Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #12

Kejutan Dunia

Hari-hari yang dilalui berlangsung biasa, kerja proyek juga sepi banyak tukang yang libur. Kegiatan kali ini Nengah jadi seles, COD, yang pesan produk dengannya. Dalam kondisi seperti itu Putu tidak bisa berdiam diri, ada hal lain yang bisa dilakukan untuk menghasilkan uang.

Bulan ini musim berangin, daun-daun kelapa kering berjatuhan, kelapa juga tidak luput. Ini kesempatan bagi Putu untuk membuka usaha baru, dengan sedikit modal. Dengan hasil lumayan, ia menitipkan Niluh di tetangga, sedangkan ia mengumpulkan pelepah kelapa dari berbagai tempat.

Sedang tengah fokus, beberapa senti saja kelapa berukuran besar jatuh. Ia terkesiap, melihat yang jatuh, lalu menatap atas, ada berapa kelapa dalam satu tangkai. Angin berhembus lebih kencang, merontokkan beberapa pelepah kelapa beserta setangkai kepala tua.

Lalu ia sedikit menghindar, jantung berdegup kencang, "Untung saja", batinya, mengelus dada.

Senyum lebar terlihat, "Bagus, ini keberuntungan, tidak usah susah metik, alam sudah memetikkan langsung untukku"

Dibalik petaka yang hampir mencelakai itu, malah memberikannya keuntungan. Ia mensyukuri yang didapatnya saat itu, secepat mungkin ia membawa itu secara bertahap mulai dari buah kelapa tua itu.

Namun dari sisi lahan lain ada yang tidak senang, Sorang perempuan tua. Terlihat jelas dari kerutannya sudah lewat dari enam puluh tahun.

"Pendatang, beraninya kau ditempat ini!"

Putu melintas lagi, melewati tempat yang sama, tidak sadar sebuah batang berduri tajam. Itu menusuk sandal yang beralas tebal, hingga menebus telapak kaki.

Langkah terhenti, sandal yang tertusuk duri dibalik, "Oh, duri"

Putu terdiam, berpikir, duri semacam itu tidak ada diarea itu. Dari kejauhan ia melihat oggokan batang berduri.

"Oh, rupanya ini sengaja, orang iri itu apa si Kem? Tapi si Kem masa bodo dengan daun kelapa kayak gini", pikir Putu

Terperangah sebentar, melihat sekeliling, terlihat perempuan tua itu. Terlihat ia pura-pura merapikan kayu bakar, Putu kembali membawa pelepah kelapa itu.

Putu mengintip dari balik semak, ternyata perempuan tua itu yang sengaja menambah batang berduri. Perempuan tua itu adalah istri dari paman Nengah.

"Sudah dapat di tebak, orang satu ini benar-benar dengki! Bukan dilahan dia aku ngambil, bagian lahan Nengah kok iri? Orang tua payah!"

Putu berdiam diri, kelapa kering jatuh menimpa kepala orang tua itu. Tengkurap, kepala pening oleh timpaan kelapa itu, segera Putu pergi kesisi lain. Dengan gerak cepat menyeret pelepah kelapa, mengabaikan orang yang berniat tidak baik itu.

"Sikap ini benar atau tidak, bodo amat! Orang jahat memang pantas dihatam sama semesta pakai kelapa, biar setelah ini isi kepalanya bisa bersih", tertawa jahat

Sore itu keadaan lingkungan tempat tinggal itu sudah rapi dan bersih, daun kelapa kering yang sudah dipisah dari pelepahnya terikat rapi. Dan potongan pelepah sudah presisi, diposisikan sebagian didekat tungku.

Tetapi raut wajah Nengah menyatakan ketidak sukaan, terlebih ia sempat berhenti cukup lama di area irigasi. Putu menangkap sesuatu yang kurang beres, namun belum tahu isi spesifiknya.

Menatap tajam Putu, "Kamu memang tidak punya hati!"

Berraut datar, "Dibagian mana aku tidak berperasaan?"

"Kamu hanya mementingkan diri sendiri!"

"Jatah makan malam belum aku sentuh, dimananya aku mementingkan diri sendiri?"

"Berpura-pura kamu!"

Menghela nafas, "Sepertinya otakmu sudah keracunan omongan sampah, nangkring sebentar di irigasi, untuk menampung kalimat-kalimat sampah"

Nengah melayangkan pukulan, seketika ditangkis, itu cukup menyakitkan terlebih ukuran tangan Nengah yang lebih besar.

"Berani sekali kamu, tidak terima disalahkan!"

"Siapa yang terima dipukul gegara masalah tidak jelas"

"Kamu tidak perduli orang tua, bibiku kejatuhan kelapa kamu tidak tolong!"

Putu berdalih, "Kok aku, memang lihat ketimpa, fokus bawa pelepah kelapa"

"Dasarctidak perduli lingkungan!"

"Buat apa perduli, itu karma, sudah banyak orang jadi korban disini, itu peringatan dari alam"

Lihat selengkapnya