Matahari sore menyusup lembut lewat celah jendela ruang tengah, menyinari tumpukan amplop pos yang baru saja diantarkan oleh tukang pos keliling. Di antara lembaran tagihan bulanan dan brosur promosi yang biasa menumpuk, sebuah amplop tebal berwarna gading dengan stempel keemasan mencuri perhatian. Samaira, yang sedang merapikan meja, mengambil amplop tersebut dengan jari-jarinya yang sedikit berdebu sisa cat lukis. Keningnya berkerut membaca nama lengkapnya yang tercetak rapi dengan mesin tik mewah di sampul luar.
"Ini... apa ya?" gumam Samaira pelan, setengah bertanya pada dirinya sendiri.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia merobek bagian atas amplop tersebut dan mengeluarkan selembar undangan resmi bertekstur tebal. Matanya menyusuri setiap baris kalimat yang tersusun elegan di atas kertas mahal itu. Namanya tercantum sebagai salah satu seniman undangan terpilih yang karyanya diapresiasi oleh sebuah galeri seni terkemuka di pusat kota besar. Undangan itu meminta Samaira untuk memamerkan karya lukis dinding yang selama ini ia kerjakan di sudut-sudut rumah mereka, untuk dinilai langsung oleh kurator seni nasional.
Zahra, yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat, langsung menghentikan langkahnya melihat ekspresi terkejut di wajah Samaira.
"Ada apa, Mai? Kamu kelihatan pucat begitu. Surat dari siapa?" tanya Zahra penasaran, meletakkan nampan di atas meja kayu sebelum mendekati iparnya.
Samaira menelan ludah dengan susah payah, menyerahkan kertas undangan itu kepada Zahra. "Bibi... baca ini. Aku tidak salah lihat, kan? Galeri seni kota besar... mereka mengundangku untuk memamerkan lukisan dinding rumah kita."
Zahra membaca isi surat itu dengan seksama. Seketika itu juga, senyum lebar terkembang di bibirnya. Ia meraih kedua tangan Samaira dan mengguncangnya pelan karena terlalu gembira. "Ya ampun, Samaira! Ini berita luar biasa! Karyamu... lukisan yang kamu buat di dinding ruang tengah dan kamar kita diapresiasi oleh galeri kota!"
Namun, alih-alih ikut melompat kegirangan seperti Zahra, bahu Samaira justru merosot turun. Tatapannya menerawang jauh ke lantai, sementara bayangan-bayangan keraguan mulai berkecamuk di dalam benaknya.
❖ ❖ ❖
Kegembiraan yang sempat membuncah di ruang tengah seketika meredup digantikan oleh keheningan yang sarat akan keraguan. Samaira menarik tangannya pelan dari genggaman Zahra, lalu melangkah mundur mendekati dinding ruang tengah yang dihiasi oleh goresan kuas tangannya sendiri—lukisan pohon besar dengan akar yang mencengkeram kuat tanah, menggambarkan perjalanan hidup keluarga mereka.
"Bibi, aku tidak mungkin pergi ke sana," suara Samaira terdengar lirih, nyaris berbisik. Ia menatap lukisan dinding itu dengan pandangan sendu. "Karyaku ini hanya coretan sederhana di dinding rumah tua. Aku bukan pelukis profesional lulusan akademi seni terkenal. Bagaimana mungkin aku berdiri di galeri megah di kota besar dan bersanding dengan para seniman hebat?"
Zahra menghela napas pelan, lalu menyusul langkah Samaira. Ia merangkul bahu gadis itu dengan penuh kelembutan. "Mai, jangan meremehkan bakatmu sendiri. Kamu melukis dengan seluruh jiwa dan ketulusan hatimu. Kurator galeri itu pasti melihat sesuatu yang jujur dan hidup dari fotofoto lukisan yang pernah kita unggah atau dilihat orang lain."
"Tapi dunia luar itu kejam, Bi," sanggah Samaira, kepalanya menunduk semakin dalam. Air mata tipis mulai menggenang di sudut matanya. "Mereka terbiasa melihat seni yang abstrak, mahal, dan penuh makna filosofis tinggi. Karyaku ini hanyalah cerita tentang kesedihan, perjuangan utang rumah, dan pelarian kita dari keputusasaan. Apa menariknya bagi mereka?"
"Justru karena karya itu jujur, makanya ia punya kekuatan yang tidak dimiliki lukisan mahal di galeri," timpal Fathan yang baru saja masuk dari teras depan, membawa serta gulungan koran di tangannya. Pria itu mendengar percakapan mereka sejak dari ambang pintu.
Fathan mendekat, berdiri di sisi lain Samaira. "Mai, selama ini kamu memendam mimpimu demi membantu perekonomian keluarga dan merawat rumah ini. Sekarang, pintu kesempatan itu terbuka lebar. Apakah kamu mau menyerah begitu saja hanya karena rasa tidak percaya diri?"