Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Papan Nama di Depan Gerbang

Pagi hari di kawasan permukiman tua itu disambut oleh cuaca yang sangat cerah, seolah ikut merestui hari penting yang sudah dipersiapkan sejak beberapa minggu lalu. Fathan berdiri di atas sebuah tangga lipat aluminium yang sudah agak berkarat di bagian kakinya, memegang erat sebuah papan nama besar terbuat dari kayu jati tua berukir halus. Di permukaan kayu berwarna cokelat tua itu, terukir indah tulisan tangan bergaya klasik: "Rumah Singgah Asa". Bau harum khas kayu jati yang baru saja dipernis segar menyeruak ke udara, berpadu dengan aroma embun pagi yang masih menempel di rerumputan halaman depan.

"Tolong tahan bagian bawahnya agak kuat, Arka, jangan sampai miring sebelah," seru Fathan dari atas tangga sambil mengatur posisi lubang baut pada balok penyangga gerbang.

Arka yang berdiri di bawah langsung memegang erat sisi kiri tangga lipat tersebut dengan kedua tangannya, memastikan pijakannya benar-benar kokoh di atas tanah paving block yang sedikit tidak rata. "Aman, Fathan! Geser sedikit ke kanan bagian atasnya, biar pas di tengah-tengah lengkungan gerbang."

Fathan mengangguk kecil, menggeser posisi papan kayu jati itu beberapa sentimeter hingga posisinya terlihat sempurna simetris. Suara ketukan palu besi yang menghantam paku beton bergema nyaring di udara pagi, memecah kesunyian lingkungan sekitar. Setiap ayunan palu mencerminkan kerja keras, peluh, dan cucuran keringat yang selama ini mereka investasikan untuk menghidupkan kembali bangunan tua peninggalan orang tua mereka. Rumah ini bukan lagi sekadar tempat berteduh dari hujan, melainkan simbol kebangkitan sebuah keluarga yang sempat nyaris hancur diterpa badai kehidupan.

"Sudah pas belum posisinya dari bawah?" tanya Fathan sambil menyeka butiran keringat di keningnya menggunakan lengan baju bagian atas.

"Sempurna!" sahut Azalia yang baru saja keluar dari pintu depan membawa segelas teh hangat dan beberapa potong kue basah di atas nampan kecil. Wanita itu tersenyum lebar, menatap takjub ke arah papan nama kayu jati yang kini terpampang gagah tepat di atas gerbang utama rumah tua tersebut. "Nama Rumah Singgah Asa itu benar-benar cocok. Terlihat hidup dan penuh makna."

Fathan tersenyum puas dari atas tangga, merasa lelahnya seketika menguap melihat hasil kerja kerasnya terpajang indah. Ia turun perlahan dari tangga lipat, merapikan pakian kerjanya, lalu menghampiri Azalia dan Arka yang berdiri menatap gerbang dengan binar kebahagiaan di mata masing-masing.

❖ ❖ ❖

Tidak butuh waktu lama bagi papan nama baru tersebut untuk menarik perhatian warga sekitar yang lalu-lalang di depan rumah. Satu per satu tetangga mulai melangkah mendekat, berhenti di depan gerbang kayu, dan membaca tulisan berukir emas pada papan kayu jati itu dengan penuh rasa penasaran. Berita tentang rumah tua yang kini direnovasi menjadi pusat kegiatan sosial menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut di perkampungan padat tersebut.

"Wah, papan namanya bagus sekali, Fathan! Kayu jati asli ini mah, awet sampai puluhan tahun ke depan," puji Pak RT setempat, Pak Hasan, yang datang mengenakan kaos polo abu-abu sambil membawa secangkir kopi hitam.

Fathan menyambut kedatangan Pak RT dengan senyuman ramah dan jabat tangan erat. "Terima kasih, Pak RT. Ini hasil gotong royong kita semua di rumah. Sengaja kami pasang papan nama supaya warga sekitar tahu kalau pintu rumah ini selalu terbuka lebar buat siapa saja yang butuh tempat singgah atau sekadar bertukar pikiran."

Beberapa ibu rumah tangga tetangga sebelah juga ikut berkerumun di depan gerbang, berbisik-bisik kagum melihat perubahan drastis pada rumah tua yang tadinya nyaris roboh itu. Suasana halaman depan mendadak menjadi hidup dan meriah, dipenuhi gelak tawa serta percumbuan hangat antarwarga yang sudah lama jarang berkumpul dalam satu acara sederhana.

"Baguslah kalau begitu," ujar Bu Siti, salah seorang tetangga senior, sambil tersenyum lebar ke arah Azalia yang ikut berdiri menyambut para tamu. "Selama ini lingkungan kita memang kurang tempat buat anak-anak belajar atau warga berkumpul secara positif. Kalau rumah ini resmi jadi pusat kegiatan, kami pasti dukung penuh."

Azalia mengangguk antusias, menyambut dukungan warga dengan hati yang menghangat. "Terima kasih banyak, Bu Siti. Justru tanpa dukungan dari bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, rumah ini tidak akan mungkin bisa berdiri kokoh seperti sekarang."

Peresmian kecil-kecilan di depan gerbang itu berubah menjadi ajang silaturahmi dadakan yang penuh kehangatan. Tidak ada acara gunting pita yang mewah atau pidato kenegaraan yang kaku; yang ada hanyalah obrolan santai, tawa renyah, dan secangkir teh hangat yang dinikmati bersama di bawah terik matahari pagi yang ramah. Momen sederhana ini membuktikan bahwa sebuah rumah tidak diukur dari kemewahan dinding semennya, melainkan dari seberapa besar ia mampu merangkul dan menghidupkan komunitas di sekitarnya.

❖ ❖ ❖

Di tengah keramaian warga yang masih berkumpul di halaman depan, suasana mendadak bertambah semarak ketika sekelompok anak-anak usia sekolah dasar berlari-lari kecil memasuki area gerbang Rumah Singgah Asa. Mereka datang membawa berbagai macam barang di dalam pelukan mereka—sebagian besar berupa buku-buku pelajaran sekolah lama, buku cerita bergambar yang sampulnya sudah mulai kusut, dan beberapa majalah anak-anak.

"Om Fathan! Om Arka!" seru seorang anak laki-laki bertubuh gempal bernama Rian sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku cerita tebal bersampul biru. "Kami mau nyumbang buku buat perpustakaan mini di rumah singgah ini! Kata ibu, buku-buku ini boleh ditaruh di sini supaya bisa dibaca sama anak-anak lain."

Lihat selengkapnya