Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Menyelesaikan Masa Lalu

Matahari pagi belum sepenuhnya meninggikan sinarnya di atas langit kota, namun ketiga pemuda itu sudah berdiri di ambang pintu depan dengan langkah yang mantap. Arka, Fathan, dan Yassir memutuskan bahwa hari ini adalah hari penghakiman terakhir bagi bayang-bayang kelam yang selama bertahun-tahun menghantui hidup mereka. Tidak ada lagi ruang untuk rasa takut atau melarikan diri dari kenyataan. Sisa tabungan terakhir yang mereka kumpulkan dengan susah payah, ditambah hasil penjualan beberapa barang berharga secara resmi, kini tersimpan rapat di dalam amplop cokelat tebal yang dipegang erat oleh Yassir.

Tujuan mereka pagi ini adalah sudut paling bising dan kumuh di ujung kota—terminal bus tua yang dikuasai oleh jaringan penagih utang lokal. Tempat itu selalu dipenuhi oleh debu jalanan, bau bensin yang menyengat, serta lalu-lalang orang dengan berbagai maksud tersembunyi. Langkah kaki mereka bertiga bergemerincing di atas tanah berpasir, membelah keramaian kios-kios semi permanen yang mulai buka.

"Kalian yakin kita tidak perlu melapor ke pihak berwajib dulu?" tanya Fathan pelan, matanya mengawasi gerombolan pria bertubuh kekar yang sedang nongkrong di dekat pos 3.

"Tidak," jawab Arka tegas tanpa mengalihkan pandangannya ke depan. "Kalau kita melibatkan polisi sekarang, urusannya akan semakin panjang dan rentan bocor ke mana-mana. Kita selesaikan ini secara langsung dengan kepala dingin, sesuai perjanjian bawah tangan yang mereka buat."

Yassir menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya bergemuruh hebat di balik rongga dada. Amplop di tangannya terasa begitu berat, seolah berisi nyawanya sendiri. Di hadapan mereka, seorang pria berbadan gempal dengan tato naga melingkar di lengannya tampak sedang duduk di atas kursi plastik sambil mengisap rokok kretek. Itulah pimpinan kelompok penagih utang yang selama ini meneror hidup keluarga Yassir. Ketika melihat ketiganya mendekat, pria itu menyeringai sinis, menampakkan deretan gigi kuning yang mengerikan.

❖ ❖ ❖

"Wah, wah... lihat siapa yang datang," ucap pria bertato itu sambil membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya perlahan. Ia berdiri, merentangkan tangan seolah menyambut tamu agung yang lama dinantikan. "Anak manis yang selama ini gemar kucing-kucingan denganku. Datang sendiri mengantarkan nyawa, atau membawa uang?"

"Kami datang untuk melunasi sisa utang mendiang ayahku, sepenuhnya tanpa kurang satu rupiah pun," jawab Yassir dengan suara yang berusaha ditegaskan, meski ada getar halus yang lolos dari tenggorokannya.

Yassir melangkah maju, meletakkan amplop cokelat tebal di atas meja kayu yang penuh dengan noda kopi. Pria gempal itu mendekat, membuka amplop tersebut dengan kasar, lalu mengeluarkan segepok uang tunai di dalamnya. Ia menghitungnya sekilas dengan gerakan cepat tangan kanannya yang kasar. Senyum di wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seringai licik yang membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa membeku.

"Uang ini pas untuk pokok dan bunga bulan lalu," kata sang ketua preman sambil mendecak lidah. "Tapi kalian lupa menghitung denda keterlambatan dan inflasi risiko selama dua minggu terakhir. Totalnya bertambah lima juta lagi. Mana tambahannya?"

"Lima juta?!" seru Fathan spontan, maju selangkah dengan kemarahan yang meluap di matanya. "Kesepakatan kita kemarin di telepon tidak ada pembicaraan soal tambahan denda semena-mena seperti itu! Jangan mencoba memeras kami!"

Suasana di sekitar pos terminal mendadak menegang seketika. Tiga orang anak buah preman tersebut langsung berdiri dari bangku mereka, merapatkan barisan sambil meretakkan jemari tangan, menciptakan suara berderak yang mengancam. Ketegangan fisik tidak bisa dihindari lagi; udara di terminal yang tadinya bising kini terasa sunyi senyap oleh ketegangan yang siap meledak kapan saja.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya