Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Lampu yang Tak Pernah Padam

Malam merayap turun dengan perlahan, membawa serta angin dingin yang berembus pelan di luar jendela kaca rumah tua warisan leluhur. Suasana di dalam rumah terasa jauh lebih lengang dan tenang dibanding hari-hari sebelumnya, ketika keriuhan anak-anak gang memenuhi halaman depan dan gelak tawa memenuhi ruang tengah. Waktu terus berjalan, dan rotasi kehidupan membawa sebagian besar penghuni untuk menempuh jalan masing-masing sementara waktu. Kini, hanya menyisakan empat orang penghuni yang tersisa di dalam rumah tua tersebut untuk merawat kehangatan yang telah lama dibangun bersama dengan penuh kesetiaan.

Rumah yang dulunya terasa penuh sesak oleh perdebatan, ide-ide liar, dan tawa canda, kini mendadak terasa begitu luas. Langkah kaki yang terdengar di lantai kayu berderit pelan, menciptakan ritme tersendiri yang menandakan betapa sunyinya malam itu. Di luar sana, lampu-lampu jalanan kota berpendar remang-remang, sementara di dalam rumah, sisa-sisa energi dari kegiatan komunitas seni siang tadi masih meninggalkan jejak berupa aroma cat akrilik dan tumpukan buku yang tersusun rapi di sudut ruangan.

Arka berdiri di dekat jendela ruang tamu, menatap keluar ke arah halaman depan yang kini telah berubah menjadi taman baca terbuka yang asri. Papan nama kayu bertuliskan "Rumah Kita Bersama" yang dipahat oleh Fathan tampak kokoh terpaku di dekat gerbang, seolah menjadi saksi bisu atas segala badai dan kebahagiaan yang telah mereka lewati bersama sebagai sebuah keluarga baru.

"Malam ini terasa sangat berbeda, ya," gumam Arka pelan pada dirinya sendiri, merapikan kerah sweternya untuk menghalau hawa dingin yang merayap masuk lewat celah ventilasi.

Kesunyian malam itu bukan lagi kesunyian yang mencekam seperti dulu, melainkan kesunyian yang sarat akan kedamaian dan penerimaan. Empat orang yang tersisa di dalam rumah itu—Arka, Samaira, Yassir, dan Zahra—masing-masing sibuk dengan ritual malam mereka, menikmati detik demi detik kebersamaan yang tersisa sebelum waktu tidur menjemput mereka ke alam mimpi.

❖ ❖ ❖

Di sudut lain rumah, tepatnya di dapur marmer putih yang selalu dijaga kebersihannya, Arka melangkah masuk dengan langkah gontai namun pasti. Rasa lelah akibat seharian mengurus operasional rumah komunitas dan merapikan sisa perlengkapan melukis anak-anak mulai terasa menghantam pundaknya. Ia mendesah pelan, lalu menyalakan lampu gantung kecil di atas meja dapur.

Arka membuka lemari kayu penyimpanan bahan makanan, mencari toples kaca berisi biji kopi sangrai lokal yang tersisa sedikit di bagian dasarnya. Ia mengambil penggiling kopi manual, memasukkan biji-biji hitam itu ke dalam corongnya, lalu mulai memutarnya perlahan.

Kriet... kriet... kriet...

Suara gesekan biji kopi yang digiling manual itu memecah keheningan dapur yang sunyi. Aroma harum kopi langsung menguap ke udara, memenuhi ruangan dengan kehangatan yang menenangkan saraf-saraf kepalanya yang tegang. Setelah selesai, ia merebus air di atas kompor kecil, menunggu hingga gelembung-gelembung kecil muncul di permukaan panci.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki ringan terdengar mendekat ke arah dapur. Zahra muncul dengan mengenakan piyama tidur bergambar beruang kutub dan rambut yang dicepol longgar ke atas. Gadis itu menguap lebar sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.

"Belum tidur, Arka?" tanya Zahra dengan suara parau khas orang baru bangun tidur, bersandar pada kusen pintu dapur.

Arka menoleh sambil tersenyum tipis, menuangkan air panas ke dalam cangkir keramik berisi bubuk kopi yang sudah diseduh. "Belum, Zahra. Aku masih ingin menikmati malam ini sebentar. Kau sendiri kenapa belum tidur? Bukankah besok jadwalmu piket membersihkan halaman depan?"

"Aku tadi terbangun karena haus," jawab Zahra, melangkah mendekati meja dapur dan mengambil gelas berisi air putih dingin. "Omong-omong, kopi itu bau harum sekali. Apakah itu cangkir terakhir malam ini?"

"Ya, ini secangkir kopi terakhir hari ini di dapur marmer putih yang bersih ini," jawab Arka lembut, menyeruput kopi hangatnya perlahan-lahan. "Menyeduh kopi di malam yang sunyi seperti ini selalu memberiku ketenangan tersendiri setelah seharian lelah mengurus banyak hal."

Zahra memerhatikan kakaknya lekat-lekat, lalu tersenyum kecil. "Kau terlihat lelah, Arka. Jangan terlalu memforsir dirimu untuk mengurus semuanya sendirian. Kami berempat masih di sini untuk membantumu."

"Aku tahu, Zahra. Aku hanya sedang menikmati momen tenang ini," balas Arka menenangkan, menepuk pucuk kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.

Lihat selengkapnya