Proyek masih berlanjut, cuaca panas, tapi Putu masih sibuk menyekop pasir kedalam arko. Tenaganya tidak kalah dengan laki-laki, tetapi tubuhnya agak kurus, bukan karena kurang makan. Melainkan beban pikiran yang tidak pernah disampaikan, disampaikan sekalipun itu dianggap keluhan tidak berguna.
Para pekerja lain coba menyapa, Sorang lelaki paruh baya, "Bu Putu jangan berjemur"
Putu menoleh, "Tidak apa-apa pak tinggal sedikit lagi"
Setelah beberapa lama akhirnya pasir habis disekolah, arko bergerak didorong para pekerja. Saat istirahat siang setelah makan, para pekerja sedang menikmati santai.
Sorang perempuan empat puluhan, berambut panjang sedikit kerutan di wajah tersenyum. "Wih kuat banget Bu Putu, kalu saya pasti sudah sakit pinggang".
Putu hanya senyum tipis, "Ya kalau muda masih bisa dipaksa, kalau sudah tua ya tinggal minta". Saat itu Nengah baru masuk diarea istirahat, ucapan itu menyindirnya, tetapi diam.
"Kok bisa begitu Bu?"
"Ya yang muda itu harus kerja keras buat yang tua, kerja saja terus tidak usah pedulikan perasaannya"
Yang lain terlihat bingung dengan ucapan Putu, yang berusia tiga puluhan bertanya. Lelaki yang berkulit kehitaman rambut keriting, "Ini seperti pengandaian".
"Raut muka datar, "Ya, kalau pemula tidak pantas di kasih upah, kasih saja kerjaan yang banyak, itu sudah upah dia kan"
Mereka yang disana terlihat bingung, Nengah menatap tajam kearah Putu. Para pekerja tidak kerasan, karena mandor mereka ada dibelakang. Putu menatap datar kearah Nengah, isyarat kalau dia tidak takut padanya.
Sesampainya dirumah sore itu, mereka hanya diam, Niluh balita itu bingung. Jadi dia menempel pada ibunya, raut muka yang sinis dari bapaknya membuat ia bersembunyi dibalik tubuh Putu.
Saat coba masuk kedalam, "Berani sekali kamu !", ucapan Nengah menghentikan langkah.
"Berani soal apa?"
"Berlagak tidak tahu, tadi siang kamu nyindir aku!"
"Tidak ada yang menyindir"
Putu masuk mengajak Niluh kedalam, mempersiapkan pakaian ganti. Bahu ditarik kasar, yang membuat keseimbangan Putu goyah.
"Berani sekali kamu menantangku!"
"Menantang? Kapan?!"
"Kamu ini!"
Tamparan keras melayang diwajsh Putu, itu disaksikan langsung oleh Niluh. Wajah berpaling akibat tamparan, kembali lagi dia menatap Nengah.
"Oh jadi ini upah yang aku dapat dari semua yang aku lakukan"
"Ya itu pantas!"
"Oh berarti pekerjaanku diproyek kamu itu tidak dihitung ya, harusnya aku dapat gaji!"
"Kau minta gaji? Biaya hidup selama ini itu uang kamu yang dipakai"
"Oh begitu, jadi selama ini aku bekerja itu untuk membiayai seluruh keluargamu, pantas saja"
"Jangan asal bicara!"
" Lalu apa! Istri sahmu tidak kerja, lihat makan enak terus, makan daging aku makan tempe dan kangkung, adil sekali!"
"Kamu jangan nuntut, berkorbanlah biar diterima baik"
Putu buang muka, "Bagi kamu ini sudah cara yang adil?
"Buat dia senang agar kamu diterima baik sama istri sah-ku"
Putu senyum, " Itu bukan masalah-". "Tapi kenapa dengan orang lain sangat ramah dan pengertian, aku jadi pelampiasan"
"Pelampiasan apa?"
"Aku diperlakukan seperti orang asing diproyek, sedangkan kamu perlakuan mereka seperti keluarga, waras!", menunjuk Nengah.
Untuk beberapa saat Nengah terdiam, "Aku perlu mereka buat berkerja, jadi perlakuan mereka dengan baik"
Senyum sinis, "Ya itu benar"
"Sekarang paham kenapa aku begitu"