Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Ide Gila Sang Bungsu

Malam itu, setelah badai krisis finansial yang nyaris memecah belah ketenangan rumah tua warisan leluhur berhasil dilewati bersama, suasana ruang tengah mendadak terasa jauh lebih lapang. Lampu gantung tua memancarkan pijar kuning hangat yang menerangi wajah keenam penghuninya yang duduk melingkar di atas karpet beludru usang. Zahra, si bungsu yang selama ini kerap diam dan menyimpan berbagai ide liar di dalam kepalanya, tampak gelisah. Jemarinya saling meremas ujung sweternya sendiri, sementara matanya menatap bergantian ke arah Arka dan saudara-saudaranya yang lain. Napasnya terhela perlahan, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya sebelum melontarkan sebuah gagasan yang sudah lama mengendap di benaknya.

"Teman-teman, aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Zahra memulai percakapannya dengan suara yang bergetar halus, namun terdengar begitu jernih di tengah kesunyian malam. "Kita baru saja membuktikan bahwa rumah ini memiliki kekuatan besar untuk menyatukan kita saat berada di titik terendah. Tapi, bagaimana jika rumah ini tidak hanya menjadi tempat perlindungan bagi kita berenam saja?"

Arka, yang duduk tepat di hadapannya sambil memegang cangkir kopi hangat, mengerutkan dahi. "Maksudmu apa, Zahra? Jangan bilang kau punya rencana aneh lagi setelah celengan koin itu."

Zahra menggeleng pelan, senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Bukan rencana aneh. Aku mengusulkan agar rumah tua ini diresmikan secara resmi menjadi rumah komunitas seni dan pusat belajar terbuka bagi anak-anak kurang mampu di gang-gang sekitar kita. Kita punya ruangan yang luas, kita punya dinding galeri seni dari coretan arang Samaira, kita punya ruang baca, dan kita punya keahlian masing-masing yang bisa dibagikan kepada mereka."

Seketika, ruangan itu menjadi senyap. Usulan radikal tersebut meluncur begitu saja tanpa peringatan, menciptakan gelombang kejut kecil di antara para penghuni rumah. Gagasan untuk mengubah rumah tinggal pribadi yang selama ini sangat tertutup menjadi sebuah ruang publik bagi anak-anak luar adalah sebuah lompatan pemikiran yang sangat besar bagi sang bungsu.

"Rumah komunitas seni dan belajar?" ulang Rian dengan mata membelalak lebar, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Zahra. "Kau serius, Zahra? Kau tahu betul apa konsekuensinya jika kita membuka pintu rumah ini seluas-luasnya untuk orang luar?"

Zahra mengangguk mantap. "Aku sangat serius, Rian. Di luar sana, banyak anak-anak gang yang putus sekolah atau tidak punya tempat untuk menyalurkan kreativitas mereka. Rumah ini luas, dan sayang sekali jika hanya kita nikmati sendiri."

❖ ❖ ❖

Reaksi pertama yang muncul di ruang tengah itu bukanlah sambutan hangat, melainkan penolakan refleks dari sang kepala rumah tangga. Arka langsung meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kayu dengan bunyi benturan yang cukup keras. Wajahnya mengeras, memperlihatkan garis-garis ketegangan yang langsung mendominasi ekspresinya.

"Tidak, Zahra. Ide itu tidak masuk akal," tegas Arka dengan suara berat, menatap tajam ke arah adiknya. "Rumah ini adalah benteng privasi kita. Tempat di mana kita bisa beristirahat dengan tenang setelah lelah menghadapi dunia luar. Kalau kita mengubahnya menjadi rumah komunitas, privasi kita akan hilang sama sekali."

Zahra terpukul mendengar penolakan cepat itu. "Tapi Arka—"

"Dengarkan aku dulu," potong Arka dengan nada tinggi yang tidak dapat disembunyikan. "Setiap hari akan ada puluhan anak lalu-lalang di teras kita, berisik di ruang tengah, mengotori lantai, dan merusak ketenangan yang sudah susah payah kita jaga. Aku tidak siap membagikan ruang pribadi kita kepada orang-orang asing dari luar gang."

Suasana di ruangan itu mendadak berubah menjadi tegang. Argumen Arka memang berdasar pada logika perlindungan diri yang kuat, mengingat rumah itu adalah satu-satunya tempat aman yang mereka miliki setelah sekian lama hidup dalam keterasingan. Namun, di sisi lain, penolakan mutlak itu membuat Zahra menunduk sedih, air mukanya berubah muram seketika.

"Arka, jangan terlalu kaku," tegur Dimas pelan, mencoba menengahi situasi yang mulai memanas di antara keduanya. "Zahra punya niat baik. Tidak ada salahnya kita mendengarkan penjelasannya sampai selesai sebelum kau langsung memvonisnya."

"Ini bukan soal kaku atau tidak, Dimas!" sanggah Arka sengit, menoleh tajam ke arah Dimas. "Ini soal keamanan dan kenyamanan kita berenam di dalam rumah ini sendiri. Rumah ini bukan balai warga atau panti sosial. Kita bukan lembaga amal."

Perdebatan kecil itu langsung menciptakan jurang perbedaan pendapat di antara mereka. Sebagian dari mereka terdiam ragu, menimbang antara kebutuhan menjaga privasi rumah tangga melawan panggilan nurani untuk berbagi kepada lingkungan sekitar yang kurang beruntung.

Lihat selengkapnya