Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Surat Penggusuran Palsu

Matahari pagi baru saja mengintip malu-malu di balik cakrawala kota, menyebarkan bias cahaya kekuningan yang lembut ke seluruh halaman rumah warisan keluarga. Angin sepoi-sepoi berhembus tenang, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam yang menyegarkan. Di teras depan yang baru saja selesai direnovasi, Arka duduk santai sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis. Ia menatap bangga ke arah dinding pagar luar yang dihiasi mural indah bertuliskan "Rumah Kita", merasakan kedamaian yang begitu sempurna setelah badai hukum dan cuaca ekstrem berhasil mereka lewati bersama.

Namun, kedamaian itu seketika buyar ketika tukang pos motor melintas dan melemparkan sebuah amplop putih tebal ke dalam kotak pos besi di dekat gerbang. Arka bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menghampiri kotak pos tersebut dengan rasa penasaran yang wajar. Ia mengambil amplop itu dan mengerutkan keningnya dalam-dalam. Di bagian depan amplop tersebut tertera logo resmi berstempel timbul dari instansi pemerintah daerah yang membidangi tata kota dan tata ruang.

"Surat apa lagi ini?" gumam Arka pelan, merobek bagian atas amplop dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar.

Ia menarik keluar selembar kertas resmi berperforasi rapi dengan kop surat instansi pemerintah yang tampak sangat meyakinkan. Namun, begitu matanya menyapu paragraf pertama surat tersebut, jantung Arka seolah berhenti berdetak. Surat itu menyatakan dengan tegas bahwa rumah warisan keluarga mereka yang terletak di Jalan Mawar Nomor 12 kini masuk ke dalam zona merah pembebasan lahan untuk proyek nasional pelebaran jalur jalan tol baru yang akan segera dikerjakan dalam waktu dekat.

Arka tertegun kaku di tempatnya, menatap nanar barisan kalimat yang merenggut seluruh rasa bahagianya dalam hitungan detik. Kertas di tangannya terasa bagaikan vonis mati bagi rumah yang baru saja mereka bangkitkan kembali dari ambang kehancuran.

"Ada apa, Kak Arka? Kenapa wajahmu pucat sekali?" suara Zahra terdengar dari ambang pintu depan, membuyarkan lamunan Arka yang tersengat rasa terkejut luar biasa. Gadis bungsu itu melangkah mendekat dengan wajah penuh tanya, melihat kecemasan yang terpampang jelas di wajah sang kakak.

Arka tidak mampu berkata-kata. Ia hanya menyerahkan surat berlogo pemerintah itu kepada Zahra dengan tangan lemas, membiarkan adiknya membaca sendiri kalimat petaka yang tercetak di atas kertas putih tersebut.

❖ ❖ ❖

Zahra menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, matanya bergerak cepat membaca setiap baris kata yang tertera di sana. Begitu ia mencapai bagian kesimpulan surat yang menyatakan bahwa bangunan tersebut harus segera dikosongkan dan dirobohkan tanpa ganti rugi maksimal dalam waktu tujuh hari ke depan, napas Zahra tercekat di tenggorokan.

"Tidak... Ini tidak mungkin..." bisik Zahra dengan suara parau, air matanya langsung tumpah membasahi pipinya seketika.

Ketakutan masa lalu yang sempat hilang mendadak kembali mencengkeram jiwanya dengan kuat. Bayangan tentang rumah mereka yang diratakan dengan tanah dan diusir paksa oleh alat berat berkelebat cepat di kepala gadis itu. Tanpa berpikir panjang, Zahra langsung berbalik badan dan berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak histeris, memanggil seluruh saudaranya yang lain agar segera berkumpul di ruang tengah.

"Kak Fathan! Kak Yassir! Kak Samaira! Azalia! Cepat kemari!" jerit Zahra dengan nada panik yang luar biasa, membuat seisi rumah terlonjak kaget dari kesibukan masing-masing.

Fathan yang sedang memeriksa instalasi listrik di dapur langsung menjatuhkan obengnya dan bergegas lari ke ruang tengah. Yassir, Samaira, dan Azalia yang berada di area galeri depan turut berlarian menghampiri sumber suara dengan ekspresi tegang. Mereka mendapati Zahra berdiri di tengah ruangan sambil terisak-isak hebat, memegang selembar kertas putih yang lemas di tangannya.

"Ada apa, Zahra? Kenapa kau menangis seperti itu?" tanya Samaira cemas, langsung merangkul pundak sang adik bungsu yang bergetar hebat.

Zahra tidak mampu menjawab dengan jelas. Ia hanya menyodorkan surat berlogo instansi pemerintah itu kepada Fathan yang berdiri paling dekat darinya. "Kita... kita akan diusir paksa minggu depan... Rumah kita masuk jalur jalan tol..."

Fathan merebut surat itu dengan cepat, sementara Yassir, Samaira, dan Azalia langsung merapat untuk membaca isi surat yang sama di balik bahu sang kakak sulung. Suasana di dalam ruang tengah itu mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya