Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Langkah Pertama Yassir ke Luar

Matahari pagi menyinari pelataran rumah peninggalan kakek dengan bias keemasan yang menyejukkan. Suasana di ruang tengah terasa begitu hidup, dipenuhi aroma kopi hangat yang diseduh Fathan dan gelak tawa ringan dari saudara-saudara yang lain. Di tengah kesibukan pagi itu, Yassir duduk di kursi kayu sambil memandangi selembar surat elektronik resmi yang baru saja mendarat di kotak masuk gawainya. Layar ponsel pintarnya menampilkan logo sebuah perusahaan kontraktor nasional terkemuka yang memuat kabar baik yang sudah lama dinantikan.

"Ada apa, Yassir? Dari tadi senyum-senyum sendiri melihat layar HP terus," tanya Arka penasaran sambil meletakkan cangkir kosong di atas meja makan.

Yassir mendongak, matanya berbinar-binar memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan. "Aku diterima, Kak. Tawaran kerja tetap sebagai staf perencana di perusahaan kontraktor nasional itu resmi jadi milikku."

Mendengar pengumuman tersebut, suasana ruang tengah seketika berubah meriah. Fathan langsung melangkah cepat dan merangkul bahu adiknya dengan penuh rasa bangga.

"Alhamdulillah! Selamat, Yassir! Usaha kerasmu selama ini akhirnya terbayar lunas," seru Fathan penuh antusias.

"Wah, hebat sekali adik kita yang satu ini! Perusahaan besar lho itu," tambah Arka tak kalah gembira, menepuk punggung Yassir berkali-kali.

Keberhasilan itu bukanlah datang begitu saja. Portofolio dokumentasi perbaikan rumah tua yang selama ini dikerjakan Yassir dengan penuh ketelitian—mulai dari memperbaiki atap bocor, memperkuat struktur kayu, hingga menata ulang ruang kerja—ternyata berhasil menarik perhatian seorang arsitek senior yang sempat berkunjung ke lingkungan sekitar rumah mereka beberapa waktu lalu. Portofolio tersebut dinilai memiliki kepekaan teknis yang luar biasa tinggi untuk ukuran pekerja muda tanpa gelar formal yang memadai.

❖ ❖ ❖

Meskipun rasa bangga dan gembira menyelimuti seisi rumah, bayang-bayang kecemasan perlahan mulai merayap di benak Yassir begitu euforia pagi itu mereda. Ia duduk kembali di ruang kerjanya, menatap kosong ke arah setelan kemeja formal yang disetrika rapi di atas tempat tidur.

"Bagaimana kalau aku tidak sanggup?" gumam Yassir pelan pada dirinya sendiri, jemarinya meremas ujung kain celana bahan yang ia kenakan.

Ia merasa dunia korporat formal adalah tempat yang asing dan menakutkan. Selama ini, ia terbiasa bekerja secara mandiri di balik layar, bergelut dengan perkakas bangunan, coran semen, dan perbaikan fisik rumah tanpa harus berinteraksi dengan banyak orang berjas rapi, aturan birokrasi yang kaku, serta target tenggat waktu proyek bernilai miliaran rupiah.

"Yassir, melamun saja dari tadi. Kenapa, masih memikirkan hari pertama kerja besok?" suara lembut Zahra membuyarkan lamunannya. Gadis itu berdiri di ambang pintu kamar dengan membawa segelas teh hangat.

Yassir menghela napas panjang, menatap sang kakak perempuan dengan sorot mata ragu. "Aku cemas, Zahra. Aku takut tidak bisa beradaptasi. Lingkungan kantoran itu kan berbeda jauh dengan apa yang biasa kita hadapi di rumah ini. Bagaimana kalau kinerjaku mengecewakan mereka?"

Zahra melangkah masuk, meletakkan gelas teh di atas meja lalu duduk di kursi sebelah Yassir. "Wajar kalau kamu merasa cemas, itu tanda kalau kamu peduli. Tapi ingat, perusahaan itu memilihmu bukan karena kebetulan, melainkan karena mereka melihat kualitas nyata dari karya dan ketekunanmu selama ini. Jangan meragukan kemampuan dirimu sendiri."

Lihat selengkapnya