Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Rahasia Yassir Terbongkar

Matahari sore baru saja merayap turun di balik rimbunnya pohon mangga di pekarangan rumah tua keluarga mereka. Suasana di dalam rumah terasa begitu tenang, diwarnai oleh dengung kipas angin tua di sudut ruang tengah dan suara ketukan keyboard laptop yang berirama konstan. Yassir, si bungsu yang dikenal paling tenang dan rasional, sedang duduk serius di dekat jendela ruang tamu sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan administrasi kuliahnya. Di luar, angin sepoi-sepoi menggoyangkan daun-daun kering yang berserakan di halaman depan.

Ketenangan sore itu mendadak terusik ketika Arka melangkah masuk melalui pintu pagar setelah pulang dari toko buku langganannya. Sambil membawa beberapa kantong belanjaan kertas, Arka sempat menunduk untuk mengambil sebuah amplop berwarna cokelat muda yang tampak terselip secara tidak rapi di celah-celah besi pagar depan.

"Eh, surat apa ini? Terselip di pagar segala," gumam Arka pelan, mengamati amplop tersebut tanpa ada niat buruk untuk mengintip isinya.

Ia berjalan masuk ke teras dan langsung mendorong pintu utama yang tidak terkunci rapat. "Fathan! Azalia! Paket buku desain grafis pesanan kalian sudah datang nih!" seru Arka sambil meletakkan kantong belanjaan di atas meja ruang tengah.

Namun, pandangan matanya kembali tertuju pada amplop cokelat di tangannya. Di bagian sudut amplop itu, tercetak jelas logo sebuah bank swasta terkenal dengan tulisan tebal berbunyi: PEMBERITAHUAN TUNGGAKAN PEMBAYARAN KARTU KREDIT. Yang membuat Arka langsung menelan ludahnya dengan susah payah adalah nama yang tertera sebagai pemegang kartu tersebut bukan namanya, bukan pula nama Fathan, melainkan nama almarhum ayah kandung Yassir yang telah lama meninggalkan jejak kelam di masa lalu.

"Tunggu dulu... ini punya siapa?" bisik Arka penuh tanya, merasa ada sesuatu yang tidak beres.

❖ ❖ ❖

Arka menarik napas dalam-dalam, lalu memutuskan untuk membuka amplop tersebut demi memastikan apakah surat itu hanya salah alamat atau memang ada kaitannya dengan urusan keluarga mereka. Jari-jarinya dengan hati-hati merobek bagian atas amplop kertas daur ulang itu. Matanya menyapu barisan kalimat formal yang tercetak di atas lembar tagihan resmi tersebut.

Jumlah tunggakan yang tertera di sana tidak main-main—angka nominalnya mencapai puluhan juta rupiah, membengkak akibat denda keterlambatan selama berbulan-bulan. Di bawah lembar tagihan itu, terselip pula secarik kertas bukti transfer bank dengan nama pengirim yang sangat akrab di mata Arka.

"Yassir..." desis Arka lirih, matanya membelalak tak percaya.

Nama yang tercantum sebagai penyetor cicilan rutin setiap bulannya adalah Yassir Ramadhan, adik bungsu mereka yang selama ini dikenal paling hemat dan jarang meminta uang saku lebih. Arka terpaku di tempatnya, menatap lembar demi lembar bukti transfer yang menunjukkan bahwa Yassir telah menguras hampir seluruh tabungan pribadi dari hasil kerja sambilannya sebagai desainer lepas demi mencicil utang peninggalan sang ayah yang gemar berjudi dan berfoya-foya di masa lalu.

"Ada apa, Arka? Kenapa kamu berdiri mematung begitu?" tanya Fathan yang tiba-tiba muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air hangat.

Arka menoleh dengan wajah pucat pasi. Ia menyodorkan lembar tagihan bank dan bukti transfer itu ke tangan Fathan. "Coba kamu lihat ini, Fathan. Yassir... selama ini dia diam-diam menanggung seluruh utang ayah sendirian tanpa pernah cerita ke kita."

Fathan membaca sekilas isi kertas di tangannya. Rahang pemuda itu mengeras seketika, matanya menyiratkan kemarahan bercampur rasa bersalah yang teramat dalam karena telah kecolongan melihat penderitaan sang adik bungsu.

Lihat selengkapnya