Angin pagi berhembus lembut, menerbangkan tirai-tirai putih yang terpasang di beranda rumah tua keluarga. Hari itu, halaman depan yang biasanya tenang mendadak disulap menjadi sebuah ruang seni terbuka yang memukau. Kanvas-kanvas berdiri kokoh di atas penyangga kayu berderet rapi di sepanjang jalan setapak taman, di bawah naungan pohon mangga rindang yang memberikan keteduhan alami. Samaira mengadakan pameran mini terakhir di halaman rumah sebelum galeri utamanya dipindah ke kota, sebuah momen emosional yang menandai akhir dari sebuah era kecil di rumah tempat ia menumpahkan ribuan inspirasi.
Papan kayu bertuliskan "Pameran Kenangan Terakhir" tergantung manis di gerbang depan, menyambut siapa saja yang melintas dengan keramahan khas keluarga. Di atas meja kayu dekat pintu masuk, brosur kecil berisi katalog lukisan tersusun rapi di samping buku tamu bersampul kain linen. Samaira berdiri di dekat kanvas utamanya mengenakan apron putih berlumuran noda cat air, tersenyum gugup namun penuh binar kebanggaan. Keringat tipis membasahi pelipisnya, bukti dari kerja keras maraton yang ia lakukan semalaman suntuk demi memastikan setiap goresan cat di kanvasnya sempurna tanpa cela.
"Bagaimana, Samaira? Semua persiapan sudah beres?" tanya Arka yang datang membawa termos air hangat dan beberapa cangkir keramik untuk para tamu yang akan segera berdatangan.
Samaira menoleh, menghela napas lega sambil merapikan sikat di tangannya. "Sudah, Kak Arka. Semua lukisan sudah terpasang sesuai urutan tema masa kecil kita sampai masa transisi di rumah ini. Rasanya aneh membayangkan galeri ini besok lusa sudah harus dikemas dan dipindah ke gedung sewaan di pusat kota."
"Kamu tidak perlu sedih begitu," sahut Arka menenangkan sambil menepuk pelan pundak adiknya. "Galeri di kota itu adalah langkah besar untuk kariermu sebagai pelukis profesional. Rumah ini akan selalu menjadi akar dari setiap goresan kuas yang kamu buat."
Sementara mereka berbincang di dekat meja pameran, suara deru kendaraan bermotor mulai terdengar berdatangan dari ujung jalan kompleks perumahan. Para pengendara sepeda motor dan mobil pribadi mulai memarkirkan kendaraan mereka di bahu jalan terdekat, bersiap untuk menyaksikan karya-karya seni penuh emosi yang telah lama dinanti-nantikan oleh para pencinta seni lokal maupun tetangga sekitar.
❖ ❖ ❖
Tidak butuh waktu lama bagi halaman rumah tua itu untuk berubah menjadi lautan manusia. Pengunjung dari berbagai penjuru kota memadati teras dan halaman rumah tua tersebut, menciptakan dengungan percakapan riuh yang bercampur dengan suara gelak tawa dan langkah kaki di atas kerikil taman. Para kritikus seni independen, mahasiswa akademi rupa, kolektor lokal, hingga ibu-ibu tetangga sekitar tumpah ruah memenuhi setiap jengkal ruang pameran terbuka itu.
Udara pagi yang tadinya sepi kini dipenuhi oleh decak kagum saat para pengunjung mulai mengamati satu per satu lukisan cat minyak dan akrilik karya Samaira. Di sudut kiri halaman, sebuah lukisan besar menggambarkan sudut ruang tamu keluarga dengan cahaya sore menembus kaca jendela berhasil menarik perhatian sekelompok mahasiswa seni yang langsung berdiskusi sengit mengenai teknik pencahayaan yang digunakan.
"Lukisan ini luar biasa hidup," ucap seorang pria paruh baya berkacamata tebal kepada rekannya sambil menunjuk kanvas bertema sudut rumah. "Kamu bisa merasakan kehangatan keluarga hanya dengan melihat sapuan warna kuning keemasan di lantai kayu itu."
Samaira yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum simpul mendengar pujian tersebut. Ia sibuk melayani pertanyaan demi pertanyaan dari para kolektor yang mulai tertarik menawar karya-karyanya. Namun, di balik keriuhan dan antusiasme yang membuncah, situasi di halaman mulai sedikit tidak terkendali. Kepadatan pengunjung membuat beberapa orang nyaris menyenggol pot-pot bunga hias koleksi Azalia yang tertata rapi di sepanjang pagar pembatas teras.
Zahra, yang bertugas membantu bagian logistik dan pendaftaran tamu, segera menyadari potensi kekacauan kecil tersebut. Ia melambaikan tangan kepada Yassir yang berdiri di dekat pintu samping rumah untuk segera turun tangan mengatur alur pergerakan manusia agar tidak merusak tanaman kesayangan Azalia yang berada di sudut-sudut strategis halaman.
❖ ❖ ❖