Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #2

Tersandung Kelembah Derita

Hari itu berlangsung biasa, liburan akhir sekolah kali ini musim petik kopi. Putu itu panggilan seorang gadis sederhana anak buruh tani disebuah desa didataran tinggi.

Putu anak yang cukup rajin, dia adalah percontohan bagi anak seusianya. Keadaan ekonomi membuatnya harus punya uang tambahan untuk ongkos sekolah. Sebagai buruh tani adalah salah satu caranya untuk dapat uang.

Tapi saat itu, Putu punya firasat buruk tentang bosnya, karena kejadian masa lalunya. "Me..., aku tidak mau ikut metik kopi ketempatnya men Gede". Men artinya ibu dari anak tertua, digunakan sebagai nama panggilan ibu sianak.

Mendengar itu, Men Putu jengkel, "Kenapa tidak! Dia lagi perlu tenaga banyak buat panen, milih banget kamu jadi buruhnya siapa!".

Buang muka sejenak, "Meme tahukan dulu aku diapain sama anaknya dia, sudah dibantu malah aku fitnah nyelakain dia". Meme adalah sebutan umum di Bali menyebut ibu.

Men Putu sangat kesal, "Kamu ini! Men Gede sudah tahu siapa yang nyelakain anaknya, ngapain mikir buruk tentang dia!".

Menjelaskan, "Lupa ya, dia yang kukuh tidak mau nelusuri apa yang terjadi, menyebar tuduhan kesemua orang". Raut muka masam ibunya membuatnya terus menjelaskan. " Setelah dia tahu yang terjadi tidak mau minta maaf ke aku, malah baik-baik sama yang nyelakain anaknya, dimaklumi lagi!".

Men Putu sudah tidak tahan dengan pernyataan Putu. "Yang sudah lewat biarin saja, kalau kamu kerjanya baik pasti terus dikasih kerjaan".

Keras kepala ibunya membuat Putu menantang, " Bisa tidak jangan paksa aku kesana! Dia sentimen sama aku, sebaik apa pun aku kerja pasti tetap dipandang jelek". Men Putu kesal dan ngomel, "Kamu ini ngeyel benget, ikut saja susah gimana nyari, tidak tahu diuntung, ini kesempatan damai sama dia".

Putu sudah paham karakter ibunya, dia akan tetap ngotot maksa buat dia ikut panen disana. " Biar aku katakan ini, pas ultah anaknya apa aku diundang? Kadek saja! Pas liat aku ngantar Kadek kesana, mukanya kesel dan ngusir aku". Men Putu ngotot, "Ngeyel banget kamu, ini kerja bukan kunjungan, pasti kamu diterima, makanya kerja yang baik nanti".

Putu sudah tidak tahan lagi, "Baik aku turuti kata meme, tapi kalau aku kerjanya sudah berusaha baik, dia juga tidak suka, jangan salahin aku". Raut masam ibunya mereda, "Gitu dong dari pada debat". Putu kembali mengingatkan, "Jangan salahin kalau aku disingkirin dan aku akan berbuat sesuatu yang akan buat meme menyesal".

Raut muka masam muncul lagi, "Kamu ini bisanya memperkeruh suasana!". Putu menahan kesal, "Liat saja me, aku bakal diapain disana", ucapan singkat itu tanda keterpaksaan.

Seperti yang diduga sampai dikebun itu, Men Gede sudah measang raut sinis. Tanda ketidak sukaan kepada Putu, tanpa perduli ekspresi dia ikut buruh lain memetik.

Dari delapan yang ikut memetik kopi, Putu satu-satunya yang paling muda. Geraknya lincah setengah hari sudah bisa dapat lima puluh kilo. Tapi kemampuan cepat itu malah tidak disukai Men Gede.

Saat para orang tua itu menjauh, dengan nada angkuh menilai Putu. "Kamu memang cekatan, tapi apa pun yang kamu lakukan, bagiku kamu itu buruk". Putu menatap datar, "Sudah dapat ditebak, anda akan mengusir saya, kenapa tidak bilang ke meme saya, dia yang maksa saya kesini". Tanpa kata lagi pergi menjauh menuju tempat pegepulan kopi, disebuah gubuk.

Istirahat makan siang itu, Men Gede tidak disana, Putu merasa jengkel. "Pasti dia tidak berani bilang, karena meme itu super bawel dan tahu celah menjatuhkan lewat kata, pastinya tidak berani dia", batin Putu. Para orang tua lain, lebih membuatnya eneg, becandaan mereka cabul, rasanya Putu mau tonjok mulut mereka.

Hari berganti, kali ini Putu tidak berkata apa pun, walau hatinya memaksa bicara. "Orang keras kepala itu memang pantas dipukul, pukul pakai kenyataan". Langkah kaki dipercepat, "Dan orang keras hati memang pantasnya dihakimi, pakai kegagalan".

Mengepal tangan, "Ini bukan aku yang bertindak tetapi alam, biar alam yang melakukannya". Menoleh ibunya dibelakang, "Dimulai dari meme yang keras kepala ini, kenyataan kalau cara apa pun tidak bisa menghilangkan hati penendam seperti Men Gede".

Menghela nafas, "Orang kaya yang payah, karakternya buruk inilah sikap orang pewaris". Meledek dalam batin, "Sikap orang tua yang baik dinodai dengan sikap dendam tidak berdasar". Berhenti sebentar, "Salah benci aku yang terfitnah ini, sudah jelas bukan aku yang nyelakain anaknya masih juga dibenci, dasar payah", oceh batin Putu.

Setelah hari kerja hampir habis, Men Gede ada disana, yang lain disapa baik. Termasuk ibunya Putu, tetapi Putu tidak, dia lirik tajam. Itu kesempatan baginya untuk memperjelas fakta tersembunyi.

Putu mendekati ibunya, "Meme apa merasa ada yang aneh,?". Pertanyaan itu membuat ibunya bingung, "Maksudmu apa?!". Putu tertawa kecil, "Memang tidak kerasa ya, manis banget sama yang lain tapi aku...".

Ibunya terdiam berpikir, "Dia sudah bekerja dengan baik dan tidak buat masalah, tapi...". Menoleh Putu yang senyum tipis, "Kamu dicuekin, tapi meme tidak ini agak aneh".

Lihat selengkapnya