Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Chapter tanpa judul #37

Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela ruang tamu, menyinari tumpukan kertas rancangan bangunan yang tersebar di atas meja kayu tua. Fathan duduk terpaku, menatap selembar surat berkop resmi yang baru saja ia terima melalui kurir pagi ini. Di sudut meja, cangkir kopi yang diseduh Azalia masih mengepulkan aroma harum, namun pikiran Fathan melayang jauh melampaui dinding-dinding rumah yang selama ini ia bantu renovasi.

Surat itu adalah tawaran beasiswa penuh untuk melanjutkan studi S2 Arsitektur di universitas ternama di Belanda. Perusahaan mitra proyek tempat Fathan bekerja selama ini telah memilihnya sebagai satu-satunya perwakilan yang berhak menempuh pendidikan lanjut. Ini adalah puncak dari impian yang pernah ia bisikkan pada dirinya sendiri saat pertama kali melangkah ke dunia arsitektur. Namun, di saat yang sama, surat itu terasa seperti belati yang mengiris hati, mengingat posisinya saat ini dalam keluarga Azalia.

"Ini kesempatan sekali seumur hidup, Fathan," gumamnya pelan, jemarinya mengusap permukaan kertas yang kaku.

Di dapur, terdengar suara denting piring dan tawa kecil adik-adik Azalia yang sedang membantu menyiapkan sarapan. Rumah ini, dengan segala kerumitannya—ancaman penyitaan, beban utang yang menumpuk, dan kehangatan yang perlahan-lahan mulai pulih—telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Fathan merasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan yang sangat tajam; satu sisi adalah ambisi intelektual dan karier yang selama ini diperjuangkannya, sementara sisi lainnya adalah komitmen emosional yang telah ia bangun bersama orang-orang yang kini ia anggap sebagai keluarganya sendiri.

"Apakah aku bisa meninggalkan mereka sekarang? Di saat proses renovasi rumah ini baru mencapai tahap pondasi dan struktur utama?" tanya Fathan pada kesunyian ruang tamu.

Ia teringat kembali pada masa-masa sulit saat keluarga Azalia hampir kehilangan segalanya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri, dan mungkin secara tidak langsung kepada Azalia, bahwa ia akan membantu mereka sampai rumah ini kembali utuh. Memilih beasiswa ini berarti ia harus pergi selama dua tahun, waktu yang cukup lama untuk membuat perubahan besar bagi nasib keluarga ini. Fathan menghela napas panjang, menatap pintu kamar yang tertutup, berharap mendapatkan petunjuk dari balik pintu itu.

Azalia keluar dari dapur, menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan suasana pagi ini. Fathan yang biasanya ceria dan antusias saat membahas detail struktur bangunan, hari ini tampak begitu murung. "Ada apa, Fathan? Apakah ada masalah dengan rencana anggaran pembangunan minggu depan?" tanya Azalia lembut, sambil meletakkan sepiring roti bakar di dekat Fathan.

Fathan menatap Azalia. Matanya memancarkan keraguan yang sulit disembunyikan. "Zaza, aku... aku mendapatkan tawaran studi ke Belanda. Beasiswa penuh dari perusahaan," jawabnya singkat. Suasana yang tadinya hangat mendadak membeku. Azalia terdiam, tangannya yang masih memegang nampan tertahan di udara, menatap Fathan dengan tatapan yang sulit diartikan.

❖ ❖ ❖

Berita itu menyebar ke seluruh rumah secepat kilat. Keheningan yang tadinya menyelimuti ruang tamu berubah menjadi suasana yang penuh dengan gejolak batin. Fathan tidak bisa memungkiri betapa bimbangnya ia. Di satu sisi, otaknya terus menerus memutar proyeksi masa depannya sebagai seorang arsitek berpengalaman dengan gelar internasional. Di sisi lain, hatinya merasa berat meninggalkan proses renovasi rumah yang sudah ia anggap sebagai karya hidupnya sendiri.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa," aku Fathan saat mereka berkumpul di teras belakang sore harinya. "Jika aku pergi, renovasi rumah ini mungkin akan terbengkalai. Aku tahu Arka sedang pusing dengan masalah bank, dan aku merasa bertanggung jawab atas setiap detail pekerjaan yang sedang berjalan."

Yassir, yang biasanya vokal dan blak-blakan, justru tampak lebih tenang hari ini. Ia menatap Fathan dengan tatapan yang menyiratkan kedewasaan yang baru tumbuh. "Fathan, aku tahu kamu memikirkan kami. Tapi, lihatlah tanganmu sendiri. Kamu adalah arsitek hebat. Apakah adil jika kamu mengorbankan impian terbesarmu hanya karena rumah yang bisa kita urus pelan-pelan?"

Fathan menatap tangannya yang kasar, penuh dengan noda cat dan debu semen. Ia telah menghabiskan berbulan-bulan di sini, bukan hanya sebagai arsitek, tetapi sebagai tukang, teman, dan pelindung bagi keluarga ini. Keraguan itu bukan sekadar soal logika, tetapi soal kesetiaan. Ia merasa seperti pengkhianat jika ia memilih masa depannya sendiri di atas kebutuhan orang lain yang telah memberinya rasa rumah.

"Aku khawatir jika aku pergi, semuanya akan kembali berantakan," ucap Fathan lirih, menatap Azalia yang berdiri di dekat tiang teras.

Azalia, yang sepanjang hari itu lebih banyak diam, akhirnya melangkah mendekati Fathan. Ia bisa melihat betapa besar beban yang dipikul pemuda itu. Ia tahu persis bahwa setiap keraguan yang diucapkan Fathan hanyalah bentuk dari kasih sayangnya yang tulus kepada mereka. Namun, sebagai seseorang yang juga harus berkorban demi keluarganya, Azalia mengerti bahwa menahan seseorang untuk tidak terbang tinggi hanyalah bentuk egoisme yang terselubung.

"Dengar, Fathan," suara Azalia tenang namun tegas. "Renovasi ini bukanlah soal siapa yang memegangnya, tapi soal rumah ini yang masih berdiri. Kami sudah belajar banyak dari kamu. Jika kamu pergi, kami tetap akan melanjutkan apa yang sudah kamu mulai. Jangan biarkan kami menjadi beban yang menahanmu dari apa yang seharusnya menjadi milikmu."

Kata-kata itu, meski terdengar bijak, justru membuat Fathan semakin merasa bersalah. Ia merasa seolah-olah mereka sedang merelakannya dengan cara yang sangat tidak egois, yang justru membuatnya semakin enggan untuk pergi.

Lihat selengkapnya