Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #7

Siapa Yang Perduli ?

Pagi telah berawal, tetapi mereka tidak saling menyapa atau bertanya. Masing-masing telah sibuk dengan kegiatan, Putu didapur sedangkan Nengah diteras.

Peralatan tukang dipersiapkan, gergaji juga dikikir hingga tajam. Putu sudah selesai memasak beras, tetapi tidak ada lauk, karena Nengah tidak kepasar pagi ini.

Setelah menaruh nasi ditempatnya, ia kembali ketempat tidur. Mengetahui itu Nengah emosi, "Masih pagi , balik tidur! Dasar pemalas!". Santai dijawab, "Pekerjaanku sudah selesai, jadi mau buat apa lagi?".

Nengah menoleh keatas meja, hanya ada bakul nasi yang masih mengeluarkan uap. Menatap tajam Putu dipembaringan, "Lauknya belum kamu buat!".

"Kalau begitu mana bahannya, itu gampang"

Nengah tertegun, ia ingat belum kepasar pagi ini, tanpa kata pergi. Putu bagun dari pembaringan memandang langkah Nengah yang terburu-buru. "Yak ampun! Inilah susahnya sama orang sudah menua, menyenangkan sekali!", batin Putu kesal.

Nengah telah berangkat kerja kuli, kini tugas Putu dirumah mengangkut air. Ember ukuran dua puluh kilo ditenteng, dileher berkalungkan handuk.

Disana ada beberapa orang nyuci, tanpa menyapa Putu mengambil air dari atas jembatan. Handuk dilulung mirip kue gulung, ember berisi air diangkat, ditaruh dikepala. Lalu jalan menuju gubuk yang jalannya agak sedikit menanjak.

Sudah beberapa kali mengambil air, tidak ada tegur sapa, masing-masing sibuk dengan kegiatan sendiri. Dalam hati, " Dulu kalau ada orang pasti aku sapa, tapi disini tidak, terlebih kejadian kemarin, aku harus tahu diri jadi pendatang".

Ia paham sanksi sosial yang dihadapi tidaklah mudah, dalam keadaan apapun harus kuat. Sambil jalan, "Maafkan ibumu ini, dari kamu masih segumpal darah hingga terbentuk diusia lima bulan, kamu diajak kerja berat".

Secara umum panduan buku KIA, ibu hamil dilarang kerja angkat berat. Namun ekspektasinya yang dihadapi membuatnya terpaksa melakukan itu, karena disana satu pun tidak ada yang perduli.

Hari-hari yang dilalui membosankan, hingga suatu kebetulan. Disaluran air ada benda hanyut, setelah diambil ternyata selembar uang lima ribu.

"Ini hari keberuntunganku, aku bisa jajan", teringat kemarin, Nengah tidak mau membelikannya rujak. Berpikir sebentar, " Ah... Tidak usah izin, lagian beli rujak doang bukan emas". Ember ditinggal dipinggir jalan setapak, kaki melangkah cepat menuju salah satu warung.

Beberapa orang ada yang berpapasan dengannya, tapi tidak satupun yang menyapa. Kaki teruscmelangkah ketujuan, disana juga ada beberapa orang yang antri membeli. Putu berdiri menunggu yang duluan dapat pesanan, tidak ada yang sadar kalau ia ada dibelakang mereka.

Warung kelontong kecil, dipinggir jalan gang, emper rumah digunakan sebagai tempat usaha. "Usaha kecil ini pasti disetujui suaminya, makanya biar murah setengah emper rumah dijadiin tempat jualan". Itu yang terlintas dalam benak Putu, wajah sedikit berseri, tapi kembali muram.

Pemilik warung kelontong menoleh, sedikit terkejut melihatnya. Berdiri secara dadakan dibelakang langganannya, perempuan paruh baya itu bicara. Sedikit senyum, " Yang dibelakang mau pesan apa?".

Beberapa pasang mata menatap, mereka terlihat agak bingung, lalu saling toleh. Tidak jauh dari sana datang seorang perempuan paruh baya, dengan postur tubuh lebih pendek. Menyapa hangat, "Eh Putu tumben bibi keluar?!".

Putu senyum tipis, "Ya bibi, aku mau beli rujak", pemilik warung bertanya. " Rujak apa Tu?"

"Rujak buah, tapi jangan diisi terasi dan mecin tolong jangan pakai timun"

"Pakai asam apa cuka?!"

"Asam bi"

"Pedas?"

"Ya"

Untuk pertama kalinya disana ada orang yang perduli, pemilik warung yang ramah pelayanannya. Dan bibi yang satunya adalah orang yang ikut Putu untuk minta restu kemarin.

"Sudah dua bulan, perutmu makin besar, gimana kondisi kandungan, sehat?"

Lihat selengkapnya