Pagi itu cerah berawan, cuaca itu antara terang dan gelap, sama seperti suasana hati Putu. Pagi ini tidak kerja karena adalah salah satu anggota Dadya yang punya acara selamatan.
"Kali ini aku wajib ikut, tidak ada alasan untuk tidak", batin Putu
Ia telah bersiap mengenakan baju kaos abu-abu kain Kamen dan selendang. Pakaian itu pakaian adat Bali Nisata, tidak mewah tapi mengesankan sedang ada acara upakara.
Jam tujuh sudah tampak ramai, Putu telah siap dengan Delokan, sebuah wadah stanles, berisikan sekilo beras dupa dan gula pasir. Putu masuk bersama Niluh, beberapa pasang mata melihat sinis.
Setelah basa basi Putu ikut salah satu kegiatan, disana terlihat ada yang membuat ketupat. Disana ada iparnya Kem, dia dan beberapa perempuan memulai aksinya.
"Putu kan sudah tiga tahun disini, kamu bisa apa saja", ucap Kem halus
Sorang perempuan gemuk menyambung ucapan, "Ya pasti bisa sesuatu, tempat turnamen birahi"
"Ya maklum anak muda, istri muda ya hanya bisa itu saja"
Mereka tertawa cekikikan, pemilik acara seorang lelaki enam puluhan mendekat. Berpakaian adat nista lengkap dengan udeng batik. Melempar janur yang sudah tidak ada lagi sembilan puluh persen lidinya.
"Eh tukang bacot, buat ketupat nasi lima puluh kelan sama ketupat sirikan tiga puluh kelan"
Semua menatap orang tua itu, pandangan kesal dibalas lelaki tua itu.
"Kuat bacot, kuat kerja, buat begituan kan gampang ! Biar tidak sirik, buat ketupat sirikan !"
Ketupan sirikan mirip ketupat nasi, hanya cara anyam yang lebih simpel dan sudut kedua sisi lebih runcing. Itu salah satu pelengkap sarana sesajen, itu wajib ada dijenis upakara tertentu.
"Pak itu buat sekarang ?", tanya Putu kepada orang tua itu
"Ya lebih cepat lebih baik"
Putu segera mengambil janur itu, ia terlihat berpikir sebentar, terlihat Dimata mereka Putu terlihat bodoh.
"Kalau tidak bisa, tidak usah malu-maluin nanti", ucap Kem.
Putu menghela nafas, tangan bergerak tanpa kata, anyaman demi anyaman disusun membentuk ketupat nasi. Setelah jadi satu, mendadak dihentikan oleh Kem.
"Sudah kamu buat ketupat sirikan"
Terlihat dari tatapan Kem, Putu tidak akan mampu membuatnya. Tanpa kata ia melilitkan janur kedua sisi berbeda diangan kiri. Bertahap menyusun anyaman ketupat, lalu diupay agar lebih rapat.
Tangan terus bergerak, Niluh duduk anteng disebelah itunya, memperhatikan tangan terampil itu menganyam. Tidak terasa hampir sejam, ketupat sirikan tiga puluh kelan selesai, tiap kelanan berisi enam buah yang diikat.
Merasa sudah tidak ada pekerjaan Putu pindah dari situ, ipar dan beberapa orang tadi bengong. Kurang dari sejam bisa membuat ketupat tiga puluh kelan. Mereka bertiga baru selesai setengahnya, yaitu dua puluh lima Kelan ketupat nasi.
Disebuah sudut di area rumah itu, seorang nenek mendekat, keriput dan rambut putih menandakan sudah berusia 70 tahunan. Putu memperhatikan, bebek itu duduk disebelahnya.
"Kamu terampil sekali Tu"
"Benarkah ? Aku hanya melakukan sebisaku"
"Ternyata dibalik diam kamu tersimpan bakat"
"Itu bukan bakat, itu wajib bisa nek"
Walau terdengar nada suara Putu agak tinggi dan bermuka datar, tetapi dia dinilai baik. Nenek itu menatapnya, ia merasa kalau orang tua itu tersinggung.
"Maaf nek, aku tidak bisa lembut, logatku memang begini"
Tersenyum tipis, "Tidak Tu, sikapmu tidak sombong, logat itu memang bawaan"
Mendengar ucapan itu membuatnya sangat lega, karena ada beberapa orang yang tidak masalah dengan logat Putu.
Namun tidak bagi Nengah, itu terdengar menyebalkan, seluruh percakapan itu didengar dari samping bangunan rumah. Setelah nenek itu pergi, Nengah mendekat, raut muka kesal.
"Kamu tidak punya sopan santun !"
Putu masih diposisi duduk, "Sopan santu sama siapa ?"
"Bicara sama orang tua tidak bisa lembut !"