Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #8

Cahaya Redup

Kontraksi makin jadi, Putu sudah tidak sanggup lagi menahan sakit. Bidan sudah siap dengan segala peralatan, "Bu Bidan apa sudah boleh?", ucapnya menahan sakit.

Bidan mengangguk, kaki diposisikan, kini Putu mengeden. Sudah berlalu sepuluh menit, ia masih mengeden sambil mengatur nafas. "Ayo Bu dorong lebih kuat", ucapan Bidan.

Sesuai intruksi Putu melakukannya, setelah lima menit bayi itu keluar. Suara tangisnya terdengar hingga ruang tunggu, ia menoleh arah pintu tapi tidak ada yang datang. Setelah dipakaikan baju dan selimut diserahkan untuk disusui.

Sudah setengah jam Nengah dan ibunya masuk ruangan bersalin. Putu tidak perduli, dengan ramah disapa mertua, "Masih lemas Tu?". Tatap datar mengangguk, sebenarnya dia bisa bersuara hanya saja ingat posisi dia berlagak bodoh.

Beberapa orang menengok setelah beberapa jam setelah melahirkan. Nengah tidak ada, iparnya datang, Kem dan kedua anak laki-lakinya. "Oh sudah lahir ya, cewek, selamat ya", ucapan itu teras seperti udang dibalik batu. " Ya makasi", ucap Putu singkat.

"Ya selamat, soalnya anak perempuan mana dapat waris", ucapnya dalam hati. "Dasar miskin hati, warisan saja isi otakmu!". Hening sejenak, "Ah biarin setelah anak ini gede, aku cari uang biar tidak kayak kamu, payah...!". Pikiran Putu tidak pernah baik kepada Kem, karena dia si penebar rumor nomor satu dilingkungan itu.

Dimeja terpampang jelas perlengkapan bayi itu, lebel harga masih ada menggantung. " Totalnya 80 ribu, ya pamer banget, atau kebaikannya ini harus dicatat".

Nengah melihat tatapan Putu, dia menilai pemberian iparnya itu rendah di mata Putu. "Jangan pandang rendah pemberian orang", ucapan itu menyebalkan. Berbeda jauh dari pemikirannya yang menilai ada udang dibalik batu. Atas pemberian iparnya itu, bukan merendahkan, "Dasar tidak peka, aku mikir apa? Dia mengira apa, dasar tidak nyambung", batinnya.

Setelah lewat setengah hari mereka kembali pulang, ketempat tinggal Putu. Rasanya ia kembali ketempat dimana cahaya langsung matahari tidak ada.

" Bukan tempat ini yang buatku merasa kehilangan harapan, bukan juga anak perempuan ini-". " Tapi setelah ini, bagaimana hidup anak ini, aku kena sanksi sosial".

Wajah lesu itu terlihat seperti kelelahan, namun jauh di lubuk hati ia merasa tidak pasti. Disana ada Koming Sidi dan Ketut Rini, air mandi telah siap, sekitar jam tiga Ketut Rini mengajari memandikan bayi.

Setelah itu, mereka pergi, hanya tinggal mertuanya, "Jangan makan pedas dan berlemak dulu anakmu masih bayi merah". Itu pesan mertuanya, ia hanya mengangguk, terlihat- memang, tapi ia paham sok pintar hanya nambah masalah.

Tiga hari berlalu, selama itu Putu berusaha sendiri untuk mencuci di irigasi itu. Kondisinya masih kemah, Nengah sudah pergi kerja kuli sejak dua hari lalu, sore memang pulang, tapi cuek. Yang perlihatkan muka lelah, dan kegiatan rumah masih berlaku sama untuk Putu, tidak ada permakluman.

Telepon masuk berdering, segera diangkat Nengah, terdengar jelas suara dari telepon.

"Nengah gimana kabarnya ini?"

"Kabarnya sangat baik", suaranya sumringah.

"Dua hari lagi ada reuni, kamu hadir kan?!"

Tanpa banyak berpikir, "Pastinya... Aku pasti akan datang mumpung libur".

Entah apa lagi yang dibicarakan, mendengar itu Putu merasa tidak dianggap. "Jadi reunimu penting banget, lupa kalau anak masih bayi merah dan belum putus pusar"

Putu pura-pura tidur sambil menyusui bayinya, dalam mata yang terpejam. Hati dipenuhi kata-kata, tapi enggan untuk diucapkan, karena jika keluar dia akan diintimidasi.

"Inikah harapan yang kau beri, bukan miskinmu, bukan tuamu bukan juga kamu itu sudah beristri-". " Tapi bisakah kamu menolak kali ini saja, aku perlu diperhatikan, aku masih lemah, ini melahirkan pertama".

Namun mata dan mulutnya terkatup, tidak mau bergeming. Seakan dia tidak berhak untuk bicara, itulah kenyataan yang dihadapi. Orang pasti berpikir jadi istri muda enak didampingi, tetapi lihatlah Putu, itulah kenyataan seorang istri muda.

Hari itu tiba, memang hari itu Nengah yang memasak, lauk seadanya. "Nasi dan lauk sudah siap, kamu tinggal makan-". "Jangan lupa angkat jemuran, nanti pasti hujan". Tanpa mengucap pamit Nengah pergi, sesuai janji yang diucapkan kepada temannya.

Teringat Putu akan janji yang diucapkan Nengah.

"Aku akan tanggung jawab"

"Aku akan bersikap adil"

Putu tersenyum, "Janji tinggal janji, ya semua lelaki juga begitu-". " Meyakinkan diawal tapi menyakitkan akhirnya".

Lihat selengkapnya