Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #3

Pilihan Terberat

Jadi karena itu Putu pergi dari rumah alasannya cari kerja. Tetapi menutupi aib agar orang dekat tidak tahu. Niat jahat muncul, untuk megugurkan kandungannya, tapi urung.

Didaerah Utara Bali, itulah wilayah asal Nengah. Tiga desa dari desa Nengah ada tempat kos, sementara Putu tinggal disana. Bantu Nengah jadi kuli borongan disebuah rumah dipinggiran kota.

Adik dan ponakannya mulai curiga, dengan kelakuan Nengah belakangan. Jadi adik perempuannya Ketut Rini menyelidiki bersama anaknya Koming Sidi.

Dua perempuan itu, mengikuti Putu dan Nengah masuk gang. Menuju sebuah rumah, disana pemilik rumah, tengah sibuk menurunkan reng dari pik up.

Saat mau beli makanan siang hari itu, mereka dicegat didepan gang. Itu mengejutkan Negah, Ketut Rini turun dari motor disusul Koming Sidi.

Melihat itu jantung Putu berdegup kencang, tetapi berusaha untuk tenang. Tatapan tajam kearah Nengah, Ketut Rini bersuara tegas. "Bli Nengah siapa dia?".

Untuk sementara hening, Nengah tengah mempersiapkan kata-kata. "Me aku rasa... Aku pernah lihat dia-", Koming Sidi mencoba menginat. "Oh ya... Ini kan teman seles paman yang sering diajak jualan itu".

Ketut Rini memperhatikan, wajah yang lesu dan perut yang agak menonjol membuat curiga. "Bli kamu hamili anak orang!", suara yang cukup keras membuat salah satu peliharaan warga menggonggong.

Syukurnya disana keadaan rumah sedang sepi, namun suasana menegangkan . Seakan puluhan pasang mata siap menghakimi mereka tanpa ampun.

Dengan suara berat tetapi lemah, "Ya dia sudah hamil dua bulan lebih". Pernyataan itu membuat syok Ketut Rini keseimbangan goyah. Secara sigap Koming Sidi segera memapahnya.

Sambil memegang tubuh ibunya, "Tiga bulan kata paman!-". Koming Sidi melotot tajam,"Bibi sudah tahu ini!", Nengah menggeleng, "Belum".

Koming Sidi menggertakkan gigi, terpejam dalam, tanda dia sangat marah. Lalu memandang Putu, berusaha santun, "Lalu orang tua kakak sudah tahu?".

Putu hanya menggeleng, dulu dia pasti bisa jawab langsung keorang, itu gampang. Sekarang karena kesalahan fatal ini yang membuatnya merasa tidak pantas bersuara.

"Apa kakak tidak tahu orang ini sudah punya anak dan istri". Suara Putu lemah, "Tahu, tapi ini sudah terjadi, maaf".

Koming Sidi menghela nafas, "Salah tempat kakak minta maaf keaku, harusnya bibiku".

Putu berusaha berani bertanya, "Bukan ibu yang ajak kamu ini, istri pamanmu".

Buang muka sebentar, "Bukan ini adik paman, ibu kandungku". Putu salah paham, mengira itu istri sah Nengah.

Ketut Rini sudah merasa mendingan dari syok, berdiri normal disamping Koming Sidi. "Bli, kamu benar-benar keterlaluan, tega sama anak istri, Ketut masih dua tahun masih perlu kamu".

"Aku memang salah dik, aku tidak akan ceraikan kakak iparmu". Ketut Rini menggeleng, "Kamu juga sudah rusak hidup anak orang".

"Aku akan tanggung jawab Tut", Ketut Rini memegang kepala, kemudian menghempas tangan. Jari mengepal kuat, tetapi melemah, "Bli, kamu pikir punya istri dus gampang? Ya alau sama-sama ngerti, kalau tidak hancur semua!".

Nengah bersuara lemah, "Ini risikoku Tut", mendengar itu Ketut Rini paham kakaknya ngotot mau poligami. "Terserah apa katamu bli, sebagai adik aku hanya mengingatkan, selebihnya terserah".

Mereka berdua pergi dari tempat itu, Nengah memandang Putu. "Aku pasti tanggung jawab dan akan adil". Itu memang terdengar manis, tetapi Putu meragukan keadilan yang dimaksud Nengah.

Apang semestinya berlalu hari itu, berjalan sesuai jalurnya masing-masing. Putu kembali kekosnya, disana dia satu-satunya yang kos, sewa murah karena rumah tua, disana ada banyak kamar.

Ini yang dihadapi Putu kesunyian, "Ini seperti tanda semesta kalau kedepannya pasti sendiri berjuang-". "Banyak ruangan kosong seperti tempat ini, tinggal masuk saja yang jadi penghalang cuma akses masuk".

Memegang perutnya, "Kamu akan hadir kedunia, jadilah anak kuat, karena posisi dan keadaan yang sulit ini-". " Jadi kuatlah kamu yang menjelma, maaf aku akan keras, karena kerasnya hidup jauh lebih kejam dari cara didikku".

Hidup yang berat ini harus dilaluinya, tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini. Dia ingat dulu pernah dibuli hampir mati, tetapi bisa bertahan.

Lihat selengkapnya