Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #6

Adu Muka

Setelah beberapa hari, tempat tinggal yang dijanjikan Nengah telah selesai. Tetapi tempat itu agak berbahaya, gubuk yang ditempati itu dibawah tebing yang rentan longsor. Tempat itu satu-satunya yang strategis, karena tidak ada yang berani tinggal disana.

Ini mengingatkanya pada masa kecil terdahulu, disebuah kebun yang ditumbuhi semak belukar. Dalam nati, "Oh yak ampun... Ini terulang lagi, merubah tempat menyedihkan ini jadi surga".

Ketika sore hari mendadak ada seorang perempuan yang terlihat tidak tua, tidak muda. Melangkah cepat mendekati Putu, raut wajah kesal. Ia menghentikan aktifitas menyapu, rasa tidak karuan dirasakan.

Putu menyapa ramah, "Maaf Bu, ada perlu dengan pak Nengah?". Tatapan mata tajam, "Tidak! Sengaja cari kamu!", mendengar ucapan itu, Putu takut, tetapi tidak ditunjukkan.

Perempuan itu menatap tajam dirinya naik turun, menilai fisik Putu menyeluruh. "Apa ada yang salah Bu?", tanya Putu polos. "Ada! Kamu salah telah memilih suamiku!", mendengar itu, seakan halilintar menyambar dirinya.

Perempuan dihadapannya adalah istri sah Nengah, orang yang paling ingin ia hindari. "Memang kamu tidak tahu dia sudah punya anak istri!"

"Tahu, tapi...", terpotong.

" Kalau tahu kamu ngapain rebut suami orang!"

Putu terdiam, ia ingin mengatakan semua kebenarannya. Namun dikondisikan ini, apapun yang dikatakannya tidak akan merubah keadaan. "Kalau kamu punya logika, kamu tidak sepantasnya berbuat begitu! Sampai hamil lagi!".

Mata perempuan itu berkaca-kaca, "Kamu tega sama keluargaku, anakku masih kecil dan kamu berani kabur kesini!". Suara keras itu sampai ditelinga Nengah yang ada diatas tebing, segera ia menuju lokasi mereka.

"Kamu telah merusak segalanya! Harapan dan masa depan! Perempuan macam apa kau!".

Nengah segera mendekati mereka, "Luh... Sudah! Jangan pojokin dia...". Tatap tajam berderai air mata, "Penghianat! Katamu kerja cari uang tambahan! Ini tambahan kamu!-". "Kamu telah merusak kepercayaan semua orang!"

"Maafkan aku Luh, aku memang salah"

"Maaf darimu tidak akan merubah apapun! Hidup yang sudah susah ini kau tambah lagi kesusahannya!"

Tanpa berkata lagi Luh pergi dari sana bercucuran air mata, yang mencuci disaluran irigasi itu mendengar semua. Tidak ada yang bergeming, layaknya mereka tengah mendengar drama radio.

Waktu terus berlalu itulah siklus alam, tidak ada yang bisa menghentikannya. Sesuai rencana, upakara Biakaonan, itu jenis upacara ritual tingkat rendah. Ini biasa dilakukan untuk minta izin kepada alam bawah, agar secara Niskala diberkati.

Hanya ada beberapa yang datang, termasuk ibunya Nengah. Perempuan yang sudah renta berkeriput, "Putu sekarang kamu sudah resmi disini, jadilah warga yang baik". Ia hanya mengangguk, mertua dan beberapa orang itu pergi, teringat dua orang tidak asing.

Ia bertanya pada Nengah, "Perasaan ibu yang rambut pendek baju coklat sama gadis baju lengan panjang itu, rasanya pernah ketemu". Nengah mengingat sebentar, "Mereka itu, Ketut Rini dan Koming Sidi, yang melabrak kita waktu itu".

Ia coba mengingat, raut wajah berubah muram, "Bukannya mereka orang yang tidak setuju dengan yang terjadi dengan kita". Tersenyum tipis, "Bukannya mereka tidak terima, mereka itu perhatian sama kamu".

Ucapan itu terkesan aneh di telinganya, "Amarah waktu itu, apa bisa dibilang perduli?!"

"Buktinya tadi, mereka ikut jadi saksi upakara kita"

Itu tidak bisa dibantah, memang sudah sangat jelas mereka yang bawakan sesajen dan ikut sampai selesai. "Ya sikapnya saat ini tanda kalau kak Ketut itu bisa jadi orang bersikap baik padaku nanti".

Ini kali pertama Putu menampakkan diri dihadapan masyarakat. Ia berbelanja, beberapa pasang mata menatap, berbisik dengan yang disebelah. "Itu istri baru Nengah, cantik dan muda, tapi sayang pelakor".

"Kayak tidak ada laki-laki didunia ini, suami orang direbut!"

Pemilik warung menggeleng, melihat Putu tertunduk, "Abaikan saja Tu, mereka memang suka begitu".

"Ya Bu, sindiran itu tidak berarti, hanya saja..."

"Ibu paham, abaikan saja, lagi hamil tidak boleh banyak pikiran"

Nasihat itu dedengar, melangkah tidak cepat, tidak pelan menjauh dari tempat itu. Saat beberapa orang lewat digang itu, semua melirik sinis, dalam hatinya. "Lingkungan baru yang ekstrim, tapi jauh lebih baik mereka bukan orang yang kenal aku, wajar".

Sampai didekat gubuk, ia menoleh kesebelah, tebing yang terlihat kokoh. Jika diperhatikan ada rekahan halus, "Ini tinggal menunggu runtuh musim hujan". Memalingkan wajah, "Semoga saja tidak tahun ini, aku baru melahirkan dan anak ini masih bayi".

Selain orang yang masih belum terima, masalah lain yang mesti dihadapi disini, geografis tempat tinggal rawan longsor. Paket lengkap penderitaan, itu tidak bisa ditolak, tidak bisa dikembalikan.

Hawa pengap musim kemarau, itu terasa sama seperti keadaan Putu. Menjelang sore, didekat tebing itu merupakan saluran utama irigasi sawah. Terdengar gelagat tawa, dengan bumbu sindiran yang cukup panas.

"Enak dong yang muda, masih legit banget, ditaruh dipundak"

Lihat selengkapnya