Hari yang ditunggu-tunggu tiba, Putu dan Nengah menghadap Kelian Banjar. Kelian Banjar adalah salah satu pejabat diwilayah desa adat di Bali. Mereka membuat surat ijin untuk kawin lari. Rencananya dikirim lewat Kelian Dusun kedesa tempat asal Putu. Kelian Dusun adalah salah satu pejabat dinas didesa.
Surat memang lancar sampai tujuan, tetapi belum bertemu langsung. Karena orang tua Putu tengah sibuk memetik cengkeh didesa tetangga, diwilayah barat Bali.
Malam tiba hp Putu berdering, terlihat dari panggilan masuk tertulis "Nanangku". Disana juga ada Nengah, keragu-raguan dimata Putu untuk menjawab panggilan.
"Jawab saja Tu"
Raut wajah datar, jantung berdebar walau ragu Putu menjawab teleponnya. "Hallo nang", terdengar suara beberapa orang dibelakang. "Putu pulang! Tidak usah ajak pak Nengah itu! Kembali sendiri kesini!".
Dari ucapan jelas Pan Putu tidak merestui jika, ia menikah dengan lelaki beristri. Putu menoleh Nengah, isyarat setuju, "Baik nang", telepon diakhiri.
"Sudah dengar, mereka tidak setuju"
"Jadi kamu setuju? tidak pikirkan kalau anak ini lahir tidak ada bapaknya"
"Diempatku ada yang begitu, bukan masalah"
"Kita ini Hindu, tidak ada anak yang tidak diakui, ini tidaklah benar!"
"Benar salah, sama bagiku, aku tidak mau memilih yang mana, yang aku mau lenyap saja tanpa sisa dari dunia ini"
Nengah terdiam sebentar, "Kamu pikir Moksa itu gampang, jaman Kali Yuga saat ini, itu nyaris tidak ada"
"Dunia ini sudah kotor, para Dewata sudah jijik dengan roh manusia rendahan"
Ucapan itu membuat Nengah kesal, namun masih ada dalam kendali. "Semua manusia punya dosa Tu"
"Ya... Sebelum dosamu juga bertambah, sebaiknya pulang ke istri sahmu, sudah malam"
Ucapan Putu seakan tamparan baginya, tetapi tidak bisa menyalahkan. Dia jadi seperti itu karena perbuatan Nengah sendiri.
"Kamu mau mengusirku!?"
"Tidak, tapi sudah saatnya pulang, anakmu yang paling kecil pasti rewel"
Tanpa kata Nengah pergi, kata Putu ada benarnya. Setelah tidak terdengar lagi suara motornya, baru ia merasa tenang. Tiap lihat atau dekat dengan Nengah seperti memikul beban dunia, energi terasa habis.
Semangat yang dulu membara kini padam, seluruh angannya menghilang. Ingin rasanya bercerita tetapi enggan, teman seusianya tidak ada yang berpengalaman. Terlebih dalam ingatannya yang keruh, mereka hanyalah sekelompok pembuli.
Terlintas ingatan tentang Wasti, air matanya jatuh, bukan ingat dia telah tiada. Melainkan dirinya kenapa harus ada didunia, hanya untuk menyakiti orang lain. Hatinya gelap seperti malam tidak berbintang hari itu, gelap tanpa satu pun sinar. Mata terpejam karena kelelahan oleh pemikiran yang tiada ujung.
Entah ada dimana saat ia bangun, tempat itu terasa asing, yang ada hanya kabut. Ada cahaya tapi tidak ada sumber cahaya, tidak panas, tidak dingin. Putu tersentak, teringat sebelum kecelakaan, dia main kejar-kejaran bersama Wasti ditempat ini, sebelum akhirnya Wasti menghilang.
"Ini Suniantara, batas orang hidup dan mati, sepertinya ini saat aku mati dalam tidur"
Putu terus berjalan entah berapa jaunya, lubang yang ia lihat sebelum Wasti menghilang tidak ditemukan. Ia merasa putus asa, untuk kealam kematian sangatlah sulit.
"Apa semua ini? Kenapa Dewa mempermainkan aku! Kalau mati cepatlah cabut saja nyawaku... Aku sudah muak dengan dunia..."
Teriakan itu sangat keras, tetapi tidak ada satu mahluk yang menjawab. Semua membisu, memang sesuai tempatnya, Suniantara. Sunia artinya kesunyian dan Antara adalah batas dunia. Seperti hidup Putu yang sepi, terjebak diantara dua sisi, sisi yang membingungkan untuk dipilih.
Dari belakang muncul cahaya terang, Putu berbalik, itu Wasti berpakaiyan adat madya Bali serba putih. Senyumnya manis seperti yang selalu dilontarkan tiap bertemu Putu.
"Tu, kenapa kamu kesini?"
Ucapan itu membuatnya lemah, tubuh gemetar, keseimbangan goyah. Segera Wasti memeluknya, Putu tidak berkata sepatah katapun. Semua terasa beku baginya, tidak seperti dulu bercerita blak-blakan.
"Aku tahu ini berat Putu, tetapi karma hidupmu belum selesai-". "Jadi kamu tidak bisa kealam yang lebih tinggi"
"Jika tidak dapat Surga, lebih baik Neraka, dari pada menyakiti lebih banyak orang lagi"
"Kamu tidak bisa memilih alam mana yang kamu dapat, terlebih yang menjelma mempercayaimu"
"Kenapa harus aku? Kenapa bukan anak si Nengah itu?"
"Aku tidak bisa jawab itu Putu, itu adalah bagian takdirmu, kamu itu orang tangguh, mungkin itu alasannya"