Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #13

Sandaran Dan Tamparan

Sejak diagnosis itu Putu tidak disuruh melakukan kegiatan berat, hamil muda yang rentan. Terlihat santai santaian, yang tidak suka kini punya alasan kuat untuk menyalahkan Putu.

Menjelang sore saat itu, Nengah yang mengangkut air, sedangkan Putu berendam. Saat itu iparnya Kem datang, dengan kegiatan biasa mencuci banyak.

Datang juga madunya Putu, Luh bersama anaknya yang paling bungsu Ketut.

Menyapa, "Eh Ketut... Jadi ikutan nyusul"

Bocah itu nyengir sebentar, seperti malas untuk membalas.

"Mbok Luh, ikut nyuci juga"

"Ya, memang ngapain kesini?", nada suara tinggi

"Bli Nengah dong suruh bantu, kan tidak capek"

"Dia sudah ngurus yang lain", nada suara masih sama

"Ya, kita sama mbok, suami sibuk dengan urusan lain, mengabaikan kita"

Mendengar itu Putu sangat paham mereka tengah menyindirnya, dia cuek saja. Datanglah satu orang lagi, perempuan bertubuh gembuk dengan kulit putih seperti keturunan China.

Melirik, "Paket lengkap, it's show time...", batin Putu

Mereka berdua mulai memanas-manasi Luh agar timbul pertengkaran. Perempuan yang gemuk putih itu mulai dengan sindiran pedas, sebut saja dia Ku Mat.

"Air di irigasi ini sejuk, kok berasa ada hawa panas ya?, kata halus tetapi menusuk

"Ya benar mbok, ada hawa panas, ini tidak bisa diademin pakai air", ucap Kem

Putu bergegas membersihkan diri dengan sabun.

"Disabunin berapa kali juga tetap kotor", ucap Ku Mat

"Benar mbok, tapi bersih sih pakai sabun kalau badan, kelakuan mana bisa bersih pakai sabun", ucap Kem

Mereka berdua tertawa, Luh terlihat menahan emosi, Putu sempat menoleh. Raut itu terlihat menakutkan, ia pura-pura tidak lihat. Segera menyelesaikan kegiatan mandi, mengganti pakaian dan mencuci pakaian basahnya, lalu meninggalkan tempat itu.

Nengah telah menanti di terasa rumah, menatapnya sinis, Putu abai. Ia menaruh peralatan mandi dan menjemurvpakain basah yang ia bawa.

Kembali teras, tatapan itu makin jelas tertuju padanya, Putu memandang, raut datar.

"Dasar tidak tahu malu!"

"Hal memalukan apa lagi yang aku buat?"

"Kamu sudah mempermalukan aku!"

"Kapan..."

"Di irigasi! Harusnya kau pergi dari sana!"

Putu berpikir, "Ini kenapa lagi orangnya? Cuma berendam kok masalah, apa dia dengar ucapan dua profokator itu"

Buang muka sebentar, "Aku cuma berendam, apanya yang memalukan?"

"Kamu sudah menyinggung Luh, kakakmu itu"

Mengingat kembali, tidak ada kata yang keluar, hanya menatap tajam tidak jelas.

"Terus dimana bisa berendam gratis, cuma di irigasi!"

"Itu yang tidak tahu malu, sudah tahu mereka datang masih bertahan disana"

Di kondisi seperti itu, Putu serba tidak benar, untuk perawatan diri yang sederhana saja susah. Sudah difase itu Putu tidak lanjut menjelaskan, hanya akan buat ribut.

Segera ia masuk kekamar dan rebahan ditempat tidur.

"Lari dari kenyataan!"

Kata-kata itu menyebalkan, tetapi tidak ditanggapi, muka kecut dalam pembaringan.

Suara langkah Nengah terdengar masuk, spekulasi pikiran muncul di benak Putu.

Lihat selengkapnya