Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #11

Perahu Diantara Ombak

Sudah dua tahun berlalu, tempat yang dulunya gubuk kini sudah menjadi rumah. Walau tidak sebagus punya tetangga, tepai cukup layak untuk di tinggali. Terlebih tebing yang dianggap berbahaya telah menjadi surga.

Tempat yang dulunya lebih pantas menjadi pembuangan sampah, berubah menjadi tempat tinggal. Bahkan ada yang memuji, tempat itu mirip vila yang punya view yang estetik.

Tetapi Putu tidak pernah merasa bangga, karena sebuah penyadaran yang selalu dijaga.

Disaluran irigasi, dimana semua orang mencuci pakaian, salah satu ibu memulai bicara.

"Putu, sekarang gubuk yang dulu bisa jadi rumah", puji perempuan tiga puluhan, bertubuh agak gemuk

Putu berhenti dari menyikat, "Ya itu berkat Nengah, aku ini apa"

"Tapi selama ini kamu dan bli Nengah saja yang kerja, itu juga mikikmu"

Melirik datar, "Sekalipun aku ikut, tapi apa akan terdata, yang jelas itu bagian warisnya Nengah"

"Kamu kan istri dia juga, kamu berhak lho Tu"

Menghela nafas, "Tidak sama sekali, aku ini cuma siri bukan sah, bahkan anak yang aku lahirkan sendiri bisa diakui, aku tidak tercatat sah secara negara"

Ucapan itu tidak bisa dibantah, secara tidak sengaja istri sah Nengah mendengar. Karena sudah usai mencuci segera ia pergi, tanpa hirau lagi sekitar.

Ketika setengah jalan ia mendengar suara madunya. Dibalik tanaman pisang tetangga ia menguping.

"Kakak dengar semua tadi ?"

"Ya"

"Sepertinya putu tidak seburuk yang kita ketahui"

"Ya aku tahu, tapi kita tidak bisa menghindari Kem, dia biang rumor ditempat kita"

"Jadi, apa kakak tidak benci dia ?"

"Membencinya? Tidak, aku hanya kasihan padanya, harusnya dia dapat yang lebih baik, semua tahu Nengah itu seperti apa"

Putu baru menyadari, tatapan dan lirikan madunya itu, tanda simpati bukan benci. Ternyata selama ini yang membuat dia terkesan jahat, hanyalah rumor dan sumbernya dari Kem si ipar.

"Jadi begitu, raut wajah seperti menahan marah, pasti karena tekanan dari Nengah", dalam hati

Sambil terus berjalan menenteng ember cat isi dua puluh kilo yang nyaris penuh menuju area rumah. Berpikir sambil menjemur, bahkan panggilan dari Niluh tidak terdengar.

"Jadi selama ini dikerecokin ternyata, pantas yang sampai kayak ombak, yang mengombang ambing kapal layar-"

"Sumbernya dari Kem, aku harus hati-hati terlebih dia punya mata-mata juga, dasar ember pecah!"

Gerutu hati Putu hingga tidak sadar menarik jemuran yang dari bambu hingga patah.

"Kok dirusak me?"

Ucapan balita itu mengalihkan perhatiannya, melongo satu-satunya tempat jemuran telah dirusak. Secepat mungkin mencari pengganti, yang ditemui hanya cabang bambu yang lapuk.

"Mampus, mana cucian ini banyak dan berat, aduh..."

Nengah datang dari arah sawah, melihat kondisi jemuran yang telah patah.

"Kenapa patah?"

Putu enggan menjawab, secara polos Niluh mengatakan yang terjadi.

"Meme yang patahin, tadi bengong dia"

"Besar tenaga meme kamu ini, Luh"

Sindiran itu cukup mengesalkan, kalin ini putu tidak bisa protes walau dalam hati.

Nengah segera mengambil gergaji, mengganti galah bambu yang rusak. Tanpa kata ia mengikatnya kembali agar kuat untuk seember pakaian basah itu.

Lihat selengkapnya