Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Cincin di Bawah Pohon Belimbing

Langit sore perlahan-lahan berubah warna dari biru terang menjadi jingga keemasan, menyebarkan bias cahaya yang lembut ke seluruh penjuru halaman belakang rumah warisan keluarga. Di sudut halaman yang teduh, berdiri sebuah pohon belimbing wuluh tua yang rindang—saksi bisu dari seluruh kenangan masa kecil, canda tawa, hingga air mata perjuangan keenam bersaudara. Buah-buah kecil berwarna hijau kekuningan tampak menggantung lebat di antara rimbunnya dedaunan, bergoyang perlahan ditiup angin senja yang berhembus sepoi-sepoi membawa kesejukan.

Di bawah naungan rindangnya pohon belimbing itulah Fathan berdiri mematung dengan napas tertahan, memegang sebuah kotak velvet kecil berwarna hitam di dalam saku jaketnya. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghadapi ujian akhir kuliah arsitekturnya dulu atau ketika ia membongkar surat penggusuran palsu beberapa waktu lalu. Tangannya sedikit basah karena keringat dingin, mencerminkan betapa gugupnya sang kakak sulung menghadapi momen paling krusial dalam hidupnya.

Beberapa langkah di hadapannya, Azalia sedang berdiri sambil merapikan pot-pot tanaman hias kecil yang tertata rapi di atas meja kayu. Gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna pastel dengan rambut yang diikat setengah ke belakang, tampak begitu anggun diterpa cahaya matahari senja.

"Azalia," panggil Fathan dengan suara yang terdengar sedikit parau, mencoba mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ada di dalam dadanya.

Azalia menghentikan aktivitasnya, lalu membalikkan badan menghadap sang kakak dengan senyuman ramah di bibirnya. "Ada apa, Kak Fathan? Kenapa suaramu terdengar tegang begitu?" tanya Azalia polos, tanpa menyadari apa yang sedang bergejolak di dalam benak Fathan saat ini.

Fathan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar di tangannya. Ia melangkah mendekat secara perlahan, menatap mata Azalia lekat-lekat dengan ketulusan yang terpancar jelas di balik lensa kacamatanya.

❖ ❖ ❖

Melihat tatapan serius dan langkah mendekat dari sang kakak, Azalia langsung tertegun di tempatnya. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa terkejut yang teramat sangat ketika ia melihat Fathan mendadak berlutut dengan satu kaki di atas rerumputan hijau di bawah pohon belimbing wuluh tersebut.

"Kak Fathan... apa yang sedang kau lakukan?" bisik Azalia kaget, tangannya secara spontan menutup mulutnya yang sedikit ternganga. Manik matanya membelalak lebar, sama sekali tidak menyangka momen sakral ini akan datang secepat ini dalam hidupnya.

Jantung Azalia berdegup kencang tak kalah hebat dari Fathan. Pikirannya mendadak kosong, dipenuhi oleh kelebatan memori perjuangan panjang mereka bersama dalam merawat dan menyelamatkan rumah ini. Di tempat yang sama, di mana mereka dulu sering bermain petak umpet saat kecil, kini sebuah babak baru yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sedang dimulai di hadapannya.

"Azalia, dengarkan aku," ucap Fathan dengan suara berat namun penuh kehangatan yang menggetarkan udara sore. Ia merogoh saku jaketnya, lalu membuka kotak velvet hitam di hadapan sang gadis, memperlihatkan sebuah cincin perak berukir motif daun sederhana yang berkilau lembut terkena bias cahaya senja.

"Selama bertahun-tahun kita berjuang bersama mempertahankan rumah ini, kau adalah salah satu pilar terkuat yang menjaga kewarasan kita semua," lanjut Fathan tulus, menatap manik mata Azalia yang mulai berkaca-kaca. "Kau membawa keindahan, seni, dan warna di saat rumah ini hampir mati suri. Dan hari ini, di bawah pohon belimbing tempat kita tumbuh bersama, aku ingin meminta izin untuk melangkah lebih jauh darinya."

Azalia terkesiap, air mata kebahagiaan mulai menggenang di pelupuk matanya. Suara di sekitarnya mendadak terasa senyap, menyisakan deru napas mereka berdua dan desir angin senja yang membelai dedaunan pohon belimbing di atas kepala mereka.

❖ ❖ ❖

Tanpa disadari oleh kedua insan yang sedang diliputi emosi mendalam di bawah pohon belimbing tersebut, sepasang mata sedang mengintip dari balik tirai jendela dapur yang menghadap langsung ke arah halaman belakang.

Zahra dan Samaira berdiri berdempetan di balik kaca jendela, menahan napas sambil menutup mulut mereka dengan tangan masing-masing agar tidak mengeluarkan suara teriakan kegirangan. Wajah kedua saudari itu tampak memerah karena menahan rasa antusias yang teramat besar melihat momen romantis yang sedang berlangsung di luar sana.

"Ya ampun... Kak Fathan benar-benar melamar Azalia sekarang..." bisik Zahra tertahan, mencengkeram lengan baju Samaira dengan erat karena terlalu bersemangat. "Aku tidak percaya ini benar-benar terjadi!"

"Sstt! Jangan bersuara keras-keras nanti mereka dengar!" balas Samaira berbisik cepat, meskipun matanya sendiri berkaca-kaca karena terharu melihat adiknya dilamar oleh sang kakak sulung. "Lihat ekspresi Azalia... dia kelihatan sangat terkejut sekaligus bahagia."

Kedua gadis itu saling berpandangan dengan senyuman lebar yang membentang di wajah mereka. Sesaat kemudian, ketika melihat Fathan selesai mengucapkan kalimat lamarannya, Zahra dan Samaira secara bersamaan mengangkat tangan mereka dan bertepuk tangan dengan sangat tertahan, merayakan momen romantis tersebut secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela dapur.

"Ayo, Azalia... katakan iya..." gumam Zahra pelan, seolah doa kecilnya itu bisa terdengar sampai ke bawah pohon belimbing tempat Fathan masih berlutut menanti jawaban dengan penuh harap.

Suasana sore di pekarangan belakang itu terasa begitu magis, diselimuti oleh kehangatan keluarga yang kini tidak hanya disatukan oleh hubungan darah, tetapi juga oleh cinta yang tumbuh di tengah reruntuhan rumah tua yang berhasil mereka bangkitkan kembali.

❖ ❖ ❖

Kembali ke bawah pohon belimbing wuluh, waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Fathan yang masih setia berlutut menanti jawaban dari perempuan yang sangat dicintainya itu.

Azalia menunduk menatap kotak beludru hitam di hadapannya, lalu mengangkat pandangannya kembali menatap wajah Fathan yang dipenuhi oleh ketulusan mutlak. Air mata bahagia yang sejak tadi tertahan akhirnya tuntas menetes membasahi pipinya yang merona merah. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketakutan akan masa depan; yang ada hanyalah keyakinan utuh bahwa tempat ini dan orang di hadapannya adalah takdir terbaik yang diberikan oleh semesta.

Dengan senyuman terindah yang pernah tersungging di bibirnya, Azalia mengangguk pelan.

"Ya... aku mau, Kak Fathan," jawab Azalia dengan suara bergetar lembut namun terdengar sangat jelas di telinga Fathan.

Mendengar jawaban tersebut, ketegangan yang sejak tadi merantai tubuh Fathan seketika menguap, digantikan oleh kelegaan dan kebahagiaan luar biasa yang membuncah di dalam dadanya. Senyum lebar langsung terkembang di wajah sang kakak sulung, menghapus segala garis kelelahan yang biasa menghiasi hari-hari kerjanya.

Lihat selengkapnya