Sejak mengetahui itu Putu tidak bisa tenang, karena itu menyangkut jabang bayi yang tidak berdosa. Sedari dulu ia selalu jadi incaran uji coba ilmu hitam, tetapi tidak pernah mempan. Seakan ada kekuatan tidak terlihat yang selalu melindunginya
Saat kecelakaan dulu, yang diincar adalah Putu, bukan Wasti. Itulah yang menyebabkan Putu merasa bersalah, mestinya dia yang mati.
"Wasti, harusnya aku saja saat itu, lebih baik aku, kamu itu disayang banyak orang"
Ucapan itu didengar Kadek yang menguping dibalik pintu, ia merasa sedih, air mata menetes. Berbeda dengan Putu, ia tidak menangis mungkin karena sakitnya terlalu dalam.
"Kamu yang menjelma, jika aku bunuh kamu itu dosa, tetapi aku juga tidak mau kamu juga menderita".
Dalam batin,"Mbok, jangan! Dia tidak salah! Yang salah itu mereka...". Kadek mau mengatakan itu, tetapi mulutnya terasa dilakban, sulit kata-kata keluar.
Beberapa hari ini Putu tidak bicara apa pun, ia selalu termenung. Nasihat Men Putu hanya angin lalu baginya, itu tidak merubah keadaan yang sudah terjadi.
Dalam pikiran yang keruh, Putu tidak menganggap siapa pun baik, semua salah. Dorongan untuk pergi semakin kuat, setelah tahu niat manusia durjana.
Dalam benaknya selalu berkecamuk, layaknya badai yang tengah mengamuk. "Lahir disini, hidup disini, tapi terhina, inikah kebaikan yang dimaksud? Tidak!-". "Tidak terbayangkan ternyata yang perusak itu orang dekat, kirain orang Utara".
Putu merasa orang-orang disana seperti pagar makan tanaman. Rasa tidak Sudi tinggal lebih lama. Hatinya geram, "Jauh lebih terhormat mati ditempat orang lain karena berjuang, dari pada disini terbunuh oleh bungkam".
Hingga keputusan besar diambil, karena sudah tidak tahan dikondisikan seperti itu. Keputusan yang akan menentukan hidup Putu kedepannya.
Dihari itu Pan dan Men Putu juga Kadek dicari orang, mereka dapat borongan metik cengkeh. Tentunya itu tidak ditolak, namun Putu tidak bisa ikut dikarenakan lokasi yang jauh. Dia kemudian dititpkan dirumah neneknya, itu kesempatan bagi Putu.
Ia dititipkan disana, ia merasa diperlakukan seperti anak kecil. Baginya itu suatu penghinaan, hanya bahasa diam diperlihatkan. Nenek itu memperhatikan, dia tahu perasaan Putu, ia tidak bertanya karena menantunya masih ada.
Setelah pergi, nenek yang pincang itu menanyakan yang terjadi. Putu katakan semua, ia terbuka, tidak ada yang ditutpi.
"Ya dadong, ngerti itu, tapi dadong tidak bisa bantu-". "Kamu tahu sendiri mememu itu cerewet dan keras kepala, makanya tidak mau serumah dengan dadong". Dadong adalah salah sebutan umum untuk memanggil nenek di Bali.
Putu ingat alasan orang tuanya pergi dan milih tinggal digubuk, tanahnya punya orang. Dulu mereka selalu berdebat, yang membuat hidup Putu tertekan. Saat balita perdebatan mertua dan menantu selalu didengar. Hingga ia bingung harus dekat yang mana, dekat dadong diomel meme. Menjauh dari dadong, hanya dadongnya saja yang paham maksud Putu.
Sedari kecil penderitaannya tidak pernah berhenti, yang dialami kali ini yang terparah. "Aku dibawa kesini, agar aku kasihan melihat dadong yang sudah tua ini", ucap Putu dalam hati. Senyum tipis, "Tetapi apa pun yang dilakukan, tidak akan bisa merubah keadaan dan penilsianku-". " Semua masih terasa sama, menyebalkan!"
Pikiran Putu sudah tidak bisa positif lagi, setelah itu pergi menuju kesebuah kamar. Pikiran yang negatif telah menguras energinya, ia rebah ditempat tidur. Dadong mengintip dari jendela, Putu hanya bengong, sesekali bangun.
Dalam hati,"Putu... Kenapa jalan hidupmu buruk, padahal kamu sudah berusaha baik". Dengan bantuan tongkat, ia melangkah menjauh dari emper kamar itu.
Dalam benaknya, "Aku harus memilih sekarang! Diam tidak ada gunanya!". Putu mengintip keluar jendela, "Aku harus keluar dari situasi menyebalkan ini!".
Teringat akan uang yang dirahasiakan selama ini, "Ya mumpung ada modal, sekarang tinggal bertindak".