Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Koper di Depan Pintu

Pagi hari di kawasan perumahan padat penduduk itu datang dengan bias cahaya matahari yang lembut, menyapu pelan atap-atap rumah dan gang sempit yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidup sekumpulan anak muda selama bertahun-tahun. Namun, suasana di dalam rumah kos yang biasanya diwarnai oleh gelak tawa dan kesibukan pagi hari kali ini terasa begitu hening, sarat akan keheningan yang menyayat hati. Hari itu adalah hari yang telah lama dinantikan sekaligus ditakuti oleh seluruh penghuni rumah—hari di mana Fathan dan Azalia harus melangkah keluar dari zona nyaman mereka untuk menempuh studi lanjut serta babak baru kehidupan mandiri di luar negeri.

Di ruang tengah, dua buah koper besar berwarna gelap berdiri tegak berdampingan di dekat pintu utama, seolah menjadi penanda bisu bahwa waktu perpisahan itu benar-benar sudah berada di ambang mata. Azalia tampak berdiri di depan cermin besar ruang tamu, merapikan kerudung abu-abunya dengan jemari yang sedikit bergetar, sementara Fathan sibuk memastikan paspor, tiket pesawat, dan dokumen penting lainnya tersimpan rapat di dalam tas ranselnya.

"Semuanya sudah siap, Fathan? Tidak ada dokumen penting atau paspor yang tertinggal di laci meja belajar?" tanya Azalia pelan, mencoba menutupi rasa debar di dadanya dengan senyuman tipis yang dipaksakan.

Fathan menoleh, lalu melangkah mendekati istrinya—karena kini status mereka telah resmi menjadi pasangan pengantin baru setelah pernikahan sederhana beberapa bulan lalu—sambil tersenyum menenangkan. "Sudah beres semua, Za. Di dalam tas kecilku sudah lengkap. Kamu sendiri, apakah ada barang bawaan yang tertinggal di kamar?"

"Tidak ada, semuanya sudah masuk ke dalam koper," jawab Azalia sambil menghela napas panjang, mencoba meresapi aroma rumah yang selama ini telah memberinya begitu banyak kenangan manis, pahit, tawa, dan air mata.

Di sudut ruangan, Arka, Yassir, Samaira, dan Zahra berdiri memperhatikan gerak-gerik kedua sahabat mereka dengan tatapan yang menyiratkan rasa haru mendalam. Tidak ada yang bersuara nyaring pagi itu. Udara di dalam rumah terasa begitu berat, seolah setiap jengkal dinding rumah kos ini ikut merasakan kesedihan atas kepergian dua orang anggota keluarga yang paling diandalkan.

"Waktu keberangkatan kita sudah semakin dekat, taksi online jemputan yang dipesan tadi malam mungkin sebentar lagi tiba di depan gang," ucap Arka memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit parau.

Azalia mengangguk pelan, lalu memandang keliling ruangan tempat ia menghabiskan masa-masa kuliahnya, berjuang bersama dalam suka dan duka. Perasaan berat merayap perlahan ke dalam dadanya, menyadari bahwa mulai esok hari, kamar di sudut lorong itu akan kosong, dan rutinitas mereka minum teh hangat bersama di meja makan tidak akan lagi sama.

❖ ❖ ❖

Suara dering klakson mobil dari arah luar gang mendadak memecah keheningan di dalam rumah. Tanda bahwa kendaraan penjemput yang akan membawa Fathan dan Azalia menuju bandara internasional telah tiba di ujung jalan setapak. Suasana di dalam rumah seketika berubah menjadi semakin emosional. Detik-detik perpisahan yang selama ini coba dihindari dalam benak mereka akhirnya tiba juga.

Fathan dan Azalia mengangkat koper-koper berat mereka secara bersamaan menuju ke arah ambang pintu utama rumah. Di sana, di bawah naungan kanopi teras yang dinaungi pohon mangga, keempat sahabat mereka telah menunggu untuk memberikan salam perpisahan terakhir.

Samaira adalah orang pertama yang melangkah maju. Tanpa mampu menahan bendungan air matanya, gadis pelukis itu langsung menerjang pelukan Azalia dengan erat, membenamkan wajahnya di bahu sahabatnya itu. "Za... jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai di sana ya. Jangan sombong kalau sudah jadi anak luar negeri," bisik Samaira terisak pelan di sela pelukannya.

Azalia membalas pelukan Samaira sama eratnya, mengusap punggung sahabatnya dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja, Mai. Aku pasti akan sering kirim pesan foto-foto di sana. Kamu jaga kesehatan ya, terus lanjutkan pameran senimu."

Setelah melepaskan pelukan Samaira, Azalia beralih memeluk Zahra yang sejak tadi sudah menyeka air matanya dengan ujung lengan baju. Pelukan hangat dan panjang dibagikan di ambang pintu utama rumah tersebut, diiringi oleh isak tangis tertahan yang membuktikan betapa kuatnya ikatan batin yang telah terajut di antara mereka selama bertahun-tahun merantau di kota orang.

Fathan di sisi lain juga mendapati dirinya berada dalam deapan pelukan erat dari Arka dan Yassir. Kedua pemuda itu merangkul tubuh Fathan secara bergantian, menepuk punggungnya dengan kuat sebagai simbol dukungan seorang saudara laki-laki sejati.

"Jaga diri baik-baik di sana, kawan," ucap Arka dengan suara tegas namun bergetar. "Tunjukkan bahwa anak-anak dari rumah kos kita bisa sukses di kancah internasional."

Lihat selengkapnya