Hidup Putu setelah punya bayi tidak perlu kerja lagi, tetapi beberapa minggu setelah lahiran, terjadi sesuatu. Tidak ada satu mahluk, terutama manusia, di planet bumi yang tidak kena.
Penyakit yang merebak yang disebut Pademi, Pedemi Covid 19. Seluruh proyek besar terhenti, beruntungnya proyek Nengah tidak kena. Proyek pribadi yang hanya ada beberapa orang pekerja.
"Akhirnya semua juga dapat merasakan seperti aku, dirumahkan," batin Putu.
Keluhan sering didengar, mereka harus kemana-mana pakai masker, tidak ada proyek besar. Cukup jelas, karena tinggal di bantaran irigasi, tidak perlu keluar untuk dengar informasi dan gosip.
"Tapi kenapa aku tidak merasa susah, atau kepikiran, mungkin benar aku ini bebal, seperti yang Nengah sering bilang," batin Putu
Tidak ada cerita yang begitu menari selama sepuluh bulan. Kegiatan rumah tangga dan mengurus anak, detil yang kurang perlu di ceritakan.
Hingga sebuah pertanyaan muncul, dari seorang ibu, usia empat puluhan. Perempuan berambut pendek, tubuh agak gemuk, kulit sawo matang.
"Tu, berapa umur anakmu sekarang?"
"Mau enam tahun, memang kenapa?"
"Berarti, tahun ajaran baru ini, sekolah SD?!"
"Entahlah, surat-surat belum diurus"
"Kok belum? Ini sudah mau sekolah, apa-apa perlu KK dan Akte"
"Tahu, tapi entah dengan suamiku"
"Tu, aku kasih tahu ya! Sekolah itu penting, kamu tahu kan, tidak ada yang tidak sekolah di zaman ini"
"Ya, biar coba aku bicarakan ini sama dia"
Putu lebih dulu pergi, cuciannya sudah beres, meninggalkan ibu itu. Setibanya di pekarangan, terdengar suara motor Nengah, terhenti didekat irigasi.
"Pasti dia menanyakan masalah tadi ke Nengah," batin Putu, sambil menjemur
Bersama dengan selesainya menjemur, Nengah juga sudah ada di pekarangan. Raut sinis memangang Putu, entah kenapa tatapan itu kali ini membuatnya eneg.
" Kenapa menatap aku begitu?"
"Memang kenapa?"
"Seperti biasa, jika kamu sempat berhenti di irigasi, muka sinis selalu tertuju kepadaku"
"Oh, jeli juga ya"
"Omongan apa lagi yang kamu tampung?"
"Mulutmu tidak bisa di suruh diam, apa susahnya bilang sudah!"
"Aku mengatakan fakta, apa itu salah?"
"Salah! Urusan kita orang lain gak usah tahu"
"Baiklah, kalau ada yang tanya lari saja, biar tidak ditanya lagi"
"Itu kekanak kanakan!"
"Terus harus apa? Diam di rumah, terus nyuci sama ambil air itu kamu mau? Pasti tidak! Harga diri dong"
"Kamu menghinaku!"
"Isi otakmu itu apaan sih, ini salah, itu salah. Dasar aneh!" lalu pergi ke dalam
Saat Nengah mencoba bertindak kasar, bayinya bangun, niat melampiaskan kekesalan urung. Niluh yang melihat menarik nafas lega.
"Untung gak jadi, kasihan meme, selalu salah," ucapnya setengah berbisik
Keberuntungan tidak bisa sering terjadi, keberuntungan hanya sesekali waktu. Waktu yang memberi ketentuan, seperti sesuatu yang dialami oleh Putu.
Setiap malam anak keduanya yang masih belum setahun itu, selalu menangis. Itu menganggu waktu tidur Nengah.