Dimasa lalu Putu adalah seorang perempuan inspiratif, banyak yang mengaguminya. Walau ada beberapa yang tidak suka selalu memandangnya itu aneh. Sebuah keadaan telah merubah segalanya dalam hidup.
Dia tidak pernah berharap sebagai perusak hubungan. Karena sebuah pengakuan dia harus mengambil keputusan yang berat.
Meninggalkan keluarga dan menjadi istri kedua, sesuatu yang tidak diharapkan. Bukan itu yang menjadi penyesalan bagi Putu. Melainkan sikap suami yang mendeskriminasinya.
Putu punya beberapa bakat, membuat sesajen dasar yang wajib bagi seorang Hindu. Memijat, bahkan kesleo parah bisa di terapi oleh pijatnynya. Dia juga punya hobi, yaitu foto grafi dan menulis.
Semua itu adalah modal untuknya berpenghasilan. Tetapi sangat sayang, suami yang pantasnya mendukung, malah merendahkan.
Hubungan yang toxic ini berlangsung hingga beranak tiga. Anak pertama yang sudah kepepet sekolah harus dititip KK ke Madunya. Itu yang membuatnya terpaksa dan tidak terima.