Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Kabar dari Lokasi Proyek

Siang hari yang panas terik mendadak berubah menjadi mimpi buruk ketika dering telepon rumah berdering nyaring, memecah kesunyian ruang tamu keluarga Azalia. Suara dering itu terdengar begitu tajam, menusuk gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Azalia yang sedang menyapu lantai menghentikan gerakannya seketika. Firasat buruk langsung menghantam dadanya dengan keras. Jantungnya berdegup kencang seolah melompat keluar dari rongga dadanya. Di sudut ruangan, Arka yang sedang memeriksa berkas-berkas penting langsung bangkit dari kursinya dan menyambar gagang telepon rumah dengan tangan yang sedikit bergetar.

"Halo? Ya, ini dengan siapa?" suara Arka terdengar berat, mencoba menjaga ketenangannya di tengah keheningan rumah.

Beberapa detik berlalu tanpa suara yang jelas dari seberang sambungan, hanya terdengar desau angin dan suara bising kendaraan sebelum akhirnya sebuah suara panik seorang pria paruh baya menyapa telinga Arka.

"Selamat siang, apakah benar ini dengan keluarga Bapak Fathan, arsitek proyek pembangunan di distrik barat?" tanya suara di seberang sana dengan nada tergesa-gesa. "Kami dari pihak pengawas lapangan ingin mengabarkan berita darurat. Baru saja terjadi kecelakaan kerja di lokasi proyek. Perancah besi utama runtuh akibat angin kencang, dan Fathan... Fathan tertimpa reruntuhan material saat sedang memeriksa fondasi bawah."

Dunia seakan berhenti berputar bagi Arka. Telepon di tangannya nyaris terlepas. Berita kecelakaan itu menyebar ke seluruh penjuru rumah kecil mereka dalam hitungan detik. Wajah Naya dan Yassir yang mendengarnya langsung memucat pasi, sementara Azalia jatuh bersimpuh di lantai dengan sapu yang terlepas dari genggamannya. Kabar itu menghantam keluarga mereka bagaikan petir di siang bolong, membawa gelombang kepanikan luar biasa yang merenggut kesadaran sesaat dari setiap penghuni rumah.

"Fathan..." bisik Azalia lirih, bibirnya bergetar hebat. Bayangan senyuman hangat sang pemuda arsitek seketika berkelebat di dalam kepalanya, digantikan oleh kengerian membayangkan kecelakaan maut yang merenggut keselamatan Fathan di tempat jauh sana.

❖ ❖ ❖

Suara tangisan yang tertahan perlahan berubah menjadi isakan histeris yang memecah kesunyian rumah. Azalia tidak lagi mampu menahan air matanya. Tangisannya pecah begitu deras, membasahi pipinya yang pucat. Di tengah kepedihan yang mendalam itu, sebuah kesadaran telak menghantam batinnya dengan sangat keras. Selama ini, ia selalu berusaha menyangkal atau menyembunyikan perasaan yang tumbuh di dalam hatinya terhadap Fathan di balik kesibukan rumah tangga dan tumpukan masalah hidup yang melilit. Ia mengira hubungan mereka tidak lebih dari sekadar rekan kerja atau teman biasa yang kebetulan dipertemukan dalam situasi sulit.

Namun, mendengar kabar kecelakaan mengerikan ini, pertahanan emosional Azalia runtuh berkeping-keping. Ia menyadari sepenuhnya betapa besar, betapa dalam, dan betapa berartinya kehadiran Fathan di dalam hidupnya. Fathan bukan lagi sekadar orang lain; pemuda itu telah menjadi tempatnya bersandar, pelita kecil di tengah kegelapan hidup keluarganya. Kehilangan Fathan, atau bahkan sekadar membayangkan Fathan terluka parah di tempat yang jauh, terasa seperti merenggut separuh nyawa dari tubuh Azalia sendiri.

"Tidak... kumohon jangan dia," rintih Azalia di antara isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi, mencengkeram erat lantai keramik yang dingin dengan jemarinya yang gemetar.

Yassir bergegas mendekati kakaknya, berlutut di samping Azalia lalu merangkul pundak sang kakak dengan penuh rasa iba. "Sabar, Kak. Kita berdoa semoga Fathan baik-baik saja. Jangan berasumsi yang tidak-tidak sebelum kita tahu kepastiannya," ucap Yassir menenangkan, meskipun suaranya sendiri ikut bergetar menahan rasa cemas yang teramat sangat.

Azalia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar. Rasa takut kehilangan orang yang dicintai untuk pertama kalinya merasuk begitu telak, membuat seluruh dunia di sekitarnya terasa hampa dan menakutkan.

❖ ❖ ❖

Arka mondar-mandir di ruang tamu dengan ponsel di tangan kanannya, mencoba menghubungi nomor darurat rumah sakit tempat Fathan dilarikan, atau setidaknya mencari akses transportasi tercepat menuju lokasi proyek di luar kota. Namun, ekspresi wajah Arka semakin mengeras dan dipenuhi keputusasaan setiap kali ia mendapatkan kenyataan pahit dari sambungan telepon tersebut.

"Sial!" gerutu Arka pelan sambil membanting ponselnya ke atas meja sofa dengan frustrasi.

Lihat selengkapnya