari ayahnya.
"Halo, Yah? Ini aku, Azalia," kata gadis remaja itu dengan suara lembut, berharap sambungan bisa terhubung dengan jernih di tengah cuaca yang mulai gerimis.
Beberapa detik berlalu hanya menyisakan suara derau statis dari kabel telepon. Namun, sesaat sebelum suara Fathan menyapa dari seberang, telinga Azalia menangkap sebuah suara lain yang membuat napasnya seketika tertahan di tenggorokan.
Di latar belakang sambungan telepon tersebut, sayup-sayup terdengar suara tawa seorang wanita asing yang disusul oleh kalimat pendek bernada akrab. "Fathan, berkas laporan akhir konstruksi untuk bagian fondasi utama sudah saya letakkan di atas meja kerja ya. Jangan lupa diperiksa sebelum diserahkan besok pagi."
Suara itu terdengar begitu jelas, meskipun samar-samar tertutup oleh bisingnya suasana ruangan di tempat Fathan berada. Jantung Azalia berdegup kencang. Ia belum pernah mendengar suara wanita itu sebelumnya, apalagi dengan nada bicara yang begitu santai dan dekat kepada ayahnya di luar jam kerja.
"Halo, Zali? Kamu masih di sana, Nak?" suara Fathan akhirnya terdengar dari ujung telepon, menyadarkan Azalia dari lamunannya yang mendadak dipenuhi oleh ribuan kecurigaan liar.
❖ ❖ ❖
Kecemburuan buta dan rasa tidak percaya seketika menguasai hati Azalia. Pikirannya langsung melayang ke mana-mana, membayangkan berbagai skenario buruk yang tidak-tidak. Di usianya yang menginjak remaja, emosi sering kali datang lebih cepat daripada nalar jernih. Bayangan tentang keharmonisan rumah tangga ayahnya dan ibu tirinya, Zahra, mendadak terasa goyah hanya karena sepotong suara wanita asing di latar belakang telepon.
"Zali? Kenapa diam saja? Ada apa, Nak?" tanya Fathan kembali dari ujung sana, suaranya terdengar sedikit khawatir karena putrinya tidak kunjung memberikan respons.
Azalia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga terasa sakit. Air mata hangat tanpa disadari mulai menggenang di pelupuk matanya, mendesak keluar akibat rasa kecewa yang tiba-tiba membuncah di dada. Ia merasa dikhianati oleh situasi yang tidak ia pahami sepenuhnya.
"Tidak apa-apa, Yah," jawab Azalia dengan suara bergetar hebat, berusaha mati-matian menahan isak tangis yang hampir lepas dari tenggorokannya. "Teleponnya terputus-putus. Aku mau tidur saja."
"Eh, tunggu dulu, Zali! Ayah baru mau—”
KLIK!
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari ayahnya, Azalia langsung membanting gagang telepon ke atas dudukannya secara sepihak. Sambungan terputus seketika, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tengah. Gadis itu berdiri mematung di samping meja telepon, dadanya naik turun menahan amarah bercampur sedih yang bercampur aduk menjadi satu.
Ia tidak peduli jika ayahnya akan menelepon kembali. Bagi Azalia saat itu, suara wanita di latar belakang telepon sudah menjadi bukti mutlak bahwa ada rahasia yang disembunyikan oleh Fathan di balik kesibukan kerjanya di luar kota.
❖ ❖ ❖