Langit sore di atas kota perlahan berubah menjadi gradasi jingga dan keunguan yang menawan, menandakan hari berangsur malam. Di tengah kesibukan jalanan yang mulai padat oleh kendaraan sepulang kerja, sebuah mobil sedan hitam berhenti mulus di depan gerbang rumah tua keluarga. Mesin mobil dimatikan, dan dari kursi pengemudi, Fathan melangkah keluar dengan senyuman sumringah yang menghiasi wajah lelahnya. Tidak sendiri, di sampingnya, Azalia—rekan kerja sekaligus arsitek muda yang selama beberapa minggu terakhir mendampinginya menggarap proyek besar di luar kota—ikut turun sambil merapikan tas kerjanya.
Fathan dan Azalia kembali ke rumah bersama-sama dengan senyum sumringah di wajah mereka, memancarkan aura kelegaan dan keberhasilan yang luar biasa. Proyek pembangunan kompleks komersial di luar kota yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran mereka selama berbulan-bulan akhirnya selesai dengan sukses besar. Keduanya berjalan berdampingan memasuki halaman rumah, menikmati angin sepoi-sepoi sore yang membawa kesejukan setelah sekian lama berkutat di bawah terik matahari proyek konstruksi.
"Akhirnya kita bisa menginjakkan kaki kembali di rumah ini, Azalia," ucap Fathan sambil menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma familiar dari halaman rumah keluarganya.
"Iya, Fathan. Rasanya seperti mimpi bisa menyelesaikan proyek sebesar itu tepat waktu tanpa ada kendala berarti," balas Azalia dengan tawa renyah, matanya berbinar menatap bangunan rumah tua yang berdiri kokoh menyambut kedatangan mereka.
Kepulangan mereka sore itu tidak luput dari perhatian penghuni rumah. Dari balik jendela ruang tamu, Zahra yang kebetulan sedang melipat tirai jendela langsung menyipitkan mata. Begitu melihat Fathan keluar dari mobil bersama seorang wanita cantik berpenampilan modis namun ramah, sudut bibir Zahra langsung terangkat membentuk senyongan penuh arti. Tanpa membuang waktu, Zahra segera meletakkan pekerjaannya dan bergegas melangkah keluar menuju teras depan untuk menyambut kedatangan sang arsitek yang baru saja pulang dengan membawa kabar gembira.
Suasana sore itu mendadak terasa lebih cerah. Pulangnya Fathan bukan sekadar kepulangan biasa dari perjalanan dinas yang melelahkan, melainkan sebuah pertanda bahwa jerih payah dan kerja keras yang ia curahkan selama ini akhirnya membuahkan hasil manis yang akan mengubah nasib keuangan keluarga mereka yang sempat terpuruk.
❖ ❖ ❖
Zahra langsung menggoda Azalia setibanya mereka di halaman rumah, menciptakan suasana canggung bercampur tawa yang langsung mencairkan kelelahan di antara mereka. Begitu Fathan dan Azalia menapaki anak tangga teras, Zahra sudah berdiri menyambut dengan tangan bersidekap dan senyuman usil yang mengembang di wajahnya.
"Wah, wah... rupanya arsitek kita pulangnya tidak sendirian sekarang," seru Zahra dengan nada jenaka, sengaja mengerling ke arah Azalia yang berdiri di sebelah Fathan. "Pantas saja selama di luar kota jarang sekali memberi kabar ke rumah, ternyata ada rekan kerja yang setia menemani setiap hari."
Azalia kontan merona merah. Pipinya mendadak panas, salah tingkah menghadapi sambutan hangat sekaligus godaan terang-terangan dari adik Fathan tersebut. Ia merapikan helaian rambutnya yang tertiup angin sambil tersenyum malu-malu. "Halo, Kak Zahra. Wah, sambutannya luar biasa sekali ya sore ini," balas Azalia sopan, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya.
Fathan menggelengkan kepala pelan, tersenyum geli melihat tingkah Zahra yang selalu saja punya bahan untuk menggoda siapa pun. "Sudahlah, Zahra. Jangan mulai menjahili Azalia terus. Kasihan dia baru saja turun dari mobil setelah menempuh perjalanan berjam-jam," bela Fathan sambil meletakkan koper kecilnya di dekat pintu.
"Aku kan hanya berkata jujur, Fathan," timpal Zahra dengan mata berbinar-binar menggoda. Ia kemudian melangkah maju dan merangkul pundak Azalia dengan akrab. "Tapi jujur saja, aku senang sekali akhirnya kamu bisa datang berkunjung langsung ke rumah kami, Azalia. Fathan sering sekali menceritakan betapa hebatnya kamu dalam menangani desain struktur bangunan selama di proyek."
Azalia tersenyum lebar, rasa canggungnya perlahan sirna digantikan oleh kehangatan sambutan keluarga tersebut. "Terima kasih banyak, Kak Zahra. Justru aku yang banyak belajar dari Fathan. Dia adalah pemimpin tim yang sangat sabar dan profesional di lapangan."
Perbincangan ringan di teras depan itu langsung menarik perhatian anggota keluarga lainnya yang berada di dalam rumah, menandakan bahwa kepulangan Fathan kali ini membawa energi positif yang sudah lama dirindukan oleh seluruh isi rumah.
❖ ❖ ❖