Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Pesta di Halaman Rumah Kita

Pagi itu, udara terasa begitu sejuk menyapu dedaunan hijau di halaman rumah tua yang kini tampak begitu hidup dan bercahaya. Sinar matahari keemasan menerobos celah-celah ranting pohon mangga, menciptakan bayangan indah yang menari di atas rumput yang baru dipangkas rapi. Setelah sekian lama melewati badai pertengkaran, retak dinding yang mengancam, teror hukum, hingga ujian alam yang melelahkan, hari yang paling dinantikan akhirnya tiba.

Hari pernikahan Fathan dan Azalia digelar secara khidmat dan sederhana di halaman rumah mereka sendiri. Tidak ada gedung mewah ber-AC atau dekorasi hotel berbintang lima yang menghabiskan biaya fantastis. Yang ada hanyalah sebuah tenda putih transparan berukuran sedang yang berdiri kokoh di atas pelataran halaman, dinaungi oleh langit biru cerah tanpa awan mendung. Suasana kekeluargaan begitu kental terasa sejak fajar menyingsing, diiringi suara burung berkicau dan aroma wangi melati segar yang menguar di setiap sudut ruangan.

Fathan tampak berdiri di depan meja akad nikah sederhana berbalut kain putih dan pita krem. Ia mengenakan jas berpotongan klasik berwarna abu-abu muda, tampak sangat rapi namun menyiratkan debaran jantung yang luar biasa kencang di balik dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan kegugupannya dengan menatap sekeliling halaman rumah yang menyimpan sejuta sejarah perjalanan hidup keluarganya.

"Tenanglah, Fathan. Jangan sampai tanganmu gemetar saat menjabat tangan penghulu nanti," bisik Yassir sambil menepuk pelan pundak Fathan dengan senyuman menggoda di bibirnya.

Fathan menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. "Mudah bagimu bicara, Yassir. Kamu tidak berdiri di posisi ini sekarang."

"Aku hanya mengingatkan agar kamu tidak pingsan sebelum ijab kabul selesai," balas Yassir tertawa kecil.

Di dalam rumah, Azalia sedang duduk di depan cermin rias tua berbingkai ukiran kayu jati. Zahra berdiri di sampingnya, dengan teliti merapikan selendang kain tulle putih yang menghiasi kerudung sederhana Azalia. Wajah Azalia tampak anggun, memancarkan ketenangan dan kebahagiaan sejati yang tidak bisa disembunyikan oleh riasan tipis di wajahnya.

"Kak Azalia cantik sekali hari ini," puji Zahra tulus dengan mata berkaca-kaca karena terharu. "Aku tidak menyangka kita akhirnya bisa sampai di hari seindah ini."

Azalia menggenggam tangan Zahra yang gemetar kecil di atas bahunya. "Terima kasih, Zahra. Semua ini tidak akan terjadi tanpa kesabaran kita semua untuk tetap bertahan di rumah ini."

❖ ❖ ❖

Langkah kaki ringan para tamu undangan mulai terdengar memasuki area halaman rumah. Para tetangga dekat, beberapa kerabat terdekat yang setia mendampingi saat masa-masa sulit, serta rekan-rekan kerja hadir dengan busana dominan warna putih dan pastel. Suasana berubah menjadi hangat tatkala alunan musik instrumental akustik lembut mulai mengalun dari pengeras suara portabel di sudut halaman.

Perhatian semua orang seketika tertuju ke arah pagar kayu di sisi depan rumah. Dekorasi bunga putih bersih—terutama mawar putih dan bunga melati—menghiasi setiap jengkal sudut pagar kayu tersebut. Pagar yang dulu sempat hampir rubuh karena lapuk dan hancur tertimpa pohon tumbang saat badai beberapa waktu lalu, kini telah direnovasi total dan berdiri kokoh, disulap menjadi gerbang selamat datang yang sangat memesona.

"Wah, dekorasi pagarnya benar-benar indah," bisik seorang tamu undangan kepada tetangga sebelahnya. "Siapa yang merancangnya? Terlihat sangat elegan dan penuh makna."

"Katanya Arka dan Fathan sendiri yang mengecat dan merangkai bunga-bunga itu kemarin malam," jawab tetangga tersebut dengan nada kagum.

Di sudut halaman, Arka berdiri mengawasi jalannya acara dengan senyuman puas di wajahnya. Ia memandang ke arah pagar putih yang kini dipenuhi bunga-bunga segar. Pagar itu bukan lagi sekadar pembatas fisik antara rumah mereka dan dunia luar, melainkan simbol ketahanan sebuah keluarga yang berhasil bangkit dari kehancuran. Setiap goresan cat putih di kayu tersebut mengingatkan Arka pada kerja keras, keringat, dan air mata yang mereka tumpahkan bersama demi mempertahankan rumah warisan orang tua mereka.

Lihat selengkapnya